ramon84.net
CERITA MAKCIAT
HP Pembawa Nikmat

Kisahku kali ini terjadi pada
awal bulan Mei tahun ini. Saat
itu aku mendapatkan gangguan
pada Handphone-ku, karena
terjatuh ke dalam air ketika
aku sedang menjalani
perawatan Spa. Sekretarisku di
kantor menyarankan untuk
menservisnya pada tempat
servis resminya. Karena HP-ku
adalah merek tertentu, di mana
tempat servis resminya hanya
ada 3 tempat di kota Kembang
ini, maka aku membawanya ke
salah satu servis resminya yang
terdapat pada salah satu pusat
perbelanjaan di daerah pusat
kota Bandung.
Jumat sore itu sepulang dari
kantor, aku membawa mobilku
meluncur ke arah pusat kota,
lalu setelah terjebak beberapa
saat dalam kemacetan,
akhirnya aku berhasil
mendapatkan tempat parkir di
pusat perbelanjaan itu. Tak
beberapa lama, aku telah
berhasil menemukan tempat
servis HP itu. Aku segera masuk
ke ruangan ber-AC, dan
langsung disambut dengan
senyum manis seorang cowok.
"Ada yang bisa saya bantu,
Mbak?" katanya sopan.
"Ini nih Mas, HP saya terjatuh
dalam air kemarin, terus jadinya
mati, bisa diperbaiki
nggak.."'tanyaku, sambil
menyodorkan HP itu padanya.
"Sebentar ya Mbak, biar teknisi
kami yang mengeceknya."
Dia berlalu ke dalam ruangan
lain. Lalu tak lama kemudian dia
muncul lagi dan berkata bahwa
HP-ku bisa diservis, dia
menyebutkan juga biaya
servisnya. Aku menyetujuinya.
"Kira-kira masih lama nggak Mas
servisnya?" tanyaku.
"Mungkin sekitar satu jam lah",
jawabnya.
"Ya udah deh, saya tinggal
jalan-jalan dulu saja kali yaa..?"
kataku lagi.
"Silakan.. Mbak", balasnya.
Aku lalu pergi melihat baju-baju
di etalase toko, hingga tiba-tiba
kurasakan perutku minta diisi,
ternyata aku sadar bahwa aku
belum sempat lunch tadi di
kantor. Aku bergegas ke lantai
atas pusat perbelanjaan itu, di
mana terdapat Food Court. Aku
memutuskan untuk masuk pada
salah satu restoran fast food
yang menyediakan masakan
khas Jepang.
Saat aku mengantri, tiba-tiba
ada suara menyapaku dari
belakang.
"Wah.. mau makan juga Mbak?"
aku menoleh, dan ternyata
cowok yang tadi di tempat
servis HP.
"Eh iya, gimana HP saya sudah
selesai belum?" tanyaku.
"Nanti deh selesai makan paling
juga sudah selesai.. Boleh saya
temani makan?"
"Wah, berani juga nih cowok",
kataku dalam hati.
"Mmm.. boleh deh", jawabku
pendek.
Kemudian kami mengambil
tempat duduk dan mulai
menyantap hidangan. Dalam hati
kuamati dia, menurutku dia
anak yang menyenangkan,
tidak terlalu tinggi, bahkan bisa
dibilang kurus, tapi ada sisi
yang menarik. Apalagi setelah
aku terlibat obrolan dengannya,
aku makin menyadari bahwa dia
adalah seorang yang hangat,
humoris, dan selalu nyambung
dalam pembicaraan. Hingga aku
berinisiatif untuk melangkah
lebih jauh.
Aku lalu bertanya, "Kamu kapan
liburnya?"
"Wah kenapa nih nanya
liburku?" dia mengangkat alis,
dan tersenyum simpul.
"Yaa.. kalau kamu mau sih, aku
pingin ajak kamu jalan nanti
malam, sekalian kita weekend
lah", tawarku.
"Wuah, serius nih..?" dengan
nada tak percaya.
"Aku bisa minta ijin dua hari
buat besok dan hari Minggunya,
tapi ngomong-ngomong kamu
mau ajak aku jalan ke mana?"
dia masih kelihatan tidak
percaya.
"Udah deh, nggak perlu nanya-
nanya, lihat aja nanti.." aku
membuatnya penasaran.
Lalu setelah sepakat bertemu di
suatu tempat nanti malam, aku
segera kembali ke tempat dia
kerja untuk mengambil HP-ku
yang telah selesai diservis, dan
segera pergi sambil menyusun
acara buat berdua.
Aku membawa mobilku ke arah
Dago atas, menuju ke sebuah
hotel bintang lima dan mem-
booking kamar untuk tiga
malam selama weekend,
kemudian segera pulang ke
rumah untuk mengambil baju
dan keperluan sekedarnya.
Sekitar jam 11 malam, aku pergi
menemuinya di sebuah Caf?
yang terletak di persimpangan
lima jalan besar, yang nama
Cafe-nya selalu mengingatkanku
pada salah satu posisi bercinta.
Malam itu dia mengenakan
kemeja biru gelap, dan tercium
olehku wangi Tommy Hilfiger
dari tubuhnya, dia makin
terlihat tampan, dengan rambut
basah yang tersisir rapi ke
belakang.
"Hai, sudah lama kamu di sini?"
aku menyapanya pelan.
"Enggak juga kok", dia terdiam
sejenak, memandangiku lama.
"Kenapa sih, kayak lihat
makhluk aneh saja..!" aku
merasa jengah dipandangi
seperti itu.
Tiba-tiba dia menarik lenganku,
dan berbisik di telingaku, "Kamu
cantik sekali malam ini Dini..
mimpi apa aku hingga bisa
kencan dengan bidadari dari
kayangan sepertimu?".
Wajahku bersemu merah
mendengar pujiannya, "Kamu
berlebihan deh, biasa aja
kenapa sih." aku segera
mengalihkan perhatian dengan
memesan Black Russian pada
waiter yang kebetulan lewat di
dekat kami duduk.
Lalu tak lama kami telah
terlibat dalam obrolan yang
menyenangkan, kadang diselingi
dengan humor segar, dia
sangat pintar menciptakan
suasana yang hangat. Aku jadi
tahu bahwa dia adalah lulusan
sebuah sekolah pariwisata yang
terkenal di Bali, dan sempat
tinggal di Amerika selama dua
tahun, tidak heran wawasannya
begitu luas.
"Jadi kerjaan kamu yang
sekarang, nggak ada
nyambung-nyambungnya sama
background pendidikan kamu
dong?"
"Iya sih, ha.. ha.." dia tertawa
renyah.
Aku mengeluarkan cigarette
pack, mengambil sebatang
Capri, belum sempat aku
menyalakan, dia berinisiatif
mengangsurkan api buat
rokokku.
"Thank", kataku pendek.
"Hmm, perhatian juga.." batinku.
"Mau cabut sekarang?"
tawarku.
Dia memandang sekeliling, "Mmm,
ayolah.. eh tapi ke mana?"
' "Ke hotel S**** (edited), mau
nggak?" tawarku.
"Oh.. eh", dia terbelalak, seakan
tidak mempercayai apa yang
baru saja di dengarnya.
"Tawaran nggak datang dua
kali lho.." aku kedipkan mata.
"Ayolah", akhirnya setelah
beberapa saat dia jawab juga
dengan wajah berbinar.
Kupikir aku akan
menyumpahinya kalau sampai
dia menolak ajakanku,
barangkali aku akan bilang
bahwa dia adalah laki-laki paling
tolol di seluruh dunia, atau
barangkali seorang gay, tapi
ternyata tawaranku yang
menang. Aku senang.
Kemudian kami berlalu dari
tempat itu, mobil langsung
kubawa ke arah Dago atas, dan
langsung menuju Hotel S****
(edited). Sesampainya di kamar,
kuletakkan travel bag kecilku,
lalu aku ke bathroom untuk
bebersih sebentar. Dia
menghempaskan pantatnya
pada pinggiran bed, dan meraih
remote TV, menyalakannya. Dari
bathroom kudengar sayup-
sayup suara musik.
Saat aku masih sibuk dengan
contact lens-ku, tiba-tiba pintu
bathroom diketuk pelan dari
luar. "Din.. boleh aku masuk
bentar, mau pipis nih.." Aku
tersenyum, lalu meraih handel
pintu, begitu pintu terbuka
sedikit, ternyata dia langsung
menerobos masuk dan yang
membuatku terkejut, dia sudah
tidak mengenakan selembar
benang pun. Telanjang bulat. Dia
langsung mendekapku, dan
dengan sekali renggut, handuk
yang kupakai untuk menutupi
tubuhku terlepas sudah, jatuh
ke lantai. Bibirnya langsung
menyambar bibirku, kurasakan
lidahnya menjelajahi rongga
mulutku dengan penuh nafsu,
aku pun membalasnya dengan
tak kalah bernafsunya, kadang
lidahnya kuhisap, kujilat dan
saling memilin. Kurasakan
kewanitaanku mulai hangat.
Ciumannya mulai menjelajah,
dari mulai leherku yang jenjang,
lalu beralih ke arah telinga,
kurasakan geli luar biasa
menjalari sekujur tubuhku. Aku
makin terangsang.
Tangannya juga beraksi
meremas-remas payudaraku,
sambil tak lupa memilin-pilin
putingnya, yang makin
mengacung keras karena
terangsang, satu tangannya
lagi menelusup pada pangkal
pahaku, mengusap-usap bukit
lembut yang kenyal yang mulai
basah oleh cairan
kewanitaanku. Aku tak tinggal
diam, tanganku meremas-remas
batang kejantanannya yang
mulai tegang dan keras itu,
sambil perlahan aku
mengurutnya lembut. Dia
menikmatinya, terdengar
lenguhan-lenguhan pendek dari
mulut kami.
"Ouhh.. mmhh.. yahh.."
"Suka Sayang?" desahnya
lembut.
"Hmm.. hh.." aku tak mampu
menjawabnya, hanya
mengangguk pelan, mataku pun
telah sayu. Ciumannya makin
mengganas, kali ini kedua puting
payudaraku dihisapnya
bergantian, hingga tubuhku
serasa dibakar birahi yang
panas. "Auuhh.. oohh.. Sayang..
oohh.. sshh.. ahh.." aku
mengerang-erang penuh
kenikmatan. Tangannya mulai
beraksi menyibakkan
rerumputan halus di
kewanitaanku, lalu satu jarinya
menelusup masuk ke dalam
rongga hangatnya, hingga
menemukan tonjolan daging
kecil, dan segera mengusap-
usapnya lembut. Aku
menggelinjang-gelinjang
kenikmatan. Kewanitaanku
kurasakan makin merah,
merekah, licin dan basah oleh
lendir yang makin keluar seiring
oleh rangsangan yang kuterima.
Kemudian dia membimbingku
menuju tempat tidur, lalu
menyuruhku telentang sambil
membuka pahaku lebar-lebar,
rupanya dia akan memberiku
oral seks. Aku pun segera
menuruti perintahnya, kubuka
pahaku lebar-lebar, dia lalu
merangkak dan mulai
menempatkan mulutnya pada
pangkal pahaku, kemudian
kurasakan lidahnya yang
hangat menyapu kewanitaanku,
lalu menelusup ke bagian
dalamnya, sambil sesekali
menghisapnya, menimbulkan
suara-suara kecil yang lucu,
begitu hebat rangsangan yang
kuterima dari perlakuannya
padaku. Aku makin gila
menggelinjang-gelinjang penuh
kenikmatan, belakang
kepalanya kupegangi erat-erat
dan menyurukkannya makin
dalam pada pangkal pahaku.
Aku ingin dia melumat habis
kewanitaanku. Kurasakan
kewanitaanku makin basah oleh
cairan lendir hangat bercampur
liur miliknya, kadang dia malah
menghisap-hisap tonjolan daging
kecil sebesar biji kacang polong
dalam kewanitaanku,
membuatku makin mengerang-
erang dengan penuh
kenikmatan, kurasakan sensasi
yang luar biasa hebat, seakan-
akan ada hawa panas yang
berpangkal dari kewanitaanku
menjalari seluruh syaraf
tubuhku.
Aku bermandikan keringat, dan
mendesah-desah memohon
padanya untuk segera
menghujamkan batang
kejantanannya pada lubang
kewanitaanku. "Oohh.. Sayang..
please.. sekarang.. uuhh.. mmhh.."
mataku terpejam rapat.
"Sebentar", akhirnya dia
beranjak, lalu menempatkan
ujung kepala batang
kejantanannya pada bibir
kewanitaanku, aku
membantunya dengan
menggenggamnya dan
mengarahkannya perlahan
memasuki lubang senggamaku
yang hangat dan licin. "Sreett..
sreett.." terasa agak susah,
karena batang milliknya
lumayan besar dan panjang.
"Wah agak susah yaa..?" dia
tersenyum, memandangku. Aku
berinisiatif untuk membantunya,
dengan berbalik dan langsung
kupegang batang
kejantanannya,
mengarahkannya pada mulut
mungilku, lalu langsung kujilati,
kuhisap dan kubasahi dengan
liurku. Mulutku terasa penuh
menampung kejantanannya,
kemudian aku mulai mengeluar-
masukkannya pada mulutku,
sambil sesekali menghisapnya,
hingga kedua pipiku terlihat
kempot, saking bernafsunya.
Tubuhnya bergetar hebat
menerima perlakuan lidahku
pada kejantanannya, dia
mendesah-desah, "Ooohh.. Din..
aauuhh.. ennakk.. egghh.. ouhh..
mm.." Batang kejantanannya
keluar masuk dalam mulut
mungilku, hingga terlihat
mengkilap karena air liurku.
Setelah kurasa cukup, aku
menyuruhnya untuk segera
memasukannya pada lubang
kewanitaanku, yang sudah
tidak sabar lagi menanti untuk
diterobosnya. "Sekarang.. Say,
ahh", aku memohon pendek.
Dia mengarahkan lagi batang
kejantanannya pada mulut
kewanitaanku, lalu menekannya
sedikit demi sedikit, "Srett..
sreett.." kali ini terasa agak
lebih mudah, aku membantunya
dengan menjepitkan kedua
kakiku pada pinggangnya,
kemudian setelah sekitar
sepertiga bagian batang itu
masuk, dia tiba-tiba
menghujamkannya keras-keras.
"Auuhh.. oouuhh.. iyahh.. yahh..
sshh.. hh.." aku berseru pendek
saat kurasakan batang itu
masuk menyungkal dalam-dalam
pada kewanitaanku.
Dia lalu menggoyang-goyangkan
pinggangnya maju-mundur,
menghajar lubang kewanitaanku
dengan kejantanannya. Aku
merasakan kenikmatan luar
biasa berpangkal pada lubang
kewanitaanku, hingga makin
banyak cairan bening yang
hangat, berbau khas keluar
dari kewanitaanku. Aku
mengimbanginya dengan ikut
bergoyang seirama hujaman
tubuhnya kadang kuputar-
putar pantatku hingga
batangnya makin terjepit erat
dalam kewanitaanku. Berdua
kami mengerang-erang
terbakar birahi. "Auuhh.. oohh..
iiyaahh.. yaahh.. yahh.. sshh.. uh..
uh.. oouuww!"
Tiba-tiba bibirnya melumat
bibirku dengan liarnya, lidah
kami beradu saling jilat, saling
hisap dengan rakusnya,
beberapa saat kemudian
mulutnya segera berpindah
pada kedua puting payudaraku,
memberinya gigitan-gigitan
kecil, sementara kejantanannya
masih dengan buasnya
menghajar lubang
kewanitaanku. Aku benar-benar
merasakan nafsu yang begitu
panas membara. Hingga
akhirnya aku mencapai puncak,
aku menjerit kecil, "Auuhh..
ouhh.. ouuw.. aku.. auuhh.. aahh..
hh.!" kurasakan seluruh
persendian tubuhku berlolosan,
tubuhku yang bermandi
keringat bergetar dengan
hebatnya, dua tanganku
mencakar-cakar punggungnya,
saat itu kurasakan sesuatu
meledak dari dalam tubuhku
dan memberikan sensasi hebat
ke seluruh saraf tubuhku,
kurasakan sangat ringan sekali
dan nikmat tiada tara, serasa
terbang ke nirwana, aku
orgasme dengan sempurna.
Dia sendiri belum selesai, dia
menghentikan genjotannya
pada kewanitaanku,
memberikan kesempatan
padaku untuk menikmati sensasi
orgasme, setelah dirasanya
cukup, tanpa mencabutnya
dahulu, dia langsung mulai lagi
meningkatkan goyangannya.
Batangannya mulai lagi keluar
masuk dalam liang
kewanitaanku, kurasakan lagi
kenikmatan yang luar biasa
akan hal itu. Kupandangi dalam-
dalam wajahnya yang diliputi
nafsu membara, seakan-akan
kami berbicara dengan
tindakan, bukannya dengan
kata-kata.
Hingga akhirnya dia merasa
tidak kuat lagi, dan sebelum
benteng pertahanannya jebol,
aku segera beranjak meraih
batang kejantanannya yang
amat tegang hingga urat-
uratnya bertonjolan, yang
mengkilat basah oleh cairan
kewanitaanku, dan segera saja
aku mengulumnya lagi,
menghisapnya kuat-kuat,
kemudian, "Auuhh.. oohh.. Diinn..
sshh.. hh.."' erangnya.
Kurasakan cairan hangat dan
kental muncrat deras memenuhi
rongga mulutku, begitu banyak
hingga berleleran pada bibirku,
aku segera menelannya dengan
rakus seakan-akan haus akan
lendir itu, menghisapnya hingga
tetes terakhir. Aku puas sekali.
Tubuhnya menggelosoh pelan di
samping tubuhku, basah oleh
keringat. Kamar itu hening,
suara TV sudah lama hilang,
sebagai gantinya hanya
terdengar dengusan nafas dua
manusia dewasa berlainan jenis
yang terkapar sehabis bercinta
dengan liarnya. Dia
memandangku dengan lembut,
lalu berbisik, "Terima kasih
Sayang, aku menikmatinya.." dia
mengecup keningku. Aku tidak
menjawab, hanya mengangguk
pelan dengan senyum kecil
menghiasi bibirku.
Setelah beberapa saat berlalu
dengan canda dan obrolan kecil,
kami mulai lagi bersiap-siap
untuk ronde berikutnya. Kali ini
aku mengambil alat bantu dari
travel bag yang kubawa, yaitu
batang vibrator plastik yang
digerakkan dengan tenaga
baterai, kuangsurkan barang
itu padanya. Dia sekali lagi
kaget, tidak menyangka kalau
aku menyuruhnya merangsang
dengan menggunakan vibrator
itu.
"Wah, kamu sering pakai ini
yah..?" dia tergelak kecil.
"Ah, banyak kok wanita yang
pakai, cuma mereka nggak
pernah bilang aja ke
pasangannya masing-masing.."
paparku.
"Iya gitu..?" dia masih terheran-
heran.
Aku tidak memberinya
kesempatan bertanya lebih
lanjut, aku segera
menubruknya dan melumat
bibirnya dengan penuh nafsu,
buah dadaku yang kenyal
menekan dadanya. Dia membalas
pagutanku. Kemudian aku
meraih batang vibrator itu dari
tangannya dan menyalakannya,
terdengar suara berdengung
pelan saat barang itu bergetar
perlahan. Dengan mulut masih
berpagutan erat, aku mencoba
menyelipkan vibrator itu pada
selangkanganku, getaran dari
alat itu membuat saraf-saraf
pada bukit kewanitaanku
terangsang kembali, hingga
kurasakan berdenyut-denyut
pelan, dan mulai menghangat
oleh cairan kewanitaanku.
Kemudian, kuberikan vibrator
itu padanya. Sementara itu
tubuhku telah ditelusuri oleh
jilatan lidah dan pagutan-
pagutan kecilnya, hingga
akhirnya kembali lagi mulutnya
telah berada di bibir
kewanitaanku. Kali ini dengan
vibrator yang menancap dalam-
dalam pada kewanitaanku,
lidahnya berusaha mencari
tonjolan daging kecil milikku.
Akhirnya berhasil juga dia
melakukan hal itu, dengan
mulutnya dia melumat habis
areal sekitar kewanitaanku,
tetapi tangannya juga beraksi
mengocok-kocok batang
vibrator itu keluar masuk liang
kewanitaanku, hingga dilumuri
lendir putih, licin, dan berbau
khas. Sebagian lendir lain yang
berubah menjadi busa karena
dikocok, meleleh keluar
kewanitaanku menuju lubang
anus. Tubuhku menggelepar-
gelepar merasakan rangsangan
yang sedemikian hebatnya. Aku
mengerang-erang penuh
kenikmatan. Keringat
membasahi sekujur tubuhku,
aku merasa geli luar biasa.
"Oohh.. oohh.. hess.. sshh..
Kugigit bibirku kuat-kuat
dengan mata terpejam,
menahan panasnya gelombang
birahi yang menjalari tubuhku.
Aku mulai tak tahan lagi. Tiba-
tiba kudengar perintahnya,
"Din, tolong kamu berbalik
tengkurap." Aku mengerti
maksudnya, maka dengan
vibrator masih menancap pada
lubang kewanitaanku, aku
berbalik, lalu menunggingkan
pantatku yang mengkilap
karena keringat.
Kemudian dia mengambil posisi
tepat di belakangku, lalu
kurasakan lidahnya menjilat-jilat
areal sekitar lubang anusku,
dibarengi dengan ibu jarinya
yang mencoba diselipkan
keluar-masuk pada lubangnya.
Akhirnya dia berdiri
mengangkangiku, lalu
menggengam batang
kejantanannya mencoba
menusuk lubang anusku dengan
pelahan. "Sreett.. sreett.." agak
terasa susah pada awalnya,
tetapi karena telah dilumuri
oleh ludah dan sebagian cairan
lendir kewanitaanku, maka
pelan-pelan batang
kejantanannya melesak masuk
pada lubang pantatku.
"Auusshh.. sstthh.. sshh.. egg..
ouhh.. oh.." aku makin
merasakan rangsangan yang
luar biasa hebat saat dia mulai
menggoyangkan pinggangnya,
menghajar lubang anusku
dengan batang kejantanannya,
sementara itu juga vibrator
yang masih bergetar menancap
pada lubang kewanitaanku,
kukocok-kocok dengan sebelah
tanganku. Dua batang
menghajar dua lubang pada
tubuh bagian bawahku. Maka
makin deraslah lendir yang
keluar dari kewanitaanku,
makin hangat, dan sensasi yang
ditimbulkan juga luar biasa
hebat. Aku makin tak tahan lagi.
"Aaarrgghh.. aahh.. oohh.. hhss..
sshh..!" aku berteriak-teriak
penuh kenikmatan, rambutku
telah acak-acakan. Tubuhku
makin menggelinjang-gelinjang
tak karuan. Pinggangku
dipegangnya, hingga
memudahkannya menghajar
lubang pantatku. Dua batang
itu bergantian membongkar
lubang kewanitaan, dan lubang
anusku, hingga kurasakan
tubuhku bergetar dengan
hebatnya. "Ohh.. yaah.. akkh..
aku.. kelluuarrh.. oohhs.. ssh.."
aku mengalami orgasme dengan
hebatnya, kurasakan lagi
sesuatu meledak menjalari
seluruh saraf tubuhku, tak lama
kemudian dia pun mengerang-
erang juga, "Oohh Din.. oouhh..
aku.. juga mau.. mau.." belum
sempat dia menyelesaikan kata-
katanya, dia segera mencabut
batang kejantanannya, lalu
dengan tergesa dia cabut pula
vibrator pada kewanitaanku,
menggantikannya dengan
menghujamkan dalam-dalam
batang kejantanannya sendiri
ke lubang kewanitaanku, lalu
sepersekian detik kemudian
dinding-dinding rongga
kewanitaanku merasakan
semprotan lendir hangat
dengan derasnya memenuhi
lubang kewanitaanku yang
berdenyut-denyut merah
merekah, licin dan basah. Lendir
putih hangat, kental itu sampai
berleleran keluar di mulut bukit
empuk milikku, bercampur
dengan cairan kewanitaanku.
Akhirnya malam itu kami
bertempur habis-habisan, aku
sendiri sampai merasakan
orgasme tujuh kali berturut-
turut. Benar-benar malam yang
panas dan liar. Begitu juga
malam-malam berikutnya, kami
selalu bercinta, mencoba
berbagai macam gaya, hingga
akhirnya tak terasa weekend
telah habis dan aku harus
kembali bekerja esok harinya.
Aku sangat puas memperoleh
lawan yang seimbang, yang
begitu mengerti bagaimana seni
bercinta di tempat tidur, dan
bagaimana memperlakukan
wanita dengan penuh
kelembutan dan kematangan
emosi.
Untuk rekan-rekan pembaca
pria, mohon maaf kalau saya
tidak pernah menanggapi e-mail
yang masuk, dan juga tolong
jangan kirimi saya gambar-
gambar pria bugil, karena saya
tidak berminat sama sekali
untuk menanggapi semuanya.
Terima kasih.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net