ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Perjalanan Hidup Sepasang Teman

Waktu diusiaku yang beranjak
dewasa, aku merasa bangga
terhadap diriku yang ceria,
supel, riang, penuh canda dan
memiliki keindahan yang ada di
dalam diriku. Tidak jarang aku
berkumpul dan berjalan-jalan
dengan kenalan baru, untuk
saling mengetahui hal-hal yang
baru. Aku di sekolah memiliki
teman yang cantik dan seksi,
sebut saja namanya Rina, tetapi
diriku memiliki lebih dari apa
yang dimilikinya. Temanku
memiliki tubuh yang ideal, tinggi
diatas 165 cm, berat 40 kg
lebih, kulit putih mulus, bokong
yang padat, dan yang paling
kami banggakan adalah
keindahan kedua buah dada
yang kami miliki (34B lebih
ukurannya), terkadang kami
suka memakai pakaian yang
pedek dan ketat untuk dapat
memamerkan apa yang kami
miliki, dan tentu saja indahnya
tubuh kami sering dipuji. Bangga
rasanya dapat menarik
perhatian orang, yang
terkadang tidak berkedip
melihatku.
Sebut saja namaku Yulia, aku
sangat akrab dan saling berbagi
dengan temanku ini, walaupun
itu hal yang kecil dan sepele. Di
sekolah dan sepulang sekolah,
rasanya seperti perangko saja,
jarang berjauhan dan selalu
terlihat bersama, dan tidak
jarang kami menginap
bergantian. Kalau sedang
berdua, kami sering
membandingkan sosok tubuh
kami, apa yang kurang dan apa
yang lebih. Kami membandingkan
tubuh dengan berbagai macam
jenis pakaian, dari yang dapat
memperlihatkan indahnya tubuh
dan pakaian yang benar-benar
tertutup.
Dia sering bercerita apa yang
sering dilakukannya dengan
pacarnya, sampai ke hal-hal
yang disukainya. Saat kami
duduk berdua, dia menceritakan
bagaimana dia merawat
dadanya, dia mengajarkan
bagaimana menghindari
penyakit kanker payudara. Rina
mengajarkan cara memijat dan
lain-lain. Dia mengatakan kalau
wanita menyusui sangat minim
untuk terkena kanker. Dengan
berbisik, Rina mengatakan
kepadaku cara menjaganya
dengan cara lain, tetapi lebih
suka bila dibantu.
Dia berbisik lagi, "Dibantu
dengan pacarku."
Lalu kubertanya, "Bagaimana..?"
"Sepeti ini (tanganya lalu
meremas-remas dadanya) dan
kadang dihisap, awalnya aku
risih, tapi karena aku suka, jadi
aku menyenanginya (pacarnya
dan caranya)."
"Aku bingung.., seperti apa
sih..?" jawabku.
"Bodoh kamu..!" kata Rina, lalu
dia melepaskan pakaiannya dan
memang bentuknya indah, aku
saja terkagum-kagum, apa lagi
pacarnya, buah dadanya mulus
dan terlihat padat.
Lalu dia melepaskan BH yang
menutupi keindahan dadanya.
Kedua dada yang padat dan
kedua puting yang merah
terlihat lembut. Lalu tanganya
meraba-raba, meremas-remas
kedua puting yang terlihat
bulat, akhirnya kedua puting
payudara itu mengeras dan
kedua dadanya tegang.
"Seperti ini..." katanya.
Dan dia memainkan puting yang
merah itu sambil berkata, "Dia
menghisap ini dengan nafsu, dan
lembut juga lidahnya memainkan
ini, nikmat loh..!"
"Apa nikmatnya..?" kataku.
Lalu dia menghampiriku dan
tanganya meraba dadaku (yang
ukurannya lebih besar dari
miliknya), "Seperti ini loh Non..,
dadamu boleh juga ya..?" kata
Rina sambil tersenyum dengan
peragaan kedua tangannya.
Rasanya aku tidak menyuka hal
seperti ini, tetapi perlahan-
lahan aku rasakan nikmat.
"Awalnya risih, tapi lama-lama
rasanya lumayan, enak juga..!"
kataku.
Kemudian kulihat tatapan
matanya ke wajahku, rasa ingin
berbagi pengalamannya terlihat.
"Bolehkan kubagi
pengalamanku..?" sahut Rina
dengan rasa penasaran, "Biar
kamu tau yang kunikmati dari
pacarku.." sambungnya dengan
rasa ingin memberitahunya
yang tinggi.
Aku berpikir dan rasanya
penasaran juga, "Seperti apa
sih..?" tanyaku dengan sikapku
yang ingin mengetahui lebih lagi.
Lalu Rina meremas, dan
kemudian mengangkat kaosku,
sehingga BH-ku yang berenda
dan berwarna krem dapat
ditonton.
Rina melihat dan memujiku,
"Kalau kamu punya pacar pasti
suka dengan yang satu ini..
(dada berukuran 36 yang putih
dan mulus)"
Dia pun melepaskan kedua
kaitan bra-ku, bra yang
tadinya menutup dengan sesak
kedua buah dadaku, akhirnya
diangkat bersama kaosku,
sehingga tiada sehelai kain pun
menutupi dadaku yang tertutup
sesak, dan seakan dadaku
sekarang lepas dan terlihat
mengembang. Memang ukuran
yang aslinya lebih besar dari
bra yang kupakai.
Lalu tangan Rina merangkulku,
tangannya meraba-raba
dadaku sambil berkata, "Kayak
ini loh non.."
Kemudian dia memainkan
putingku, wajahnya
menghampiri dadaku yang
satunya, lalu bibirnya mulai
mencium putingku. Setelah
beberapa lama, kurasakan
sesuatu yang nikmat.
"Nikmat Rin..." sahutku kepada
Rina.
"Lanjut ya..?" sahut Rina sambil
mulutnya melanjutkan tugasnya.
Putingku yang merah dan
mengeras akhirnya masuk ke
dalam mulut Rina. Kurasakan
kelembutan dan kenikmatan,
sehingga rasanya tubuh ini
pasrah untuk dinikmatinya.
Dadaku pun mengeras,
kurasakan titik kenikmatan dari
putingku yang menyebar dan
mengalir ke seluruh tubuhku.
Sesaat kurasakan kenikmatan
itu mengalir ke bagian tengah
tubuhku, tepatnya diantara
kedua paha tepat di bawah
perut yang tertutup bulu-bulu
hitamku yang lembut. Rasanya
terbang tinggi tanpa sadar. Aku
merasakan puncak pertamaku,
walau itu hanya dari cumbuan.
Rasanya ingin terulang kembali.
"Terima kasih ya..!" kuucapkan
kepada Rina.
"Senang rasanya dapat berbagi
dan memberi tau kamu.." ucap
Rina.
Lalu kami mengenakan pakaian
lagi.
Hari pun terus berganti, Rina
terus membagi pengalamannya
kepadaku. Dia terus
mengajariku banyak hal. Pernah
dia bercerita tentang hal yang
tidak pernah lepas disaat dia
bersama pacarnya, yaitu
berciuman. Dia bercerita kalau
pacarnya sekarang bukan yang
pertama, dia sudah mengenal
beberapa bibir yang membuat
kenangan padanya.
"Apa nikmatnya kissing.., kenapa
kamu suka..?" sahutku ke Rina
dengan rasa penasaranku.
"Makanya pacaran biar tahu,
kamu mau tau..?" jawab Rina.
"Sebenarnya udah banyak
cowok yang ngajak pacaran,
tapi aku belum mau aja..!"
balasku.
Aku terus mengungkapkan rasa
penasaranku ke Rina, Rina pun
memberi respon, dan dia
berkata, "Kamu mau kalo aku
kasih tau, aku praktekin..?"
katanya sambil bercanda.
"Mau Rin, kamu bisa..?" jawabku
serius.
"Bisa.., ehm... cuma kissing kamu
aja kan..?" jawab Rina yang
terlihat bingung.
Aku bingung campur penasaran,
lalu kujawab, "Aku ingin tau Rin."
Lalu Rina mendekatiku, dia
menghampiri wajahku, bibirnya
perlahan menghampri bibirku.
Aku merasa janggal, gemetar,
tegang campur macam-macam
perasaan. Perlahan-lahan
memangnya aksinya, dan
akhirnya bibirku tersentuh bibir
Rina, kurasakan lembut dan
nikmatnya sentuhan bibir Rina,
dan itulah yang pasti disukai
pacarnya. Lalu Rina melepas
kecupan bibirnya, aku hanya
terdiam dan tidak mengerti
harus berbuat apa.
"Bibir kamu lembut, kalo kamu
pacaran pasti cowok kamu
ketagihan..." sahut Rina.
"Masa..?" jawabku.
"Kamu mau tau banyak tentang
kisssing..? Aku ajarin deh..!" kata
Rina mulai agak bersemangat.
Dengan rasa masih penasaran,
aku mulai menanggapi tawaran
Rina, dan kujawab, "Aku ingin
tau banyak.., ajarin aku dong..!"
Lalu Rina bercerita panjang
lebar tentang pengalaman
kissing-nya dengan tahap demi
tahap, dan lalu kami
mempraktekannya. Entah
mungkin karena kami berteman
dan sama-sama sejenis, mungkin
kami tahu dan mengerti apa
yang harus dilakukan untuk
berbagi kenikmatan. Akhirya
kami sama-sama merangsang
seluruh tubuh kami, ah..
nikmatnya tiada tara.
Kami terus berbagi dan
mengulanginya dari hari ke hari,
tetapi itu hanya terbatas
karena kami sama-sama sejenis,
dan tidak ada rasa suka, yang
ada hanya kenikmatan. Waktu
pulang sekolah, aku tidak dapat
pulang bersama Rina, karena
dia sudah diajak pacarnya. Aku
pun pulang bersama teman
yang lain. Sesaat ditengah
perjalanan pulang rasanya aku
ingin main dan menginap di
rumah Rina saja. Akhirnya aku
menuju ke rumah Rina.
Saat aku sampai dan pintu
rumahnya ternyata terkunci,
aku pun masuk dengan kunci
cadangan pemberian Rina.
Rumahnya tenyata sepi, kukira
dia ada di rumah. Sekilas aku
mendengar suara Rina (entah
seperti apa suaranya, hanya
terdengar samar) di dalam
kamar. Akhirnya kamar Rina
kuhampiri. Kubuka perlahan
pintunya supaya dia tidak
kaget. Astaga, alangkah
kagetnya aku, kulihat Rina
sedang berdua dengan
pacarnya tanpa sehelai pakaian
di badannya (kecuali pacarnya).
Untung pintu terbuka sedikit
sekali, aku hanya dapat
mengintip. Aku hanya terdiam
menatap Rina dengan pacarnya,
maklum baru kali ini aku melihat
insan berduaan dengan gairah
seperti itu.
Awalnya mereka berciuman, lalu
meraba-raba, dan yang
dilakukan Rina dengan dadaku
sama seperti yang dilalukan
pacarnya, meraba, meremas,
menghisap dan begitulah. Kulihat
Rina menikmati dan terlihat
pasrah untuk dinikmati.
Tubuhnya pasrah, wajahnya
terlihat melayang seperti aku
waktu itu, tetapi tidak sehebat
aku terbangnya. Aku heran
melihat pacarnya yang tidak
hanya mencumbu dada Rina,
tetapi juga mencumbu belahan
yang juga kumiliki yang ada di
antara kedua paha. Rina pun
kulihat melayang, dan sesaat
kemudian dia mengeluarkan
suara desahan yang kuat, aku
pun samar-samar
merasakannya juga.
"Ah, nikmatkah rasanya, seperti
apakah nikmatnya..?" pikirku
dalam hati.
Sesaat kulihat beberapa jari
tangan pacar Rina keluar-
masuk di antara paha Rina yang
tertutup bulunya. Kulihat kaki
Rina melebar, seakan-akan
serakah mengambil tempat.
Tidak beberapa lama Rina
terbangun dan memberi isyarat
supaya pacarnya mendekatkan
pinggangnya ke arah wajah
Rina. Lalu kulihat Rina
melepaskan celana pacarnya,
aku heran melihat tonjolan di
celana pacarnya. Seperti
apakah tonjolan di balik celana
dalam itu. Rina mengelus dan
mencium tonjolan itu, aku
berpikir sambil heran seperti
inikah caranya pacaran. Tanpa
basa-basi lagi Rina menarik dan
melepaskan celana serta CD
pacarnya.
"Ah, seperti itukah tonjolan
yang selama ini yang samar-
samar kuketahui..?" kataku
dalam hati.
Aku hanya dapat melihat
dengan terpana dan heran,
tetapi sesaat kurasakan aku
menyukainya juga. "Kapankah
aku dapat mengetahuinya lebih
jelas..?" kataku lagi dalam hati
sambil berusaha
membayangkannya.
Rina mendekap tonjolan itu
dengan jemarinya. Kelima jari
Rina kemudian mengusap-usap
milik pacarnya dengan
nikmatnya. Kulihat pacar Rina
menegang. Tidak lama kemudian
wajah Rina menghampiri
tonjolan yang didekap dan
dielus-elus jemarinya itu. Lalu
bibirnya pun terbuka seperti
goa, lidahnya keluar dan
menjilat tonjolan yang pucuknya
seperti jamur itu. Kulihat lidah
Rina menyentuh dengan
nikmatnya, dan bibirnya mulai
terbuka lebar lagi. Milik
pacarnya pun masuk ke dalam
goa itu (mulut Rina) sampai
dalam. Kulihat Rina memejamkan
mata dengan perlahan sambil
menikmati yang masuk ke dalam
mulutnya. Mulut Rina dan
bibirnya terlihat seperti
menghisap permen dengan
nikmatnya.
"Ah, kurasakan nikmat
lembutnya bibir dan lidah Rina
waktu di dadaku, pasti
pacarnya menikmatinya seperti
yang kurasakan di dadaku."
kataku dalam hati.
Milik pacarnya terlihat hampir
keluar, dan akhirnya tertelan
lagi di mulut Rina yang lembut.
Mulut dan kepala Rina bergerak
terus dengan nikmatnya. Kulihat
adegan berikutnya, setelah
masuk dan dinikmati mulutnya,
kulihat Rina menarik milik
pacarnya dengan perlahan
(sambil merebahkan badan,
kakinya seperti membuka
stand) ke arah tepat di bawah
perut, di antara kedua paha
Rina. Dibalik bulu Rina yang halus
dan hitam, kulihat dari jauh
itulah yang dituju milik pacarnya
yang perlahan seakan hilang
dan bersembunyi di tubuh Rina.
Kulihat mereka berdua tegang,
lalu milik pacarnya hadir dan
terlihat lagi, kemudian masuk
dan terus menerus seperti itu.
Dan perlahan-lahan bergerak
cepat. Suara Rina yang
mendesah halus seakan
perlahan-lahan dibesarkan
volumenya sampai besar.
Cukup lama aku mengintip
mereka berdua dengan
perasaan heran dan ingin tahu.
Beberapa waktu kemudian, milik
pacarnya ditarik keluar dari
tubuhnya, dan kulihat dia
menegang. Rina terbangun dari
terbangnya, dan kulihat
wajahnya menghampiri milik
pacarnya. Sesaat entah apa
yang keluar dari milik pacarnya
dan terbang ke arah mulut Rina
yang terbuka. Kulihat pacarnya
merasakan kenikmatan,
tampaknya Rina terlihat tidak
puas dengan sesuatu yang
terbang masuk ke mulutnya,
lalu dia terlihat kembali
menghisap milik pacarnya
sampai air yang keluar itu habis
tertelan mulutnya.
Setelah itu mereka beristirahat,
dan setelah beberapa lama
pacarnya bergegas pergi dari
rumah Rina. Saat itu pun aku
bergegas bersembunyi di lantai
atas rumah Rina. Terlihat dia
naik ke lantai atas untuk
mengambil sesuatu. Dia kaget,
ternyata aku ada di atas dan
bersembunyi, aku pun kaget
sambil tersenyum.
"Sudah dari kapan kamu
datang..?" tanya Rina.
"Udah lama..." jawabku.
Lalu dia mengajakku turun
setelah mengambil yang
dicarinya. Dia mengajakku ke
kamarnya, dan lalu kami
bercerita panjang lebar.
"Apa kamu liat pacarku tadi
disini..?" tanya Rina.
"Aku tidak sekedar ngelihat
pacar kamu, tapi juga melihat
kalian berdua.." jawabku.
"Jadi kamu melihat kami..?" kata
Rina sambil penasaran.
"Emang, aku penasaran dan
ingin tau, jadi maaf ya Rin..?"
jawabku.
"Tapi ini rahasia kita ya..?"
sahut Rina.
"Kita kan teman, ya saling
menjaga dan berbagi. Seperti
apa sih Rin rasanya, kamu
ngerti ngelakuinnya ya..!"
kataku kemudian sambil
bercanda.
"Kamu mo tau ya..? Enak.., aku
suka, aku butuh, ini bukan yang
pertama Yul, sebenarnya sudah
sering aku ngelakuinnya, tapi ini
yang pertama di rumahku. Aku
sering ngelakuin di rumah
pacarku, rumahnya sepi, tapi
sebenarnya bukan sama dia aja
loh hubungan ini kulakuin.
Kadang aku sama mantan masih
berhubungan, soalnya kita
masih ada rasa suka. Tapi kita
udah punya masing-masing,
mantanku ada dua. Dan aku
pernah berhubungan bertiga,
kita sama-sama butuh dan
puas, dan kita sama-sama jaga
rahasia, kecuali aku ke kamu.
Kalo kamu pengen tau tentang
gituan, nanti kujelasin banyak
deh, kita kan temen..." ucap
Rina dengan panjang lebar.
"Aku jadi pengen, boleh liat lagi
nggak..?" sahutku sambil
bercanda.
"Besok-besok kalo pengen tau
kamu bisa ngintip kami kok..!"
dijawab Rina dengan serius.
Ternyata Rina menepati
janjinya. Aku dapat melihat dia
berhubungan saat di rumahnya.
Lama-lama kupikir aku juga
suka. Kayaknya aku juga
menginginkannya.
Suatu hari aku dan Rina
berkenalan dengan beberapa
anak pria dari sekolah lain.
Wawan, Edwin, Aris, Sandi, Ari
dan Heri, dan beberapa
diantaranya sudah kuliah (Aris
dan Heri). Kami akhirnya akrab
dan kami sering berkumpul.
Suatu saat mereka mengajakku
dan Rina berjalan-jalan ke
pantai. Tempatnya di luar kota,
jaraknya pun cukup jauh,
mungkin ada tiga sampai lima
jam perjalanan lamanya. Kami
berencana menginap di sana
dalam acara liburan akhir
minggu. Aku dan Rina dapat ijin
dari keluarga, karena kami
memberi alasan kumpul bersama
teman-teman sekolah kami.
Aku dan Rina bersepakat untuk
bersaing dulu-duluan menarik
perhatian mereka, siapa yang
paling mereka sukai. Awalnya
kami kira kami hanya berempat
dengan Aris dan Heri yang
pergi. Tetapi ternyata
berdelapan. Aku dan Rina
menganggap suasana menjadi
lumayan lebih ramai. Akhirnya
kami janjian bertemu di tempat
kost salah satu dari mereka.
Sebelumnya Rina dan aku
berganti pakaian terlebih
dahulu di sana, dan akhirnya
aku dan Rina memulai
permainan. Kemudian Rina
melepas semua pakaiannya
sampai yang tersisa hanya
celana dalam, begitu juga aku.
Tubuh kami yang indah terlihat
semua dan itulah rencana dari
permainan kami. Kami akhirnya
mengenakan rok sedengkul
dengan belahan yang lumayan,
sehingga dapat memamerkan
kemulusan paha kami
sepenuhnya. Kemeja tanpa
lengan dengan kancing di depan
kami pakai, dan terkadang
memperlihatkan pusar kami. Ah
rasanya pakaian kami cukup
seksi, karena sudah membentuk
tubuh kami yang sudah indah
menjadi lebih indah lagi.
Ketatnya baju ini seakan-akan
kami merasakan seperti dipeluk
dengan dekapan erat. Kedua
buah dada kami terlihat indah
bentuknya, memang aku dan
Rina sengaja untuk tidak
memakai bra yang menyelimuti
mahkota seperti biasanya.
Kemudian kami keluar dari
kamar kost. Mereka yang
melihat, langsung terpana
karena tubuh indah kami,
sehingga membuatku dan Rina
merasa bangga. Akhirnya kami
berangkat setelah menjelang
selesainya siang. Kami
berangkat dengan sebuah mobil
minibus, supaya dapat beramai-
ramai. Aku dan Rina duduk di
tengah-tengah, diapit Aris dan
Heri. Aku pun belum pernah
duduk berdua dengan pria
seperti ini. Di perjalanan, untuk
menghilangi rasa jenuh kami
bernyanyi dan bercanda. Di
tengah perjalanan kurasakan
mata mereka menelanjangi
tubuhku dan tubuh Rina.
Senang rasanya, karena mata
mereka lebih banyak menuju ke
tubuhku ini. Dari celah-celah
kancing pun, bentuk bulat dada
kami kadang-kadang terlihat
dengan jelas.
Kulihat Rina melepas beberapa
kancing supaya agak terbuka
sedikit. Aku tentu tidak mau
kalah, akhirnya kulakukan juga.
Kadang aku agak menunduk,
sehingga belahan dadaku dapat
terlihat jelas. Rupanya kenalan
Rina (Aris) dengan Rina sudah
benar-benar akrab. Mungkin
karena pakaian kami, mereka
tidak melepas pandangan
mereka dari kami. Aris
tampaknya mulai melakukan
penjajakan ke Rina, sehingga
Rina pun tertarik padanya. Aris
mulai memegang tangan Rina
dan perlahan dia mencoba
merangkul Rina. Awalnya Rina
menolak, tetapi tampaknya dia
tetap mencoba terus dan tidak
menyerah. Dia terus memuji
tubuh Rina. Yang kutahu, Rina
sangat suka dipuji akan
tubuhnya, dan itu merupakan
suatu kelemahan Rina. Aris
memuji wajah Rina yang cantik,
kulit yang putih mulus, rambut
yang indah, dada dan bokong
yang indah. Rina pun senang
dan bangga. Maklumlah, kami
masih anak-anak yang beranjak
dewasa, sehingga kami cepat
salah tingkah.
Aris meremas dan mengelus-elus
jemari Rina. Kulihat Rina
menyukainya. Dia memuji paha
Rina yang putih dan mulus.
"Paha kamu mulus dan indah
ya..?" sahut Aris.
"Kamu suka ya..?" jawab Rina.
"Andai itu milikku, andai kubisa
menikmati halusnya..." sahut
Aris.
"Seperti apa..?" sambil tangan
Rina menaruh tangan Aris di
pahanya.
Tanpa basa basi dan menunggu
waktu, aris langsung mengelus-
elus dengan nikmat paha Rina
yang terlihat utuh karena
belahan roknya. Tampaknya
Rina mulai menyukai Aris.
Tanpa terasa waktu cepat
berganti, Rina dan Aris mulai
terlihat dekat. Aris berhasil
merangkul Rina. Dan tidak itu
saja, dia juga membelai rambut
Rina, mencium pipi Rina, entah
mengapa mereka cepat dekat
seperti itu. Kulihat Aris berhasil
mengelus paha Rina sampai ke
pertemuan dua paha. Rok Rina
terangkat tinggi sampai celana
dalam Rina terlihat. Tampaknya
Rina sudah terbawa melayang
dengan sentuhan Aris, maklum
gairah kami terlalu tinggi dan
cepat datangnya. Aris menyiumi
Rina mulai dari pipi, kuping,
leher lalu ke bibir. Rina
menikmatinya dan bibir mereka
berperang. Tangan Aris
mengelus paha Rina dengan
nikmatnya, lalu perlahan pindah
ke belahan di celana dalam Rina,
pinggang, perut, lalu dada Rina.
Awalnya Rina menolak, tetapi
gairah Rina yang sudah muncul
membuatnya melayang dan
susah untuk berkutik dan
menolak.
Tangan Aris meraba-raba dada
Rina dan meremas-remas, lalu
menuju kancing Rina dan
melepaskannya satu persatu
secara perlahan. Kancing Rina
terlepas dan terlihat indahnya
sebagian tubuh Rina. Lalu Aris
meremas dada Rina secara
langsung, sehingga keindahan
tubuh Rina dapat dinikmati
setiap mata di dalam mobil.
Setelah beberapa lama hal ini
terjadi, Aris dan Rina
menghentikan asmara mereka.
Rina menutup kembali tubuhnya
yang indah itu, walaupun
tampaknya mereka belum puas.
Kami terus berjalan, dan
akhirnya sampai di pantai yang
kami tuju. Kami bersenang-
senang di pantai. Akhirnya kami
berkumpul di dalam mobil. Kami
bercanda di dalam, entah
mungkin suasana yang sepi dan
lembut merubah rasa-rasa yang
ada di dalam jiwa. Rina dan Aris
tampaknya melanjutkan
permainan mereka yang belum
selesai. Aku agak risih di
samping Rina, karena aku belum
pernah berhubungan, apalagi
yang seperti ini.
Wawan yang duduk di depan
tampaknya terangsang dengan
tubuh Rina. Dia pun tampak ikut
meraba dan menikmati tubuh
Rina. Akhirnya Rina dan Aris
bercinta tanpa peduli dilihat
seisi mobil. Wawan pun tidak
mau kalah, dia ikut bercinta
dengan Rina bergantian dengan
Aris. Tampaknya Rina tidak
canggung dan menikmatinya.
Entah mengapa kurasakan
tangan Heri meremas dadaku.
Aku menolaknya, "Jangan..!"
kataku tersentak, entah
mengapa aku malah terangsang.
Dia dengan nafsunya
menyerang tubuhku, aku agak
meronta dan menolak, tetapi
aku tidak sanggup bergerak
banyak, rambutku dijambak
oleh Sandi dari belakang. Edwin
tidak mau kalah, dia segera
menarik kedua tanganku ke
belakang.
Heri akhirnya dengan leluasa
dapat menikmati dadaku, aku
hanya dapat berkata, "Tolong
jangan..!"
Mereka tampaknya tidak peduli
dengan ucapanku, yang ada
hanya nafsu untuk menikmati
tubuhku.
Aku menangis pelan. Tampaknya
Rina tidak mendengarnya, Heri,
Sandi, Edwin terus
menyergapku. Sandi menciumi
wajahku, Heri meremas-remas
dadaku dengan nafsu. Awalnya
aku merasa takut. Heri meraih
kancingku dan melepaskannya,
sehingga dadaku terlihat jelas.
Tanpa henti dia juga meraih
resleting rokku, dan perlahan
melepaskannya bersama celana
dalamku. Dia tidak menikmati
dadaku lagi, tetapi yang ada di
balik bulu halusku. Entah
mengapa aku menikmati
sentuhan jemarinya, ah
mengapa jadi aku terangsang.
Akhirnya jarinya keluar masuk
di lubangku (hilang
keperawananku) dan sesaat
aku mendesah. Dadaku memang
tidak disentuh Heri lagi. Sandi
yang menjambak rambutku
mengecup bibirku dengan nafsu,
lalu tangannya menikmati dada
kananku. Edwin yang memegang
tanganku ikut menikmati dada
kiriku.
Waktu terus berjalan, entah
mengapa aku menjadi terbawa.
Walaupun aku meronta, aku
sebenarnya menikmatinya.
Tubuhku yang indah ini akhirnya
mereka nikmati secara
bersamaan. Perasaanku
bercampur aduk, aku disentuh
oleh mereka. Karena waktu
sudah agak malam, akhirnya
kami ke rumah Aris yang
kosong bersama-sama. Di sana
kami bermalam bersama,
tampaknya Rina bingung
menghadapi teman baru kami.
Tubuhku dan Rina tampaknya
menjadi hidangan mereka malam
ini. Mereka terus menyerang
tubuh kami, Rina dan aku tidak
bisa mengelak hasrat mereka.
Di dalam rumah aku menjadi
bulan-bulan mereka, aku terus
menolak, tetapi apa daya
tenaga mereka lebih besar. Aku
diboyong ke tempat tidur.
Kedua tanganku dipegang
dengan erat, sehingga aku
hanya bisa pasrah dan
mengalah. Bajuku dilucuti.
Cahaya lampu terang pun
mempertontonkan seluk beluk
tubuhku, dan membuat mereka
semakin terangsang. Kali ini aku
ditiduri langsung, tanpa ada
rabaan dan cumbuan. Ah, entah
mengapa aku malah merasakan
kenikmatan, mereka bergantian
memegangi tanganku, dan
secara bergantian pula mereka
memasukkan milik mereka ke
liang vaginaku. Tampaknya aku
hanya bisa pasrah, beberapa
kali aku merasakan ada sesuatu
yang menyembur di dalam
liangku. Mereka melakukannya
berkali-kali padaku sampai aku
lemas tidak sadarkan diri. Dan
entah apa yang terjadi pada
Rina.
Pagi pun menjelang, aku mulai
terbangun dengan tubuh lemas
ini.
Aris menyapaku, "Pagi Yul..",
yang begitu juga jawabku
dengan kesadaran yang
bertahap.
Kucari pakaianku, tetapi aku
tidak mendapatkannya.
Heri menemuiku di kamar, "Pagi
Yulia..." sapanya sambil
menghampiriku dan meraba-
raba tubuhku kembali.
Kali ini aku tidak dapat menolak
keinginannya. Ternyata tubuh
ini terhanyut bersama nafsu
mereka. Heri menganjurkanku
mandi, aku rasa memang aku
harus mandi. Akhirnya kumasuk
ke kamar mandi untuk menyuci
tubuhku, pasti segar rasanya.
Mulai basah tubuh ini tersiram
air segar, tiba-tiba pintu kamar
mandi terbuka, terlihat Aris dan
Heri di depan pintu dan
bergegas masuk. Mereka
segera melepas pakaiannya, lalu
menyiram tubuh mereka dengan
air seperti yang kulakukan.
"Kita mandi sama-sama ya..?"
sahut mereka.
Setelah beberapa lama,
kurasakan Heri mendekatiku
dari belakang, lalu mendekapku
dan meraba dadaku serta
meremas-remas. Aris juga
menghampiriku, dia mendekap
salah satu buah dadaku yang
tersisa dengan jemarinya. Aku
canggung, sesaat Aris
menghisap dadaku yang
dipegangnya, lalu dia mengecup
dan menikmati bibir lembutku.
Tanpa menunggu waktu, jari-
jarinya pun masuk ke lubang
vaginaku. Aku tidak berkutik,
entah cepat sekali diri ini
bergetar lemas. Jari-jarinya
keluar-masuk dengan leluasa.
Tidak puas dengan jemarinya,
dia segera memasukkan miliknya
ke tubuhku. Ah, aku tidak
sanggup menolak, aku diapit
dua lelaki dengan penuh nafsu
dan birahi. Mereka pun
bergiliran kembali, tubuhku
dinikmati sambil berdiri.
Kemudian Heri bergantian
dengan Aris. Kemudian mereka
bergantian lagi. Entah mengapa,
karena tidak sanggup menahan
birahi, Heri yang bergantian
dengan Aris berusaha memasuki
lubang anusku. Awalnya
kurasakan sesuatu yang aneh,
kukira sakit. Awalnya miliknya
tidak dapat masuk, tetapi
karena usaha yang gigih dan
dengan berbagai cara, akhirnya
anusku dapat dimasukinya.
Keluar-masuklah milik mereka
bersamaan di semua lubangku.
Sesaat beberapa lama suaraku
agak merintih pelan, dan
akhirya mendesah kuat. Aku
tidak dapat berkutik, aku tidak
mengerti harus berbuat apa,
mereka terus mendekap dan
menikmati tubuhku. Entah
mengapa aku merasakan
kenikmatan dan puncaknya.
Akhirnya kami selesai mandi.
Tubuh ini segar tersiram air dan
lemas terpakai secara
bergiliran. Sehabis mandi pun
aku dan Rina tidak dapat
mengenakan pakaian, mereka
terus menggerayangi tubuh
kami tanpa ada rasa puas.
Terkadang aku dan Rina
meminta baju kami, tetapi
jawab mereka, "Tubuh kami
yang menjadi baju kalian.."
Ternyata kata-kata mereka
pun benar-benar mereka
lakukan. Merekalah yang
menjadi baju kami. Terkadang
mereka memuji aku dan Rina.
Aku dan Rina agak canggung,
karena baru kali ini kami tidak
mengenakan pakaian sehelai
pun dihadapan banyak lelaki.
Mereka tampaknya berusaha
supaya kami seperti ini, agar
mereka dapat terus-menerus
menikmati indahnya tubuh kami.
Akhirnya siang pun tiba,
awalnya aku dan Rina dicumbu
secara berpasangan. Aku tidak
dapat menolaknya, aku mulai
menyukai nikmatnya
berhubungan. Setelah beberapa
lama, aku mulai dicumbu dua
orang, saat itu aku melihat milik
Heri. Aku penasaran, karena
aku mulai menyukai yang
berbentuk itu. Aku ingin
mengetahui seperti apa
nikmatnya, apakah yang
dirasakan Rina dan yang akan
kurasakan dengan mulut ini.
Akhirnya tubuh ini mulai
dinikmati milik mereka, aku
tambah penasaran, akhirnya
kudekap milik Heri yang belum
menikmati tubuhku. Miliknya
kudekap dengan jemariku dan
kumasukkan ke dalam mulutku,
kurasakan bentuknya di dalam
mulutku. Kulakukan seperti
yang pernah Rina lakukan.
Kurasakan nikmatnya, dan
entah mengapa aku mulai
menyukainya. Lama-lama
kurasakan agak asin, tetapi
malah kusuka dan menambah
gairahku, beberapa lama
kurasakan tumpahan di dalam
mulutku.
Aku berpikir, "Tampaknya aku
tambah menyukainya.." lalu
kutelan, rasanya seperti
menelan telor penyu, tetapi ini
benar-benar kunikmati. Birahiku
memuncak. Akhirnya mereka
menggilirku dan Rina secara
bergantian, sehingga kami
semua sudah saling
bersentuhan, tiada satu pun
yang tersisa.
Akhirnya kami selesai dengan
liburan akhir minggu, dan lalu
kami bergegas ke tempat asal.
Di jalan pun kami masih tetap
bersentuhan. Tampaknya birahi
kami terus menguat. Setelah
kejadian itu, mereka tampaknya
tidak mau lepas dari aku dan
Rina. Mereka mengisyaratkan
rasa tanggung jawab terhadap
kami atas apa yang telah
terjadi, dan mereka berusaha
mendapatkan kami seutuhnya.
Aku dan Rina pun berhubungan
terus dengan mereka tanpa
ada rasa menyesal.
Sempat aku pernah terlambat
bulan, dan mereka mau
menikahiku, tetapi rasanya aku
tidak mau di usia sekarang ini.
Akhirnya salah satu diantara
mereka, yaitu Aris dapat
membuatku datang bulan. Dia
mengundangku ke rumahnya,
dan dia memberikan alat test
untuk kucoba, dan ternyata
aku positif. Tetapi dia membuat
semua ini seakan-akan tenang-
tenang saja. Lalu dia
memberikan obat untukku,
yang katanya dapat
membuatku dalam waktu
beberapa jam menstruasi.
Tetapi sebelum kupakai obat
itu, dia meminta ijin kepadaku
untuk mengecup bibirku.
Awalnya kutolak, tetapi
akhirnya karena tidak enak
dengan kebaikannya, akhirnya
kubersedia, dan kuberikan
sebagai ucapan terima kasihku.
Akhirnya dia senang dan mulai
melahap bibirku, entah mengapa
bibir dan lidah kami jadi
berperang, birahi kami pun
bersaing memuncak.
Adegan demi adegan berlanjut,
sehelai demi sehelai kain pun
tertanggal dari tubuh ini.
Akhirnya tubuh kami menyatu
penuh dengan birahi.
Tampaknya dia tidak ada puas-
puasnya untuk merasakan
tubuhku, serasa hanya ini
kesempatannya. Karena usia
kami masih muda dan kondisi
kami sangat fit, akhirnya ronde
demi ronde pun terjadi.
Semburan demi semburan
kurasakan di dalam tubuhku.
Tetesan demi tetesan yang
keluar dari miliknya juga
tertelan mulut ini, sampai tidak
dapat dikeluarkannya lagi, dan
kami berdua jatuh TKO. Setelah
itu kupakai obat pemberiannya
dan beberapa waktu kemudian
rasa yang kualami setiap bulan
kurasakan kembali.
Hari-hariku terus berjalan,
persahabatanku dengan Rina
berlanjut dan jiwa kami masih
muda, kami ingin banyak
mengenal sesuatu yang baru.
Kami sering mendapat kenalan
baru dan kami saling berbagi,
dan juga bertukar pasangan.
Pengalaman dan pengetahuan
kami terus bertambah. Setiap
lelaki yang tidur denganku dan
Rina tidak mau lepas. Mereka
berusaha memiliki kami. Tubuh
dan wajah yang indah dan
kemampuan kami di atas
ranjang benar-benar membuat
mereka ketagihan. Hubungan
sex kami sangat aktif, hampir
setiap hari kami bergiliran
dengan setiap pacar kami.
Rasanya makin diasah, gairah
kami makin tajam, sampai-
sampai tidak dapat dibendung
lagi.
Beberapa kali kami
berkerkenalan dengan pria
yang hampir setua orangtua
kami, aku dan Rina bertahap
mulai dekat dengan mereka.
Mereka baik, lembut dan
pengertian, selalu mau mengerti
perasaan kami. Disuatu hari, Om
Edo mengajak kami jalan-jalan,
kami senang dan dapat
bergembira dengan puas.
Keesokan harinya, aku diajak
Om Edo jalan-jalan ke Lembang.
Di sana kami jalan-jalan ke
beberapa objek wisata
terdekat. Udara pun kurasakan
dingin, gerimis membasahi bumi,
aku tidak kuat menahan rasa
dingin. Rasanya aku perlu
penghangat untuk menghangati
tubuh ini. Beberapa kali
kupegangi telapak tangan Om
Edo untuk merasakan hangat.
Beberapa lama Om Edo akhirnya
mengerti keadaanku, dia
merangkulku untuk membagi
kehangatan tubuhnya.
Sampai di suatu tempat yang
tenang, di sana hanya ada kami
serta tumbuh-tumbuhan saja.
Awalnya kami duduk di antara
pepohonan. Om Edo berada di
samping sambil merangkulku.
Aku menyukai hangat tubuhnya.
Tampaknya cara duduk kami
mengganggu, akhirnya
kupindahkan tubuh ini ke depan
Om Edo. Aku duduk di depan
tubuhnya, dan kurasakan
kehangatan di belakang
tubuhku. Dia memelukku dari
belakang. Salah satu tangannya
kuajak ke atas pahaku dan lalu
kuelus-elus. Tangan Om Edo
memeluk pinggangku. Perutku
dielus dengan pelan, tampaknya
dia menikmati sentuhan
tanganku, begitu juga
denganku. Tampaknya kami
berdua mulai merasakan
sesuatu yang menghangat.
Tangan Om Edo tidak mau kalah
dengan tanganku, dia
mengelus-elus pahaku, ah
lembutnya yang kurasakan.
Tahap demi tahap tangannya
mengarah ke lubangku, aku
menikmatinya. Nafsu kami pun
meningkat, Om Edo mencium dan
menikmati telingaku, ah beku
tubuh ini rasanya. Perlahan dia
mencium pipi dan leherku
dengan lembut, lalu perlahan ke
arah bibirku. Akhirnya kami
berciuman, alangkah lembutnya
Om Edo yang kurasakan.
Perlahan kulepas kecupannya,
lalu kudekati telinganya, dan
kubisikkan, "Yang lembut ya
Om..!"
Om pun menunjukkan
kemampuaanya, dia membuai
jiwa, batin dan tubuhku, serasa
melayang diri ini. Kupasrahkan
tubuh ini untuk Om Edo, dan
kami pun sama-sama
menikmatinya.
Bibir Om Edo mengecup bibirku
kembali, tangan kirinya
mengelus-elus celana tengahku
dengan lembut. Perlahan
telapak tangan kanannya yang
memeluk perutku kuarahkan ke
dadaku, kurasakan lembutnya
sentuhan tangannya.
Tangannya segera melakukan
tugasnya dan kunikmati
sentuhan lembutnya. Perlahan
kancing dan resteling jeans-ku
dibuka Om edo. Tangan kirinya
menyusup ke dalam celanaku.
Rupanya lubangku sudah
terangsang dan basah. Tanpa
basa-basi, Om Edo menggosok
daerah sensitifku, tanganya
tidak terburu-buru masuk ke
vaginaku. Perlahan tangan
kanannya meraih kaitan bra-ku
dan melepasnya perlahan.
Tangan kanannya menyusup
dan mengelus pundakku, lalu
perlahan ke depan, ke dadaku.
Sesaat beberapa lama
kemudian, dia mengangkat kaos
dan bra-ku, sehingga
mahkotaku terlihat jelas.
Bibirnya perlahan berjalan, dari
bibir, dagu, leher, pundak dan
akhirya putingku masuk ke
dalam mulutnya yang lembut.
Dada, perut dan daguku reflek
terangkat. Perlahan tanpa
kusadari tanganku melepas
kaos dan bra-ku, celana jeans-
ku pun agak kuturunkan
sedengkul, dan akhirnya
kulepas semuanya dan kami
buat menjadi alas. Secara
perlahan jari Om Edo masuk ke
lubang vaginaku, ah daguku
terangkat tinggi. Kedua tempat
itu, yaitu dada dan vaginaku
disentuh Om Edo. Perlahan jari
Om Edo keluar-masuk di lubang
vaginaku, awalnya aku tidak
kuat menahan nikmatnya
sampai aku tegang dan
menahan nafas. Aku melayang
jauh dan tidak sanggup
bergerak, yang bisa hanya
pasrah menikmatinya.
Sesaat kurasakan rangsangan
yang kuat, dan kukeluarkan
desahan yang tidak sanggup
kutahan. Tampaknya Om Edo
mengerti. Tanpa kusadari
bajuku menjadi alas dan Om Edo
perlahan memeluk tubuhku dari
depan. Dengan rasa pasrah dan
penuh dengan kenikmatan,
kudekap tubuh Om Edo.
Perlahan kurasakan ada
sesuatu yang keras dan
menonjol di dekat bawah
perutku, lalu perlahan masuk ke
vaginaku, daguku terangkat
dan suaraku tidak sanggup
kutahan. Desahan demi desahan
suaraku yang tegang pun
mengeras, sampai akhirnya kami
merasakan puncak dari semua
itu. Akhirnya dari sana kami
berangkat menuju ke tempat
Om Edo di daerah sana. Karena
kami belum puas, kami pun
melakukannya kembali di
tempat Om Edo.
Setelah semuanya terjadi,
suatu saat Om Edo mengajakku
menikah. Maklumlah, dia
ditinggal istri-istrinya (istri yang
lalu) yang sudah tiada, dan dia
tidak memiliki anak. Dia
mengatakan butuh aku, tetapi
kutolak, dan aku janji tetap
membantu sesuatu yang kurang
padanya, maaf jawabku, begitu
juga dengan Om Edo, dia
berkata sama. Mulai dari situ
aku menyukai Om-Om, karena
mereka memiliki cara berpikir
dan emosi yang sudah matang.
Pernah suatu saat kukatakan
pada Om Edo kalau aku pernah
hamil, dan untunglah tidak
terjadi, lalu kuungkapkan aku
tidak mau hamil di usia ini. Lalu
Om Edo mengenalkanku dengan
alat-alt KB, lalu kucoba dan
ternyata aku memilih spiral,
karena lebih aman. Lalu
kutawarkan Rina untuk
memakainya, dan dia
menyetujuinya. Akhirnya saat
kami datang bulan, Om Edo
mengajakku dan Rina ke dokter
kenalannya, lalu kami
dipasangkan spiral.
Akhirnya kami merasa tenang
dalam setiap berhubungan.
Tidak ada rasa was-was, yang
ada hanya kepuasan. Setiap
semburan dari penis dapat kami
rasakan dan nikmati di dalam
permainan. Aku melakukannya
bukan hanya dengan Om Edo,
tetapi juga dengan Om yang
lainnya, tapi hanya Om Edo yang
terbaik. Suatu hari Om Edo
ulang tahun, aku bingung harus
memberi hadiah apa, dia sangat
baik.
Sesampainya di rumahnya kami,
(aku dan Rina) hanya
merayakannya bertiga, dia, aku
dan teman baikku Rina.
Akhirnya kami jalan-jalan. Dan
akhirnya sampai kami kembali
ke rumahnya, aku bingung
karena tidak ada hadiah.
Terlintas aku ada ide, pastilah
kami suka.
Lalu aku bertanya pada Rina,
"Kamu mau nggak ama Om
Edo..?"
Rina menjawab, "Terserah
kamu, boleh aja..!"
Lalu aku mengajak Rina dan Om
Edo ke kamar, di sana aku
memancing Om Edo. Akhirnya dia
terpancing, dan kami bermain
bertiga. Karena hebatnya Om
Edo, nafsu kami (aku dan Rina)
menjadi tinggi. Dia mencumbu
kami secara bergiliran. Karena
aku dan Rina tidak kuat
menahan nafsu, jika ada
kesempatan, milik Om Edo kami
nikmati, dan seterusnya kami
bermain sampai puncak.
Tampaknya Om Edo sangat
berterima kasih kepada kami,
terutama kepadaku. Segala
sesuatu yang kami khayalkan
selalu dijadikan kenyataan oleh
Om Edo. Waktu aku di kelas
akhir sekolahku, aku dan Rina
sudah sering berganti-ganti
pacar (cowok), tetapi tidak
semuanya dapat merasakan
tubuh kami, karena kami tidak
memberinya sembarangan.
Kebetulan aku dan Rina adalah
teman sekelas, ya jadi kami
sering bertemu. Saat itu
kebetulan aku dan Rina memiliki
pacar yang sekelas, ya kami
jadi sering berjalan bersama.
Hubungan kami sudah tidak ada
batas lagi, kami sering
berkumpul di rumah kami secara
bergantian. Tentu saja jalinan
hubungan kami sangat dalam,
sampai ke dalam tubuh kami.
Hubungan kami tidak hanya di
luar sekolah, di dalam sekolah
pun hubungan kami dengan
pasangan kami sangat aktif.
Setiap keadaan yang
memungkinkan, dan bila hasrat
kami muncul, kami pun
melakukannya. Maklum,
pakaianku sangat
memungkinkan, sesaat
kuangkat rokku tinggi, kulepas
sedikit CD-ku, maka milik
pasangan kami dapat masuk
dengan leluasa, tentu saja
dengan gaya tertentu.
Terkadang di kelas, di wc
sekolah, atau tempat lainnya
yang aman, kami terus
melakukannya. Tentu kami
harus bergiliran berjaga-jaga,
supaya tetap aman. Tetapi aku
dan Rina masih berhubungan
dengan teman pria kami yang
dulu, serasa diri kami rakus.
Akhirnya kami lulus dengan nilai
yang cukup baik, dan kami
mengadakan perpisahan
sekolah. Aku, Rina dan kekasih
kami pergi perpisahan bersama,
kami berpasangan, dan tentu
saja di sana kami mencari
kesempatan untuk
mencurahkan birahi kami. Tetapi
rasanya perpisahan bukan
hanya untuk kawan-kawan
sekolah, tetapi juga kami (aku
dan Rina) putuskan untuk
kekasih sekelas kami. Awalnya
mereka tidak menerima dan
menolak, tetapi akhirnya
mereka tidak dapat menolak,
karena keputusan kami bulat,
dan kami jelaskan bahwa kami
masih bisa akrab seterusnya.
Liburan panjang pun kami
rasakan, tampaknya Aris dan
Heri akrab lagi terhadap kami,
dan kami berjalan bersama. Aku
dan Rina diajak berlibur
bersama mereka, dan kami pun
bersenang-senang bersama.
Seusai berlibur dengan mereka,
Om Edo pun memberi hadiah
kepadaku dan Rina berlibur ke
Bali, dan kami merasakan
kegembiraan bersama. Akhirnya
kami kuliah, dan tempat kuliah
kami di pinggiran kota Jakarta.
Di sana kami dibelikan rumah
oleh Om Edo sebagai tempat
tinggal kami untuk kuliah. Kami
memberikan alasan ke keluarga
bahwa tempat itu adalah
tempat yang murah dan baik
buat kami. Akhirnya aku dan
Rina tinggal di sana, dan kami
berhubungan akrab dengan Aris
dan Heri, tetapi mereka tidak
mengetahui bahwa kami
berhubungan dengan Om Edo
yang kami katakan sebagai
pemilik kost.
Awal kuliah kami masih
berganti-ganti pacar dan
kawan. Mereka sering
menginap, begitu juga aku dan
Rina. Akhirnya, di akhir
semester, aku dan Rina mulai
serius dengan Aris dan Heri.
Sering Om Edo, Aris dan Heri
bergantian bermalam, tetapi
Aris dan Heri tidak mengetaui
hubungan ini, kecuali Om Edo.
Akhirnya kami lulus kuliah, dan
kami mulai mengurangi aktivitas
hubungan intim kami terhadap
Om Edo, dan dia mengerti
keputusan ini. Sampai akhirnya
kami (Om Edo, aku dan Rina)
dapat jodoh, sampai pada
saatnya Aris dan Heri memiliki
kami, akhirnya janur kuning
menyelimuti salah satu jari kami.
Aku, Rina, Aris dan Heri terus
berhubungan sampai dengan
hubungan yang tidak akan
pernah lepas. Kami sering ke
luar kota bersama, di sana kami
berpasangan. Terkadang kami
jenuh berhubungan dengan
suami, tetapi kami tetap
berpasangan, pasanganku
adalah suami Rina dan suamiku
berpasangan dengan Rina. Kami
melakukannya untuk mendapat
gairah dan mempererat
hubungan kami. Kami terus
menikmati ini sampai di atas
rajang, dan tanpa ada rasa
cemburu serta iri, kami terus
berbagi. Mereka bangga memiliki
kami, tidak jarang setiap
bersama, tubuhku dan Rina
ditelanjangi dan terus dinikmati
suami kami secara bergantian.
Terkadang aku dan Rina serta
Om Edo masih berhubungan
jauh, terkadang sebulan sekali
atau lebih kami melakukannya
tanpa diketahui pasangan kami.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net