ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Akibat Terlalu Dimanja

Aku memang terlahir dari
keluarga yang cukup berada.
Aku anak lelaki satu-satuya.
Dan juga anak bungsu. Dua
kakakku perempuan semuanya.
Dan jarak usia antara kami
cukup jauh juga. Antara lima
dan enam tahun. Karena anak
bungsu dan juga satu-satunya
lelaki, jelas sekali kalau aku
sangat dimanja. Apa saja yang
aku inginkan, pasti dikabulkan.
Seluruh kasih sayang
tertumpah padaku.
Sejak kecil aku selalu dimanja,
sehingga sampai besarpun aku
terkadang masih suka minta
dikeloni. Aku suka kalau tidur
sambil memeluk Ibu, Mbak Lisa
atau Mbak Indri. Tapi aku tidak
suka kalau dikeloni Ayah. Entah
kenapa, mungkin tubuh Ayah
besar dan tangannya ditumbuhi
rambut-rambut halus yang
cukup lebat. Padahal Ayah
paling sayang padaku. Karena
apapun yang aku ingin minta,
selalu saja diberikan. Aku
memang tumbuh menjadi anak
yang manja. Dan sikapku juga
terus seperti anak balita, walau
usiaku sudah cukup dewasa.
Pernah aku menangis
semalaman dan mengurung diri
di dalam kamar hanya karena
Mbak Indri menikah. Aku tidak
rela Mbak Indri jadi milik orang
lain. Aku benci dengan suaminya.
Aku benci dengan semua orang
yang bahagia melihat Mbak Indri
diambil orang lain. Setengah
mati Ayah dan Ibu membujuk
serta menghiburku. Bahkan
Mbak Indri menjanjikan macam-
macam agar aku tidak terus
menangis. Memang tingkahku
tidak ubahnya seorang anak
balita.
Tangisanku baru berhenti
setelah Ayah berjanji akan
membelikanku motor. Padahal
aku sudab punya mobil. Tapi
memang sudah lama aku ingin
dibelikan motor. Hanya saja
Ayah belum bisa membelikannya.
Kalau mengingat kejadian itu
memang menggelikan sekali.
Bahkan aku sampai tertawa
sendiri. Habis lucu sih..., Soalnya
waktu Mbak Indri menikah,
umurku sudab dua puluh satu
tahun.
Hampir lupa, Saat ini aku masih
kuliah. Dan kebetulan sekali aku
kuliah di salah satu perguruan
tinggi swasta yang cukup
keren. Di kampus, sebenarnya
ada seorang gadis yang
perhatiannya padaku begitu
besar sekali. Tapi aku sama
sekali tidak tertarik padanya.
Dan aku selalu menganggapnya
sebagai teman biasa saja.
Padahal banyak teman-
temanku, terutama yang cowok
bilang kalau gadis itu menaruh
hati padaku.
Sebut saja namanya Linda.
Punya wajab cantik, kulit yang
putih seperti kapas, tubuh yang
ramping dan padat berisi serta
dada yang membusung dengan
ukuran cukup besar.
Sebenarnya banyak cowok
yang menaruh hati dan
mengharapkan cintanya. Tapi
Linda malah menaruh hati
padaku. Sedangkan aku sendiri
sama sekali tidak peduli, tetap
menganggapnya hanya teman
biasa saja. Tapi Linda
tampaknya juga tidak peduli.
Perhatiannya padaku malah
semakin bertambah besar saja.
Bahkan dia sering main ke
rumahku, Ayah dan Ibu juga
senang dan berharap Linda bisa
jadi kekasihku.
Begitu juga dengan Mbak Lisa,
sangat cocok sekali dengan
Linda Tapi aku tetap tidak
tertarik padanya. Apalagi
sampai jatuh cinta. Anehnya,
hampir semua teman
mengatakan kalau aku sudah
pacaran dengan Linda, Padahal
aku merasa tidak pernah
pacaran dengannya.
Hubunganku dengan Linda
memang akrab sekali, walaupun
tidak bisa dikatakan
berpacaran.
Seperti biasanya, setiap hari
Sabtu sore aku selalu mengajak
Bobby, anjing pudel
kesayanganku jalan-jalan
mengelilingi Monas. Perlu
diketahui, aku memperoleh
anjing itu dan Mas Herman,
suaminya Mbak Indri. Karena
pemberiannya itu aku jadi
menyukai Mas Herman. Padahal
tadinya aku benci sekali, karena
menganggap Mas Herman telah
merebut Mbak Indri dan sisiku.
Aku memang mudah sekali
disogok. Apalagi oleh sesuatu
yang aku sukai. Karena sikap
dan tingkah laku sehari-hariku
masih, dan aku belum bisa
bersikap atau berpikir secara
dewasa.
Tanpa diduga sama sekali, aku
bertemu dengan Linda. Tapi dia
tidak sendiri. Linda bersama
Mamanya yang usianya mungkin
sebaya dengan Ibuku. Aku tidak
canggung lagi, karena memang
sudah saling mengenal. Dan aku
selalu memanggilnya Tante
Maya.
"Bagus sekali anjingnya..", piji
Tante Maya.
"Iya, Tante. diberi sama Mas
Herman", sahutku bangga.
"Siapa namanya?" tanya Tante
Maya lagi.
"Bobby", sahutku tetap dengan
nada bangga.
Tante Maya meminjamnya
sebentar untuk berjalan-jalan.
Karena terus-menerus memuji
dan membuatku bangga,
dengan hati dipenuhi
kebanggaan aku meminjaminya.
Sementara Tante Maya pergi
membawa Bobby, aku dan Linda
duduk di bangku taman dekat
patung Pangeran Diponegoro
yang menunggang kuda dengan
gagah. Tidak banyak yang kami
obrolkan, karena Tante Maya
sudah kembali lagi dan
memberikan Bobby padaku
sambil terus-menerus memuji.
Membuat dadaku jadi berbunga
dan padat seperti mau meledak.
Aku memang paling suka kalau
dipuji.
Oh, ya..., Nanti malam kamu
datang...", ujar Tante Maya
sebelum pergi.
"Ke rumah...?", tanyaku
memastikan.
"Iya."
"Memangnya ada apa?" tanyaku
lagi.
"Linda ulang tahun. Tapi nggak
mau dirayakan. Katanya cuma
mau merayakannya sama
kamu", kata Tante Maya
Iangsung memberitahu.
"Kok Linda nggak bilang sih...?",
aku mendengus sambil menatap
Linda yang jadi memerah
wajahnya. Linda hanya diam
saja.
"Jangan lupa jam tujuh malam,
ya.." kata Tante Maya
mengingatkan.
"Iya, Tante", sahutku.
Dan memang tepat jam tujuh
malam aku datang ke rumah
Linda. Suasananya sepi-sepi
saja. Tidak terlihat ada pesta.
Tapi aku disambut Linda yang
memakai baju seperti mau pergi
ke pesta saja. Tante Maya dan
Oom Joko juga berpakaian
seperti mau pesta. Tapi tidak
terlihat ada seorangpun tamu
di rumah ini kecuali aku sendiri.
Dan memang benar, ternyata
Linda berulang tahun malam ini.
Dan hanya kami berempat saja
yang merayakannya.
Perlu diketahui kalau Linda
adalah anak tunggal di dalam
keluarga ini. Tapi Linda tidak
manja dan bisa mandiri. Acara
ulang tahunnya biasa-biasa
saja. Tidak ada yang istimewa.
Selesai makan malam, Linda
membawaku ke balkon
rumahnya yang menghadap
langsung ke halaman belakang.
Entah disengaja atau tidak,
Linda membiarkan sebelah
pahanya tersingkap. Tapi aku
tidak peduli dengan paha yang
indah padat dan putih terbuka
cukup lebar itu. Bahkan aku
tetap tidak peduli meskipun
Linda menggeser duduknya
hingga hampir merapat
denganku. Keharuman yang
tersebar dari tubuhnya tidak
membuatku bergeming.
Linda mengambil tanganku dan
menggenggamnya. Bahkan dia
meremas-remas jari tanganku.
Tapi aku diam saja, malah
menatap wajahnya yang cantik
dan begitu dekat sekali dengan
wajahku. Begitu dekatnya
sehingga aku bisa merasakan
kehangatan hembusan
napasnya menerpa kulit
wajahku. Tapi tetap saja aku
tidak merasakan sesuatu.
Dan tiba-tiba saja Linda
mencium bibirku. Sesaat aku
tersentak kaget, tidak
menyangka kalau Linda akan
seberani itu. Aku menatapnya
dengan tajam. Tapi Linda malah
membalasnya dengan sinar
mata yang saat itu sangat sulit
ku artikan.
"Kenapa kau menciumku..?"
tanyaku polos.
"Aku mencintaimu", sahut Linda
agak ditekan nada suaranya.
"Cinta...?" aku mendesis tidak
mengerti.
Entah kenapa Linda tersenyum.
Dia menarik tanganku dan
menaruh di atas pahanya yang
tersingkap Cukup lebar.
Meskipun malam itu Linda
mengenakan rok yang panjang,
tapi belahannya hampir sampai
ke pinggul. Sehingga pahanya
jadi terbuka cukup lebar. Aku
merasakan betapa halusnya
kulit paha gadis ini. Tapi sama
sekali aku tidak merasakan
apa-apa. Dan sikapku tetap
dingin meskipun Linda sudah
melingkarkan tangannya ke
leherku. Semakin dekat saja
jarak wajah kami. Bahkan
tubuhku dengan tubuh Linda
sudah hampir tidak ada jarak
lagi. Kembali Linda mencium
bibirku. Kali ini bukan hanya
mengecup, tapi dia melumat dan
mengulumnya dengan penuhl
gairah. Sedangkan aku tetap
diam, tidak memberikan reaksi
apa-apa. Linda melepaskan
pagutannya dan menatapku,
Seakan tidak percaya kalau aku
sama sekali tidak bisa apa-apa.
"Kenapa diam saja...?" tanya
Linda merasa kecewa atau
menyesal karena telah
mencintai laki-laki sepertiku.
Tapi tidak..., Linda tidak
menampakkan kekecewaan
atau penyesalan Justru dia
mengembangkan senyuman
yang begitu indah dan manis
sekali. Dia masih melingkarkan
tangannya ke leherku. Bahkan
dia menekan dadanya yang
membusung padat ke dadaku.
Terasa padat dan kenyal
dadanya. Seperti ada denyutan
yang hangat. Tapi aku tidak
tahu dan sama sekali tidak
merasakan apa-apa meskipun
Linda menekan dadanya cukup
kuat ke dadaku. Seakan Linda
berusaha untuk membangkitkan
gairah kejantananku. Tapi sama
Sekali aku tidak bisa apa-apa.
Bahkan dia menekan dadanya
yang membusung padat ke
dadaku.
"Memangnya aku harus
bagaimana?" aku malah balik
bertanya.
"Ohh...", Linda mengeluh panjang.
Dia seakan baru benar-benar
menyadari kalau aku bukan
hanya tidak pernah pacaran,
tapi masih sangat polos sekali.
Linda kembali mencium dan
melumat bibirku. Tapi
sebelumnya dia memberitahu
kalau aku harus membalasnya
dengan cara-cara yang tidak
pantas untuk disebutkan. Aku
coba untuk menuruti
keinginannya tanpa ada
perasaan apa-apa.
"Ke kamarku, yuk...", bisik Linda
mengajak.
"Mau apa ke kamar?", tanyaku
tidak mengerti.
"Sudah jangan banyak tanya.
Ayo..", ajak Linda setengah
memaksa.
"Tapi apa nanti Mama dan Papa
kamu tidak marah, Lin?",
tanyaku masih tetap tidak
mengerti keinginannya.
Linda tidak menyahuti, malah
berdiri dan menarik tanganku.
Memang aku seperti anak kecil,
menurut saja dibawa ke dalam
kamar gadis ini. Bahkan aku
tidak protes ketika Linda
mengunci pintu kamar dan
melepaskan bajuku. Bukan
hanya itu saja, dia juga
melepaskan celanaku hingga
yang tersisa tinggal sepotong
celana dalam saja Sedikitpun
aku tidak merasa malu, karena
sudah biasa aku hanya memakai
celana dalam saja kalau di
rumah. Linda memandangi
tubuhku dan kepala sampai ke
kaki. Dia tersenyum-senyum.
Tapi aku tidak tahu apa arti
semuanya itu. Lalu dia
menuntun dan membawanya ke
pembaringan. Linda mulai
menciumi wajah dan leherku.
Terasa begitu hangat sekali
hembusan napasnya.
"Linda.."
Aku tersentak ketika Linda
melucuti pakaiannya sendiri,
hingga hanya pakaian dalam
saja yang tersisa melekat di
tubuhnya. Kedua bola mataku
sampai membeliak lebar. Untuk
pertama kalinya, aku melihat
sosok tubuh sempurna seorang
wanita dalam keadaan tanpa
busana. Entah kenapa, tiba-tiba
saja dadaku berdebar
menggemuruh Dan ada suatu
perasaan aneh yang tiba-tiba
saja menyelinap di dalam hatiku.
Sesuatu yang sama sekali aku
tidak tahu apa namanya,
Bahkan seumur hidup, belum
pernah merasakannya. Debaran
di dalam dadaku semakin keras
dan menggemuruh saat Linda
memeluk dan menciumi wajah
serta leherku. Kehangatan
tubuhnya begitu terasa sekali.
Dan aku menurut saja saat
dimintanya berbaring. Linda ikut
berbaring di sampingku. Jari-jari
tangannya menjalar menjelajahi
sekujur tubuhku. Dan dia tidak
berhenti menciumi bibir, wajah,
leher serta dadaku yang bidang
dan sedikit berbulu.
Tergesa-gesa Linda melepaskan
penutup terakhir yang melekat
di tubuhnya. sehingga tidak ada
selembar benangpun yang masih
melekat di sana. Saat itu
pandangan mataku jadi nanar
dan berkunang-kunang. Bahkan
kepalaku terasa pening dan
berdenyut menatap tubuh yang
polos dan indah itu. Begitu
rapat sekali tubuhnya ke
tubuhku, sehingga aku bisa
merasakan kehangatan dan
kehalusan kulitnya. Tapi aku
masih tetap diam, tidak tahu
apa yang harus kulakukan.
Linda mengambil tanganku dan
menaruh di dadanya yang
membusung padat dan kenyal.
Dia membisikkan sesuatu, tapi
aku tidak mengerti dengan
permintaannya. Sabar sekali dia
menuntun jari-jari tanganku
untuk meremas dan memainkan
bagian atas dadanya yang
berwarna coklat kemerahan.
Tiba-tiba saja Linda. menjambak
rambutku, dan membenamkan
Wajahku ke dadanya. Tentu
saja aku jadi gelagapan karena
tidak bisa bernapas. Aku ingin
mengangkatnya, tapi Linda
malah menekan dan terus
membenamkan wajahku ke
tengah dadanya. Saat itu aku
merasakan sebelah tangan
Linda menjalar ke bagian bawah
perutku.
"Okh...?!".
Aku tersentak kaget setengah
mati, ketika tiba-tiba
merasakan jari-jari tangan
Limda menyusup masuk ke balik
celana dalamku yang tipis, dan..
"Linda, apa yang kau
lakukan...?" tanyaku tidak
mengerti, sambil mengangkat
wajahku dari dadanya.
Linda tidak menjawab. Dia malah
tersenyum. Sementara
perasaan hatiku semakin tidak
menentu. Dan aku merasakan
kalau bagian tubuhku yang vital
menjadi tegang, keras dan
berdenyut serasa hendak
meledak. Sedangkan Linda malah
menggenggam dan meremas-
remas, membuatku mendesis
dan merintih dengan berbagai
macam perasaan berkecamuk
menjadi satu. Tapi aku hanya
diam saja, tidak tahu apa yang
harus kulakukan. Linda kembali
menghujani wajah, leher dan
dadaku yang sedikit berbulu
dengan ciuman-ciumannya yang
hangat dan penuh gairah
membara.
Memang Linda begitu aktif
sekali, berusaha membangkitkan
gairahku dengan berbagai
macam cara. Berulang kali dia
menuntun tanganku ke
dadanya yang kini sudan polos.
"Ayo dong, jangan diam saja...",
bisik Linda disela-sela tarikan
napasnya yang memburu.
"Aku..., Apa yang harus
kulakukan?" tanyaku tidak
mengerti.
"Cium dan peluk aku...", bisik
Linda.
Aku berusaha untuk menuruti
semua keinginannya. Tapi
nampaknya Linda masih belum
puas. Dan dia semakin aktif
merangsang gairahku.
Sementara bagian bawah
tubuhku semakin menegang
serta berdenyut.
Entah berapa kali dia
membisikkan kata di telingaku
dengan suara tertahan akibat
hembusan napasnya yang
memburu seperti lokomotif tua.
Tapi aku sama sekali tidak
mengerti dengan apa yang d
ibisikkannya. Waktu itu aku
benar-benar bodoh dan tidak
tahu apa-apa. Walau sudah
berusaha melakukan apa saja
yaang dimintanya.
Sementara itu Linda sudah
menjepit pinggangku dengan
sepasang pahanya yang putih
mulus. Linda berada tepat di
atas tubuhku, sehingga aku
bisa melihat seluruh lekuk
tubuhnya dengan jelas sekali.
Entah kenapa tiba-tiba sekujur
tubuhku menggelelar ketika
penisku tiba-tiba menyentuh
sesuatu yang lembab, hangat,
dan agak basah. Namun tiba-
tiba saja Linda memekik, dan
menatap bagian penisku.
Seakan-akan dia tidak percaya
dengan apa yang ada di depan
matanya. Sedangkan aku sama
sekali tidak mengerti. PadahaI
waktu itu Linda sudah
dipengaruhi gejolak membara
dengan tubuh polos tanpa
sehelai benangpun menempel di
tubuhnya.
"Kau...", desis Linda terputus
suaranya.
"Ada apa, Lin?" tanyaku polos.
"Ohh...", Linda mengeluhh
panjang sambil
menggelimpangkan tubuhnya ke
samping. Bahkan dia langsung
turun dari pembaringan, dan
menyambar pakaiannya yang
berserakan di lantai. Sambil
memandangiku yang masih
terbaring dalam keaadaan
polos, Linda mengenakan lagi
pakaiannya. Waktu itu aku
melihat ada kekecewaan
tersirat di dalam sorot
matanya. Tapi aku tidak tahu
apa yang membuatnya kecewa.
"Ada apa, Lin?", tanyaku tidak
mengerti perubahan sikapnya
yang begitu tiba-tiba.
"Tidak..., tidak ada apa-apa,
sahut Linda sambil merapihkan
pakaiannya.
Aku bangkit dan duduk di sisi
pembaringan. Memandangi Linda
yang sudah rapi berpakaian.
Aku memang tidak mengerti
dengan kekecewannya. Linda
memang pantas kecewa, karena
alat kejantananku mendadak
saja layu. Padahal tadi Linda
sudah hampir membawaku
mendaki ke puncak kenikmatan.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net