ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Darah Perawan

"Yah, kita terlambat deh, Yu."
keluh Dinda."Sudah lewat lima
menit nih", Ayu langsung
lunglai.Kuliah pertama hari ini
dosennya killer banget,
namanya Pak Sundjoto. ia
benar-benar takut sama Pak
Sundjoto. Namanya saja sudah
Sundjoto, bagaimana
senjatanya.
Finally, mereka harus bolos
kuliah. "tu lebih baik, daripada
mereka harus dihukum menyalin
tugas statistik tujuh kali."Ya
udah deh, aku mandi dulu. Kau
juga Din, nanti masuk angin"
kata Ayu sambil segera masuk
ke kamarnya dengan lemas.
Dinda benar-benar merasa
bersalah. Seharusnya ia tak
terlalu lama memilih-milih bra
tadi, tapi Dinda memang paling
senang pilih-pilih underwear.
Bisa dikategorikan bahwa Dinda
seorang kolektor underwear.
Akibatnya mereka harus
mengejar waktu menembus
hujan yang cukup deras, tapi
nyatanya tetap harus
terlambat. Untuk menebus
kesalahannya itu Dinda
memasakkan mie goreng untuk
Ayu. Ayu gemar banget sama
mie goreng, dan itu merupakan
senjatanya untuk meminta maaf
kepada Ayu.
Dinda tak peduli kedinginan.
Tanpa harus mandi dulu, ia
sudah menggorengkan mie
untuk Ayu. Lalu Dinda segera
membawa mie goreng "made in"
dirinya ke kamar Ayu. Ayu
kaget ketika Dinda tiba-tiba
masuk ke kamarnya begitu saja.
Pasalnya Ayu belum selesai
memakai bajunya. ia masih
bertelanjang dada. Untung
bagian paling sensitifnya sudah
EdiamankanE sebelum Dinda
masuk tadi.
Dinda juga tak kalah kagetnya.
ia sampai terbengong-bengong
memandangi pemandangan
indah yang terhampar di depan
matanya. Kedua bukit kembar
Ayu membusung di depannya.
Sekal membulat sedikit
berlebihan untuk tubuhnya
yang agak kurus. Kedua bola
mata Dinda yang bening nanar
memandangi kedua daging kecil
coklat kemerah-merahan yang
bertengger di kedua ujung
bukit kembar itu. Darah Dinda
bagai disiram air hujan, dingin
menggigil. ia terbayang
beberapa adegan blue film yang
pernah ditontonnya.
Hujan semakin deras di luar.
Petir mengelegar memekakkan
telinga. Dinda tersentak
mendengarnya."Ah, maaf Yu.
Aku tak sengaja. "ni mie goreng
untukmu. Makanlah selagi
hangat," kata Dinda sedikit
gugup.Diletakkannya sepiring
mie goreng itu di meja rias.
Dinda segera berbalik hendak
pergi tapi urung karena Ayu
memanggilnya.
"Din, aku masuk angin. Kamu
mau kerokin kan aku?" pinta
Ayu.Mulanya Dinda ingin
menolak. Dia takut birahinya
muncul dan salah tempat
karena Ayu dan Dinda sejenis.
Tapi melihat wajah memelas
Ayu, perasaan bersalah Dinda
kembali muncul. Bagaimanapun
juga Dinda yang menyebabkan
Ayu jadi masuk angin. Akhirnya
Dindapun bersedia menuruti
permintaan Ayu.
"Sebentar aku ambilkan
balsemnya," ujar Dinda segera
keluar kamar Ayu.Tapi ternyata
Ayu menyusul Dinda. Ayu berfikir
di kamar Dinda juga tidak apa-
apa, sama saja. Maka dengan
hanya mengenakan CD-nya Ayu
masuk ke kamar Dinda. Tentu
saja Ayu tidak perlu khawatir
karena mereka hanya berdua di
rumah itu saat ini.
"Disini saja, Din." kata Ayu
membuat Dinda terkejut tak
menyangka Ayu akan menyusul
ke kamarnya.Ayu
menelungkupkan badannya
diatas ranjang. Kemudian Dinda
duduk di tepi ranjang untuk
mulai mengerokin kulit
punggung Ayu. Tapi niat itu
urung dengan tiba-tiba. Jemari
Dinda menyentuh kulit
punggung Ayu sekilas. Kulit
punggung Ayu halus sekali.
Punggung Ayu yang agak
kecoklat-coklatan nampak
belang di bagian yang biasa
tertutup tali bra. Tanpa sadar
Dinda menyentuhkan jari
telunjuknya menyusuri bagian
punggung Ayu yang belang itu.
Dari punggung atas teruuss
menyamping. Ayu yang merasa
kegelian membalikkan badan.
Pada saat itulah tanpa sengaja
jari telunjuk Dinda menyentuh
payudara kiri Ayu.
"Kenapa, Din?" tanya Ayu
sedikit mengatupkan mata
menahan rasa merinding di
tubuhnya."Kulitmu halus
sekali."ujar Dinda dengan nafas
tersendat.Mata Dinda kembali
tertuju pada bukit kembar
yang terpampang di
depannya."Milikmu besar sekali."
lanjut Dinda."Kamu sudah
pernah ML (make love)
ya?""Siapa bilang? "ni
keturunan.", jawab Ayu sambil
sedikit mengangkat bukit
kirinya ke atas, bagaikan
menantang setiap tangan untuk
memegangnya.
Birahi Dinda yang mulai
terbakar dan imbas dari
kehujanan tadi membuat Dinda
menggigil. Kemudian
dilepaskannya kaosnya yang
sudah agak kering. Tersembulah
dua bukit kembar Dinda yang
masih terbalut kain bra. Dua
bukit yang sebenarnya agak
kecil itu terlihat lebih besar dari
ukuran sebenarnya karena
menegang menahan birahi Dinda
yang mulai meluap. Entah
mengapa Ayu menjadi senang
ketika Dinda melepas kaosnya.
"Milikmu juga besar Din." kata
Ayu.Dinda memandangi kedua
bukit yang masih tertutup kain
itu"Coba aku buka ya" pinta
Ayu.
Ayu menempelkan tubuhnya ke
tubuh Dinda untuk membuka
pengait bra di punggung Dinda
sehingga Dinda mudah untuk
melepaskannya. Mata Ayu
berbinar-binar memandangi dua
bukit kembar ukuran 32 milik
Dinda itu. Walau sedikit lebih
kecil dari miliknya, tapi milik
Dinda itu nampak lebih ranum.
Tentu saja itu karena birahi
Dinda yang mulai bergolak. Tiba-
tiba Dinda melepaskan klok
yang dipakainya. Sesekali
gerakannya tersendat. Kini
mereka berdua sama. Hanya
memakai CD tanpa penutup lain.
"Yuu.. aku rasanya mau.." suara
Dinda mendesah"Mau apa?"
tanya Ayu dengan tatapan
menggoda."Aku tak bisa
menahannya Yu.." suara Dinda
makin mendesah.
Tahulah kini Ayu apa yang
diinginkan Dinda. ia segera
menarik tuduh Dinda merebah.
Kemudian dirabanya dada Dinda
perlahan dan lembut.
Diresapinya kehalusan kulit
Dinda senti demi senti. Disentil-
sentilnya puting payudara Dinda
setiap kali jemari Ayu
menyentuhnya. Dada Ayu
bergemuruh, nafasnya naik
turun. Sedang Dinda tersengal-
sengal menikmati setiap
sentuhan Ayu.
"Yu.. ooh.. dinginn..""Din.. kamu
menggairahkan banget.. aku..
juga mau.."
Ayu mulai gelap mata. Kini
ditindihnya tubuh Dinda. Bibir
Ayu menyentuh bibir Dinda.
Dilumatnya bibir bawah Dinda
dengan rakus, dihisap dan
digigit-gigit kecil.
Dipermainkannya lidah Dinda
dengan lidahnya hingga
membuat Dinda berkerjap-
kerjap. Bukit kembar mereka
saling menghimpit. Keduanya
nampak seperti kembar siam
saja, saling menempel dan
melumat. Dinda menggesek-
gesekkan kemaluannya pada
kemaluan Ayu berirama.
Sedangkan kedua tangannya
telah meremas-remas kedua
bokong Ayu yang semok dan
sekal. Nafas keduanya semakin
memburu menikmati apa yang
belum pernah sekalipun mereka
rasakan.
"Ahgh.. Yu.. enak.. teruus aahh"
rintih Dinda di sela-sela
cumbuan Ayu.Bibir Ayu turun
menjilati leher Dinda yang
jenjang dan memberikan
gigitan-gigitan kecil sehingga
nampak noda merah di
beberapa tempat di leher Dinda.
Gejolak birahi Dinda yang telah
bergolak bagai tak bisa
dibendung menyambar-nyambar
bagai kilat di sore itu.
Dibalikkannya tubuh Ayu sekuat
tenaga.
Kini posisi mereka berbalik.
Dinda yang berbadan lebih
besar menghimpit tubuh Ayu.
Tanpa banyak pikir diremasnya
bukit kembar Ayu bergantian.
Makin lama semakin keras. Ayu
meringis menahan sakit. Lalu
Dinda memasukkan puting
merah kecoklat-coklatan itu ke
dalam mulutnya. Di dalam
mulutnya Dinda meniup dan
menghisap daging kecil itu.
Dijilatinya beberapa bagian yang
bisa digapai oleh lidahnya.
Kemudian digigit-gigitnya gemas
daging yang sudah sangat
keras itu.
"Achh.." teriak Ayu
kesakitan.Ayu membenamkan
kepala Dinda ke dadanya yang
semakin dibusungkan. Ayu
benar-benar melayang.
Manakala jemari Dinda mulai
meraba-raba isi dibalik CD-nya.
CD itu telah basah bermandikan
lendir yang berasal dari lubang
vagina Ayu. Dinda meraba-
rabanya. Tangannya kini telah
menelusuri setiap lekuk bukit
belah yang berumput basah itu.
Disentilnya sesekali ketika
cemarinya menyentuh daging
kecil yang tersembul di antara
belahannya.
"Ehh.. nikmat sekali Din.. teruss
lakukan teruss.. ehh" Ayu
mengerang kenikmatan.Dinda
tak banyak bicara. ia hanya
mendengus-dengus memburu
sambil terus mengulum puting
susu Ayu. Ditekannya vagina
Ayu dengan telapak tangannya.
Tersembur cairan kental dari
lubang vagina Ayu yang kini
menempel di tangannya. Dinda
menghentikan kulumannya.
Dilihatnya telapak tangannya
yang basah oleh cairan dari
lubang vagina Ayu itu. Dijilatnya
cairan itu. Tak berasa.
"Kenapa berhenti, Din?" kata
Ayu kesal.""kuti petunjukku
Ayu," pinta Dinda.Dinda segera
melepas CDnya. Kini ia dalam
keadaan telanjang bulat. Tak
selembar kainpun membalut
tubuhnya. Dilemparkannya CD
yang telah basah itu entah
kemana. Kemudian dilepasnya
pula CD milik Ayu. Ayu membantu
dengan meregangkan
selangkangannya. Kini mereka
telah sama-sama polos seperti
bayi.
Dinda kini berganti posisi tidur.
Tubuhnya masih tetap menindih
tubuh Ayu. Tapi mukanya kini
sudah berada di atas selakang
Ayu. Dan wajah Ayupun sudah
berada di bawah selakang
Dinda. Dinda memulainya dengan
menciumi vagina Ayu. Kemudian
lidahnya mulai bermain-main di
rerumputan yang telah basah
itu.
Ayu bagai diperintah mengikuti
semua yang dilakukan Dinda.
Disapunya semua bagian vagina
Dinda yang ditumbuhi bulu-bulu
yang agak jarang. Dijilat-jilatnya
klitoris Dinda lalu dihisapnya
agak kuat. Dinda mendesis-desis
kegelian. Lalu dilakukannya hal
serupa pada vagina Ayu
membuat Ayu bergelinjangan.
Ditekan-tekannya kembali
vagina Ayu dengan telapak
tanggannya. Suur.. cairan kental
itu kembali keluar. Dijilatinya
dinding vagina Ayu sehingga
membuat Ayu semakin terlena.
Tiba-tiba Dinda melihat lubang
berwarna coklat kemerah-
merahan yang agak terkatup.
Dijilat-jilatnya lubang itu, Ayu
bergelinjangan. Dinda terus
menjilatinya sambil mengingat-
ingat salah satu blue film yang
pernah ditontonnya. Mungkin
lubang inilah yang dimaksud.
Lubang yang selalu disodok oleh
penis kalau ingin mendapatkan
kepuasan tertinggi. Mata Dinda
berbinar-binar. ia berguling ke
samping, lalu membisikkan
sesuatu ke telinga Ayu."Aku
akan membawamu terbang,
Yuu.."
Ayu mengangguk pasrah. Yang
terpenting baginya adalah
menikmati permainan Dinda
selanjutnya. Dinda meraih
sebatang wortel dari rak sayur
di bawah meja. Kemudian
ditekuknya siku kaki Ayu
dengan posisi agak
mengangkang sehingga kepala
Dinda mudah mencumbu kembali
bagian terpeka Ayu itu. Dengan
perlahan ditusukkannya ujung
wortel itu ke dalam lubang
kemaluan Ayu. Ayu merintih-
rintih kesakitan. Vaginanya
terasa panas dan nyeri. Tapi
Dinda terus mendorongnya ke
dalam.
"Aaahh.." Ayu menjerit
badannya terduduk
seketika.Matanya liar
memandangi benda apakah
gerangan yang telah
membuatnya merasa kesakitan.
Darah segar menyembur,
keperawanan Ayu telah amblas.
Dinda menarik keluar batang
wortel itu, tapi belum sampai
keluar sepenuhnya, sudah
dimasukkan kembali. Mata Dinda
mengerjap-ngerjap. Sedang Ayu
memandangi batang wortel
yang keluar-masuk lubang
keperawanannya dengan nafas
menghentak-hentak. Ada rasa
nikmat di antara rasa nyeri di
lubang kewanitaannya.
Kemudian direbutnya batang
wortel itu dari tangan Dinda.
Dimasukkannya ujung wortel itu
lebih dalam dengan tangganya
sediri. Matanya terpejam
menikmati kenikmatan yang luar
biasa. Dinda yang merasa
kelelahan tergeletak bersimbah
keringat.
Hatinya bergemuruh mengenang
yang barusan terjadi. Ada apa
dengannya? Apakah dia sudah
menjadi seorang lesbi? Ah,
tidak! ia masih normal! Hati
Dinda berontak. ia segera
berlari keluar kamar sebelum
Ayu kembali memburunya
dengan batang wortel yang
masih bersimbah darah
keperawanan Ayu.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net