ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Menik Dan Ayah Angkatnya

Menik adalah sepupuku. Gadis
cantik yang penampilan sehari-
harinya lincah lagi polos ini dari
penampilan luarnya seolah-olah
dia seperti seorang perawan
lugu yang belum mengerti
hubungan dengan lelaki, tapi
siapa mengira dibalik itu dia
justru punya skandal dengan
ayah angkatnya sendiri.
Keintiman ini sudah bermula di
antara Menik dengan ayah
angkatnya sejak dari Menik
berusia 14 tahun. Menik yang
pertumbuhannya mulai
meningkat remaja dan semakin
cantik serta menggiurkan,
sudah dijadikan alat bantu ayah
angkatnya untuk mengisi
kesepiannya setelah beberapa
bulan ditinggal mati istrinya.
Menik adalah keponakan dari
almarhum istri Pak Hendro.
Awalnya, sesaat setelah
menduda, Pak Hendro yang
seorang staf perusahaan
perminyakan dipindah-tugaskan
ke Sumatera. Dia berangkat
dengan mengajak Menik
menemaninya di tempat tugas
barunya. Hari-hari berlalu, di
tempat yang sepi kurang
hiburan itulah perhatian Pak
Hendro yang kesepian mulai
tertuju kepada Menik yang
saat itu sedang bertumbuh
semakin cantik dan
menggiurkan. Pendekatannya
pun mudah, karena Menik
memang akrab sekali dengan
ayah angkatnya ini, sehingga
dibujuki sedikit saja dia pasti
menurut.
Mulailah Menik diperlakukan
sebagai teman bercinta Pak
Hendro mengganti ketiadaan
istrinya, hanya saja dengan
cara terbatas. Setiap bertemu
di rumah, Pak Hendro selalu
mengerjai Menik, mulai dari
sekedar dipeluk-peluki, diciumi,
atau digeluti. Lalu meningkat
lebih jauh mulai diajak tidur
bersama untuk dicumbui dan
digerayangi seputar tubuh
gadis remaja itu. Dan
berikutnya lagi makin saling
terbuka, telanjang bulat mandi
bersama dan mulai dinikmati
tubuh polos gadis itu lewat
remasan gemas dan kecap
mulut di bagian-bagian
kewanitaannya. Sampai
akhirnya Menik mulai diajari
cara-cara oral seks, menghisapi
kemaluan untuk memberi
kesenangan bagi lelaki.
Pokoknya tidak ada lagi yang
disembunyikan di antara
mereka. Namun begitu, satu hal
yang masih dijaga Pak Hendro,
yaitu dia masih tidak tega
untuk memasukkan
kemaluannya untuk merenggut
keperawanan Menik.
Sedikit mengulas keakraban
mereka, bisa dilihat dari
bagaimana pertemuan mesra
mereka ketika hari itu Pak
Hendro pulang dari urusan di
Jakarta selama lima hari. Baru
saja bertemu di rumah, sudah
disambut Menik yang meloncat
senang, menggelendot di leher
dan kaki membelit di pinggang
ayah angkatnya. Pak Hendro
juga sama rindunya dengan
gadis manja kesayangannya ini,
tapi tidak terang-terangan di
ruang tamu, melainkan
menggendong dulu membawa
Menik ke kamar tidur, baru dari
situ langsung didekap dan
diciuminya bertubi-tubi seputar
wajah si gadis untuk kemudian
menutupnya dengan ciuman
bibir bertemu bibir. Sebentar
saja keduanya sudah saling
meluapkan kerinduan dengan
saling melumat dalam dengan
sepenuh perasaan sebelum
kemudian terlepas, dan Menik
turun dari gendongan untuk
membantu membereskan
barangbarang bawaan Pak
Hendro sambil saling
menceritakan keadaan masing-
masing selama berpisah.
Selepas itu, barulah acara
membersihkan badan.
Setelah Menik selesai membuka
keran bak rendam, "Ayo mandi
sama-sama Yayah, Nik..?" kata
Pak Hendro mengajak yang
segera dianggukkan Menik dan
langsung membuka bajunya
sendiri mengikuti Pak Hendro
yang sudah lebih dulu
bertelanjang.
Yayah adalah panggilan manja
Menik kepada Pak Hendro.
Begitu selesai, dia pun segera
mendekati Pak Hendro yang
saat itu sudah akan bergerak
ke kamar mandi.
"Ntar dulu Yah, gendong dulu
dong..!" katanya dengan manja.
Menahan langkah Pak Hendro,
dia pun meloncat ke pelukan
ayah angkatnya itu.
Bergelendot manja lagi di leher
dengan kedua kaki membelit
pinggang Pak Hendro seperti
tadi, dia pun langsung
digendong dibawa ke kamar
mandi.
Berikutnya di bak kamar mandi,
keduanya mandi bersama
dengan saling membantu
menyabuni dan menyirami tubuh
masing-masing. Pada waktu itu
jika melihat bentuk tubuh Pak
Hendro, kesannya memang
angker dengan sosoknya yang
tegap dan gempal, termasuk
juga ukuran alat vital yang
dimilikinya yang cukup lumayan
besar. Tapi bagi Menik yang
sudah biasa begini, tentu saja
kesan menakutkan tidak ada
lagi. Malah dia paling suka kalau
disuruh mempermainkan batang
kemaluan ayah angkatnya ini,
karena ada rasa geli-geli
senang jika merasakan batang
yang semula lemas, besarnya
hanya seukuran lebih besar
sedikit dari jempol kaki itu,
akan mekar mengembang lipat
dua dalam genggaman
kulumannya, menjadi panjang
dan besar seukuran pisang
ambon. Seperti juga saat ini,
sambil menyabuni tubuh Pak
Hendro, dia menyempatkan
mempermainkan batang
kejantanan itu. Terasa olehnya
batang itu sudah menegang
setengah keras.
Begitulah kegiatan yang sering
mereka lakukan, sampai dengan
selesai membersihkan tubuh dan
keluar dari bak mandi, terlihat
lagi milik ayah angkatnya. Hal ini
membuat Menik tertarik,
karena dari tadi batang itu
masih setengah menegang saja.
Keduanya masih belum menyeka
tubuh mereka dengan handuk
saat itu.
"Iddih Yah, kok dari tadi masih
keras aja sih. Padahal udah
bolak-balik Nik guyur pake aer
dinginO" kata Menik dengan
nada khas remajanya yang
polos sambil mengulurkan
tangannya memegang batang
itu.
Pak Hendro hanya tersenyum
geli, "Iya, itu tandanya dia udah
kepengen disayang-sayangin
lagi sama Mbak Niknya."
"Tapi.., kata Yayah di Jakarta
mau dipakein ke lobangnya
orang perempuan. Emang nggak
sempet ya Yah ?" tanya Menik
meskipun masih muda sekali tapi
sudah diberi pengertian
tentang arti hubungan seks
yang sebenarnya.
"Sempet sih sempet, tapi
ketemu Mbak Niknya kan tetep
aja kangen."
Menik tersenyum senang
mendengarnya. Dia mengocok
sebentar batang itu sambil
berkata,
"Mau Ning isepin sekarang ya
Yah..?" tanyanya menawarkan
permainan yang sudah biasa
dilakukan sesuai ajaran Pak
Hendro.
"Sebentar, sebentar, Yayah
mau puas-puasin dulu sama
Kamu." kata Pak Hendro.
Tanpa menunggu jawaban
Menik, dia sudah langsung
membawa si gadis ke dekat
meja washtafel dan
mendudukkan Menik di situ.
Meja itu cukup tinggi, sehingga
dengan hanya sedikit
membungkuk dan menundukkan
kepalanya Pak Hendro sudah
bisa mencapai kedua susu
Menik. Langsung saja bukit dada
si gadis yang meskipun masih
remaja tapi sudah cukup
menonjol mengkal itu dilahap
dan disedot serta dihisap
bergantian dengan rakus.
Menik yang sudah terbiasa
begini hanya meringis-ringis
kegelian, membiarkan ayah
angkatnya sibuk menghisapi
susunya, sementara dia sendiri
menjulurkan tangannya
membantu meremas-remas
penis Pak Hendro.
Ada beberapa saat Pak Hendro
memuaskan mulutnya di bagian
itu sampai kemudian menggeser
mulutnya turun ke arah liang
keperawanan Menik. Sambil
begitu dia meminta Menik
bersandar ke dinding kaca di
belakangnya untuk kemudian
mengangkat kedua kaki Menik.
Telapaknya diletakkan di tepi
meja, sehingga Menik jadi
terkangkang dengan kemaluan
terkuak lebar-lebar. Sekarang
bagian kemaluan perawan
remaja yang masih gundul belum
ditumbuhi bulu-bulu itu jadi
sasaran kecap mulut Pak
Hendro. Bukit daging kemerah-
merahan ini disosornya sama
rakusnya, diikuti jilatan dan
gigitan-gigitan kecil di kelentit
yang diterima Menik sesekali
menjengkit-jengkit dan
merengek kegelian.
"Aaaa ge-yyi YaahO hiiii ssshh
Yayahh nyangan di gigitt gi-tu
YahhO" nada manja
kekanakkanakannya pun mulai
terdengar, tanda dia juga
senang diperlakukan begini oleh
ayah angkatnya.
Disini pun Pak Hendro cukup
lama memuaskan kecap
mulutnya sebelum kemudian
berhenti dan mengangkat
kepalanya.
"Ayo Nik.., tempel-tempelin dulu
di punyakmu biar tambah cepet
kepengennya biar nanti lebih
gampang keluarin aernyaO"
kata Pak Hendro meminta.
Yang begini pun bagi Menik
sudah terbiasa, tanpa
menunggu diminta dua kali
diturutinya permintaan ini
dengan mengambil batang
kejantanan Pak Hendro yang
sudah menegang itu dan
menempelkan ujung kepala
bulatnya digesek-gesekkan di
mulut lubang kemaluannya.
Reaksinya cepat karena
sebentar kemudian dilihatnya
air muka Pak Hendro menegang
diburu nafsunya, sementara
bagi Menik sendiri main-main
seperti ini juga selalu
menimbulkan perasaan aneh
tersendiri baginya. Rangsangan
asyik yang masih belum dikenal
artinya, bergejolak di dalam
perutnya dan membuat liang
keperawanannya seolah gatal
ingin memasukkan batang ini ke
dalam lubangnya. Ada rasa
menuntut di situ, apalagi jika
ujung batang kejantanan itu
makin ditekan sedikit ke dalam,
semakin penasaran rasa enak
yang ingin diraihnya.
Dalam keadaan begini, praktis
Menik sudah tenggelam pasrah
dituntut berahi nafsunya, maka
tinggal ditekan lebih jauh pasti
akan disambut Menik dan
berarti sudah bisa Pak Hendro
menggagahi remaja polos itu.
Tapi di sinilah hebatnya disiplin
pribadi Pak Hendro demi
sayangnya kepada anak
angkatnya. Walau setiap kali
berisengnya sudah sampai
sedemikian kritis, tapi selalu
saja dia bisa menahan diri untuk
menghindar. Sesaat sebelum
pikirannya buntu, dia pun cepat
mencabut batangnya sambil
membawa tubuh Menik turun
dari meja washtafel.
Menik mengira bahwa
sekaranglah saatnya dia diminta
untuk melakukan locokan
hisapnya guna membantu Pak
Hendro mencapai tuntutan
kelelakiannya. Tetapi rupanya
ada perubahan acara, Pak
Hendro ingin menyelesaikannya
dengan cara lain. Dia tetap
menyuruh Menik berdiri di
depannya untuk kemudian dia
sendiri sedikit menekuk kakinya
merendahkan tubuhnya, dari
situdia meletakkan batang
kejantanannya terjepit di
selangkangan Menik, persis
menempel di bawah
kemaluannya.
"Nah, Yayah mau coba bikin gini
aja, nggak usak pake dilocok
tangan." katanya seraya mulai
memainkan pantatnya maju
mundur.
Caranya persis seperti sedang
bersetubuh dalam posisi berdiri,
hanya saja batang
keperkasaannya tidak
dimasukkan ke lubang
senggama Menik. Sambil
menggoyang keluar masuk
batangnya yang tergesek-
gesek di celah liang keperawan
Menik, Pak Hendro juga
menambahi rasa dengan
mendekap Menik, mengajaknya
berciuman hangat. Diimbangi
oleh Menik dengan juga
merangkul ketat leher Pak
Hendro, membalas saling
melumat bergelut lidah.
Ternyata meskipun tidak
sempurna, tapi cara begini bisa
juga membuat Pak Hendro
mencapai ejakulasinya. Sebentar
kemudian dia pun tiba di
puncaknya dengan
menyemburkan cairan maninya,
tanda dia sudah bisa mengakhiri
permainan dengan lega. "tulah
permainan iseng sehari-hari Pak
Hendro dengan Menik yang
boleh dibilang kritis karena
cuma tinggal memasukkan
batangnya ke liang
keperawanan Menik saja yang
belum dilakukan Pak Hendro.
Tapi yang begini cuma
sementara. Cara hidup unik ini
bagi Menik pengaruhnya besar
juga. Bagaimana tidak, kalau
mengikuti perkembangan cara
mereka, rasanya cuma tinggal
tunggu waktu saja untuk Menik
mendapatkan rasa seks yang
sebenarnya. Apalagi belakangan
ini Menik pernah menyaksikan
sendiri bagaimana adegan
hangat ayah angkatnya yang
bercinta dengan Mbak Tikah,
seorang gadis pemijit yang
sering dipanggil Pak Hendro
untuk memijit di rumahnya, tapi
sekaligus sebagai tempat
penyaluran tuntutan kelelakian
Pak Hendro.
Dari sejak awal Menik sudah
curiga bahwa ayah angkatnya
punya hubungan intim dengan
Tikah, gadis pemijit yang
diperkenalkan oleh sopir pribadi
mereka. Karena dalam acara
memijit yang biasa mengambil
tempat di ruang baca itu,
mereka berdua selalu mengunci
pintu berlama-lama di situ.
Memang mulanya kelihatan
biasa-biasa saja, tapi pernah
sekali Menik memergoki bahwa
tubuh Tikah secara mencuri-curi
sering digerayangi tangan Pak
Hendro. "ni yang membuat Menik
penasaran dan suatu waktu dia
sengaja mengatur waktu untuk
membuktikan sendiri sampai
dimana hubungan Pak Hendro
dengan Tikah.
Begitulah suatu kali kesempatan
Pak Hendro minta dipijit Tikah di
tempat biasa di ruang baca,
Menik yang tadi pura-pura
pamitan ke rumah teman
padahal sudah menyelinap
bersembunyi di kolong ranjang
ruang tidur pak Hendro
menunggu kesempatan untuk
mengintip. Di antara kedua
ruang baca dan ruang tidur Pak
Hendro ada pintu penghubung,
Menik menunggu sampai dirasa
aman baru dia mengendap-
endap mencapai pintu
penghubung dengan rasa
tegang karena didapatinya
suasana kamar sebelah sepi
sekali. Di lubang pintu
penghubung itu sebagaimana
pintu-pintu lainnya juga
dipasang sehelai gordyn tebal.
Biasanya pintu ini juga dikunci
oleh Pak Hendro kalau sedang
berdua dengan Tikah, tapi
karena diketahuinya Menik
tidak di rumah maka Pak
Hendro sudah merasa aman
dengan membiarkan pintu itu
terbuka, sehingga Menik punya
kesempatan mengintip ke situ.
Apa yang ditunggu Menik
memang tepat, bahkan
kebetulan sekali karena
rupanya saat itu sudah masuk
di babak Pak Hendro akan
mengerjai Tikah. Mereka sudah
langsung mulai karena begitu
Menik melihat ke dalam, dia
sudah mendapatkan bagaimana
keduanya sudah bersiap-siap
untuk masuk ke permainan seks
dengan Pak Hendro. Saat itu
sedang merangsang berahi
Tikah. Di situ sambil masih tetap
berada di atas permadani tebal
tempat mereka biasa memijit,
nampak Pak Hendro yang
berbaring telentang sedang
menggerayangi tubuh Tikah
yang duduk di atas perutnya.
Waktu itu kedua posisi mereka
agak membelakangi Menik,
sehingga tidak bisa terlihat
jelas, tapi Menik bisa melihat
bahwa tangan Pak Hendro
sedang bermain meremas-remas
susu Tikah yang masih tertutup
kain. Tikah dalam acara memijit
ini mengenakan sehelai handuk
yang dililit sebatas dadanya.
Berdebaran tegang Menik
menonton pemandangan di
depannya, nampak Tikah
mandah saja menggeliat-geliat
kegelian dengan muka genit
malu-malu kegelian mendapat
gerayangan nakal Pak Hendro
di kedua susunya. Malah dia
kemudian membungkukkan
tubuhnya mengikuti pelukan
Pak Hendro, menyandarkan
kepalanya manja di dada Pak
Hendro. Sebentar keduanya
saling merapat pipi bertemu pipi
seperti ada yang dibisikkan Pak
Hendro di telinga Tikah, karena
tiba-tiba Tikah bangun duduk
tegak dan berikutnya masih
dengan muka genit malu-malu
Tikah membuka lepas handuk
penutupnya menampilkan bebas
tubuh telanjangnya. Karena di
balik kain tadi Tikah memang
tidak mengenakan pakaian
dalam. Sekarang melihat
bagaimana Tikah sedang
menyodorkan bagian
kewanitaannya untuk dinikmati
Pak Hendro, hal ini membuat
Menik semakin tertarik
penasaran. Memang tubuh Tikah
tidak semulus dan secantik
Menik, tapi berharap pada
adegan kelanjutannya
menimbulkan rangsangan hebat
pada Menik, disamping juga rasa
kepingin tahu yang besar ingin
melihat bagaimana caranya
pasangan laki perempuan
bersanggama.
Sekarang terlihat gerakan Pak
Hendro bangun duduk,
sementara Tikah hanya
mengangkat duduknya berlutut
merapat pada Pak Hendro.
"AhsshhO" terdengar Tikah
mengerang dan setelah itu
menggigit bibirnya malu-malu
geli ketika dia mulai mendapat
rangsangan Pak Hendro
sekaligus di dua tempat, yaitu
mulut Pak Hendro melahap
sebelah puncak susunya dan
sebelah tangan Pak Hendro
bekerja mengusap-usap tengah
selangkangannya.
Rangsangan mulai meningkat
dengan makin sibuknya Pak
Hendro berpindah-pindah
mengenyoti kedua susunya,
sementara tangan yang di
selangkangan juga bergerak-
gerak seperti sedang meremas-
remas sambil pasti ikut mengiliki
kelentitnya, geli asiknya mulai
diterima Tikah terbaca dari
mimik wajahnya yang sekarang
merona merah dalam mata
terpejam serius dan bibir
setengah merekah tegang.
Sesekali ada gerakan Tikah
mengejang kegelian dengan
menarik pantatnya menungging,
tapi tidak menghindar
membiarkan tubuh telanjangnya
dipuasi Pak Hendro. Sebelah
tangannya malah membantu
menonjolkan bukit susunya
tersodor dikecapi Pak Hendro,
sedang sebelah tangan lagi
bertopang di pundak Pak
Hendro. Ada beberapa saat
seperti itu, tapi di tengahnya
ada gerakan baru, yaitu
sebelah tangan Pak Hendro
yang bebas mulai merangsang
kejantanannya dengan
menggenggam dan meremas-
remas batangnya agar menjadi
lebih kaku.
Semua ini dari tempat mengintip
Menik cukup jelas dilihat,
karena jaraknya cuma sekitar 3
meter dan posisi Tikah
sekarang agak serong
menghadap ke arahnya.
Rupanya acara merangsang
gairah berahi Tikah dan
membangkitkan kejantanan
sendiri oleh Pak Hendro,
meskipun sebentar tapi sudah
dianggap cukup, karena Pak
Hendro baru saja berhenti dan
meminta Tikah mengambil posisi
berbaring menelentang tetap di
atas permadani itu. Mereka
nampaknya mempersingkat
waktu agar tidak terlalu lama
dan dicurigai para penunggu
rumah.
Tikah langsung berbaring
mengangkang sesuai
permintaan Pak Hendro,
matanya ditutup rapat-rapat
menunggu Pak Hendro
mengatur posisinya untuk mulai
memasukkan batang
kejantanan ke liang
senggamanya. Merapat dia
dengan kedudukkan tegak
berlutut, kedua paha Tikah
ditumpangkan ke atas masing-
masing pahanya, sebentar Pak
Hendro masih melocoki batang
kejantanannya sendiri yang dari
tadi tetap dipegangi terus,
sementara tangan sebelah jari-
jarinya membasahi lubang
kewanitaan Tikah dengan
ludahnya agar membuat lebih
licin lagi. Sebentar kemudian
batang kaku Pak Hendro mulai
dimasukkan ke liang kewanitaan
Tikah, Menik membaca mimik
wajah Tikah agak mengernyit
dengan kedua kelopak matanya
yang terpejam erat. Rahangnya
menganga kaku menunggu
batang ditusukkan ke
kemaluannya dan yang mulai
dimainkan Pak Hendro keluar
masuk pelan-pelan.
Ternyata reaksi yang ingin
dilihat Menik mulai nampak.
Tikah ketika mulai bisa
menyesuaikan dengan penis
yang baru diterimanya,
langsung mendapatkan rasanya.
Tegang wajahnya pun
mengendor terganti dengan
bersemu asyik yang membawa
pinggulnya bergerak mengocok
mengimbangi gerak menggesek
batang keluar masuk liang
senggamanya. Makin lama makin
tambah hangat rasa garukan
enak itu, apalagi ditambahi Pak
Hendro dengan kedua
tangannya memilin-milin puting
masing-masing susunya, gerak
geliat Tikah sudah meningkat
panas. Meliuk-liuk dia terlihat
erotis dengan dadanya kadang
diangkat-angkat membusung.
Tapi yang seru adalah
goyangan bibir kemaluannya
yang berputar cepat seperti
tidak sabaran dan sesekali
menanduk-nanduk ke atas
memapak tusukan batang
keperkasaan Pak Hendro yang
juga mulai dipompa agak
kencang.
Menik sampai terasa panas
dingin dan tegang
menontonnya, terpengaruh
rangsangan permainan Tikah
yang menggelora oleh sogokan-
sogokan batang keperkasaan
Pak Hendro. Gerakannya selama
itu berputaran hangat, lebih-
lebih menjelang orgasmenya.
Sayang Menik tidak bisa
mengikuti mimik Tikah, karena
dengan semakin panas itu
wajah Tikah sudah hilang
menyusup di dada Pak Hendro
yang sudah turun menghimpit
mendekapnya erat-erat. Hanya
terakhir sempat dilihat ketika
Tikah berogasme dengan
tubuhnya yang mengejang dan
mengangkat liang
kewanitaannya tinggi-tinggi
seakan ingin ditekan lebih dalam
lagi. Sampai di situ apa yang
ditonton Menik, dan dia buru-
buru ke luar untuk kemudian
berpura-pura datang dari luar
seolaholah tidak mengetahui
apa yang terjadi di dalam
kamar baca itu.
Jadi boleh dibilang secara tidak
langsung, sebetulnya ayah
angkatnya yang menggiring
Menik untuk menuju kebebasan
seks. Sehingga ketika suatu
ketika, Menik menemukan
teman sekolah yang cocok di
hatinya dan kemudian berlanjut
dengan iseng-iseng
mempraktekkan hubungan
sanggama sampai
mengakibatkannya hamil. Ayah
angkatnya tidak bisa
menyalahkan dia karena
menyadari bahwa ini salahnya
sendiri yang terlalu bebas dalam
cara hidup mereka. Tapi untuk
menuntut laki-laki yang
mengerjai Menik sangat berat,
karena keduanya masih remaja
sekali, jalan keluar yang dipilih
adalah menggugurkan
kandungan Menik sebelum
menjadi besar serta
membatasinya bergaul bebas di
luaran lagi.
Menik nampaknya kapok
dengan akibat keisengan
pertamanya itu, tapi untuk bisa
bertahan dari godaan lelaki
berikutnya ternyata ada cara
yang istimewa untuk itu. Yaitu
Menik yang sudah kenal
nikmatnya hubungan seks tidak
dibiarkan menderita menahan
keinginan itu, tapi di rumah dia
justru dapat penyaluran
tersendiri dari siapa lagi kalau
bukan dari ayah angkatnya
sendiri. Sejak itulah Menik mulai
membuat hubungan sanggama
dengan Pak Hendro dengan
maksud agar Menik tidak
mencari di luar lagi, yang
memungkinkan dia mengulang
kecelakaan yang sama. Hanya
saja tentunya dijaga agar tidak
ada satu pun orang luar yang
tahu rahasia keluarga mereka.
Memang, sejak lepas dari
pengalaman pahitnya itu, Menik
jadi seperti uring-uringan dan
untuk mengisi kesepiannya, Pak
Hendro mulai tertarik juga
untuk memanfaatkan Menik.
Tidak heran sebab si cantik
yang meningkat semakin remaja
ini kalau berpakaian sering
minim, mengundang gairah lelaki,
teristimewa bagi Pak Hendro
yang juga sedang kesepian. Tapi
sekalipun sudah akrab dengan
gadis itu, Pak Hendro tidak
langsung main ajak begitu saja.
Dia perlu cara halus karena dia
kuatir Menik masih trauma
dengan pengalaman pahitnya
itu. Pak Hendro mulai
mengadakan pendekatan
dengan membelikan hadiah-
hadiah perhiasan dan mengobral
pemberian uang untuk
meluluhkan hati Menik.
Sampai di suatu siang, dia
membuat surprise dengan
mendatangi kamar Menik.
"Nik, kalok Yayah kasih hadiah
buat Kamu, mau nggak..?"
katanya dengan kedua
tangannya ke belakang seperti
menyembunyikan
sesuatu."Oya..? Hadiah apa
Yah..?"
"Mau tau..? Nih Liat dulu
sebentar..!" kata Pak Hendro
sambil menarik tangannya yang
menggenggam sebuah kotak
perhiasan, membuka tutupnya
memamerkan isinya sebentar.
Namanya sifat perempuan,
begitu melihat perhiasan emas
yang berkilau-kilauan langsung
bersinar cerah wajahnya.
"Buat Menik ya Yah..?"
tanyanya malu-malu.
"Iya.., semua buat Kamu, abis
buat siapa lagi..?"
"Waduh..! "ya Yah, Aku mau..,
seneng banget Aku Yah..!"
Kontan melonjak girang Menik
karena perhiasan yang akan
diberikan kepadanya justru
lebih banyak dari yang sudah
didapat sebelumnya. Tidak
salah, karena Pak Hendro
sendiri saking senangnya dapat
harapan manis Menik sengaja
membelikan lebih banyak
dengan maksud untuk lebih
membujuk gadis itu.
"Tapi ntar dulu, abis ini nanti
temenin Yayah tidur, sekarang
ininya Yayah masukin Yayah
punya ya..?" tanya Pak Hendro
mulai minta kepastian Menik
sambil merapat dan menjulurkan
sebelah tangannya mengusap-
usap selangkangan Menik.
Jelas Menik tahu maksudnya
tapi dia masih ragu-ragu.
"Ngg, tapinya kalok Nik bunting
lagi gimana Yah..?" tanyanya
minta penegasan Pak Hendro.
"OooO jelas Yayah jaga jangan
sampe begitu, nanti Yayah kasih
pilnya.." jawab Pak Hendro
memberi kepastian.
Kali ini Menik mengangguk
meyakinkan ajakan Pak Hendro
karena hatinya sudah keburu
terpaut dengan kilauan emas
yang bakal jadi miliknya.
Perempuan kalau hatinya sudah
merasa dekat, apalagi ditambahi
dengan hadiah-hadiah
perhiasan, maka cepat saja
takluk dalam rayuan.
"Kalok gitu sini, Yayah yang
pakein satu persatu dan Kamu
nurut aja ya..? Tapi sebentar..,
coba kamu pake dulu semua
perhiasan yang Yayah pernah
kasih. Soalnya ini semua satu
setelan, jadi biar lengkap
keliatannya."
Menik mengangguk dan
bergerak mengambil perhiasan
itu di lemarinya, lalu
memasangnya satu persatu
yaitu giwang, kalung, cincin dan
gelang, sementara Pak Hendro
mendekat lalu meletakkan
kotak perhiasan di tempat
tidur. Keempat perhiasan itu
berikut yang ada di dalam
kotak memang memiliki ciri
seragam, yaitu diberi bandul
berbentuk bola-bola berongga
yang di tengahnya diisi bola
kecil lagi, jadi kalau bergerak
akan menimbulkan bunyi yang
bergemerincing.
Menik sendiri masih heran di
mana lagi perhiasan yang ada di
kotak itu akan dipasangi di
tubuhnya, namun begitu dia
diam saja dan sesuai
permintaan Pak Hendro dia
menurut ketika sebuah
perhiasan diambil untuk
dipasangkan padanya.
"Tau nggak Nik, Yayah beli ini
karena liat Kamu cantik, jadi
kepengen dandanin kayak putri
ratu.
Memang keliatan kayak main-
mainan, tapi ini emas asli lho..?
Kalok nggak cocok jangan kasih
siapa-siapa, simpen aja buat
kenang-kenangan. Ayo sini,
tempat pertama pasangnya di
siniO" Menik langsung merasa
geli, karena bagian pertama
yang dipasangi adalah sebuah
cincin hidung model jepit ala
gadis-gadis Arab.
"Nah, sekarang untuk ini Yayah
minta tanda terima kasihnyaO"
Belum sempat Menik mengerti,
tiba-tiba dia sudah dipeluk
lehernya dan bibirnya didarati
bibir Pak Hendro. Agak
gelagapan dia tapi cepat
disambutnya ajakan berciuman
ini dan meningkat sebentar
saling melumat hangat. Ada
beberapa saat baru Pak Hendro
melepas bibirnya, Menik terlihat
sempat terhanyut sebentar
dalam asyiknya bergelut lidah
bertukar ludah barusan.
Bagian kedua adalah sepasang
kalung kaki yang dipakaikan
Pak Hendro dengan meminta
Menik duduk di tempat tidur. "ni
juga menggelikan, karena
merasa persis seperti pemain
kuda lumping dan upah terima
kasihnya juga lucu yaitu
masing-masing betis Menik
diciumi dan dijilat-jilati setelah
kalung itu terpasang.
Yang ketiga, yang paling
membuat Menik geli adalah
ketika Pak Hendro mengambil
sepasang perhiasan payudara
yang pemasangannya dijepit di
puting susu.
"Iddihh.., kok aneh-aneh aja si
Yayah nih..?" kontan cekikikan
geli dia sambil menekapi kedua
buah dadanya dengan
tangannya.
"Ya sudah, kalok masih geli
ditunda dulu. Sini Yayah ambil
tanda terima kasihnya duluan
nanti pasangnya belakangan."
Begitu selesai bicara Pak
Hendro langsung memajukan
kepalanya, mulutnya mendarat
mencaplok sebelah susu Menik
yang membulat montok itu.
"SshhO" Menik mengejang
tertahan sewaktu mulut Pak
Hendro mengenyoti puncak
susunya, mengulum dan menjilati
puting yang berada di dalam
mulut Pak Hendro.
Kali ini geli lain. Geli yang
memberi rangsang menaikkan
berahinya untuk menuju apa
yang nantinya akan diminta Pak
Hendro. Dan ini mulai semakin
terasa karena Pak Hendro agak
berkepanjangan mengisapi dan
meremasi kedua bukit dadanya
bergantian, sehingga geli-geli
enak yang meresap menyulut
bara berahinya yang juga
sudah lama terpendam mulai
menyala lagi. Maklum, Pak
Hendro rupanya gemas
bernafsu dengan kedua susu si
gadis ramping tapi ukurannya
bulat montok menggiurkan ini.
Terbukti ketika Pak Hendro
berhenti dan menarik
kepalanya, terlihat tatapan
mata Menik sudah sayu tanda
sudah dipengaruhi tuntutan
nafsunya. Tapi Pak Hendro
belum selesai, dia segera
memasangkan perhiasan di
kedua puting susu Menik, kali ini
tidak ada penolakan geli lagi.
Selepas itu kedua buah dada
segar mulus yang sudah berhias
anting-anting itu dikecap lagi
oleh mulut Pak Hendro. Ada
rangsang tersendiri baginya
dengan kedua puting yang
tercuat oleh jepitan penahan
bandul, senang menjilat-jilat
ujungnya membuat Menik
bergerak-gerak kegelian,
susunya berayun-ayun
menimbulkan bunyi bandul
bergemerincing.
"AahaawwO ge-yyii Paak.."
Menik merengek manja namun
dia senang dicandai mesra
seperti ini.
"Tambah cantik kan Menik
dihiasin gini, Yayah jadi makin
gemes ngeliatnyaO"
"Iya tapi lucuO Aahsssh PaakO
ca-kiitt..!" baru menjawab sudah
disambung merintih karena
puting berikut bandulnya
dicaplok Pak Hendro.
Dihisap dan dijepit-jepit bandul
itu dengan bibir, menarik-narik
kecil menjadikan putingnya juga
ikut tertarik-tarik terasa perih.
Tapi perih-perih enak yang
makin menambah Menik jadi
makin lebih terangsang.
Sehingga ketika dari situ Pak
Hendro berlanjut dengan
usahanya untuk membuka
celana pendek yang dikenakan
Menik, si gadis mandah saja
malah membantu dengan
mendoyongkan tubuhnya ke
belakang, mengangkat
pantatnya membuat mudah
celana berikut celana dalamnya
dilolosi lepas. Pak Hendro
meskipun dalam dirinya sudah
bergelora nafsunya ingin segera
menyetubuhi remaja cantik
yang menggiurkan ini, tapi dia
cukup pengalaman untuk bisa
menekan emosinya tidak
menunjukkan wajah rakusnya.
"Sekarang yang terakhir ini
Yayah pasangin kalung
perutnyaO" katanya sambil
membelitkan dan mengaitkan
sekali sebuah kalung perut di
pinggang Menik.
Selepas itu tiba-tiba Pak
Hendro menundukkan wajahnya
ke perut Menik. Dikira akan
mengecup bagian perut itu
untuk minta tanda terima kasih,
tapi rupanya lebih ke bawah
lagi. Yaitu ketika kedua tangan
Pak Hendro menyusup dari
bawah kedua pahanya,
membuka jepitan paha itu
sekaligus mengangkat
membuatnya mengangkang. Dia
segera tahu bahwa Pak Hendro
menuju ke liang senggamanya.
Menik memang sudah terbiasa
memberikan kemaluannya
dikerjai mulut Pak Hendro,
cepat ditutupnya matanya
menunggu Pak Hendro
berlanjut, karena dia tahu rasa
apa yang akan didapatkannya
nanti.
Saat itu, begitu mulut Pak
Hendro menempel dan langsung
menyedoti rakus bagian
menganga itu, dalam dua tiga
jurus saja Menik sudah lemas
tulang-tulangnya diresapi
nikmat."AhhnngO" mengerang
dia oleh geli yang terasa
menyengat sampai ke ubun-
ubun, langsung merosot
tubuhnya jadi menelentang rata
punggung ke belakang karena
serasa tangannya tidak kuat
lagi menopang. Lewat lagi
beberapa jurus dia sudah
meliuk-liuk tubuhnya oleh jilatan
lidah terlatih yang mengilik
kelentitnya, menusuk-nusuk
kaku membuatnya semakin
penasaran ingin segera
disetubuhi.
Pak Hendro berhenti untuk
membuka bajunya dan
sementara itu kedua kaki Menik
yang tadi disanggahnya
diletakkan telapaknya di tepi
tempat tidur, tetap membuat
posisi Menik mengangkang lebar.
"Enak kan kalok Yayah bikinin
gini..?" tanyanya menguji sambil
melepasi bajunya satu persatu.
"He-ehhO tappinya jangan lama-
lama Yahh.., nggak kuat AkkuO"
Menik terbata-bata menjawab
jujur kelemahannya kalau liang
kewanitaannya kena disosor
mulut lelaki.
Selesai membuat dirinya sama
bertelanjang bulat, Pak Hendro
kembali meneruskan mengerjai
liang senggama Menik dengan
permainan mulutnya, membuat
si gadis betul-betul matang
terbakar oleh rangsang
nafsunya. Sambil begitu Pak
Hendro sendiri dalam posisi
duduk berlutut mulai melepasi
bajunya tanpa dilihat Menik dan
mulai mempersiapkan batang
kejantanannya untuk bisa
menyalurkan kerinduan
nafsunya sekaligus mengisi
kebutuhan yang dituntut berahi
nafsu Menik.
Cukup lama Pak Hendro
membakar nafsu Menik lewat
hisapan mulut di liang
senggamanya, membuat Menik
hampir hangus menunggu saat
untuk disetubuhi. Tapi sebelum
mulutnya meminta, tiba-tiba
dirasakan tubuhnya ditarik
diajak bangun. Pak Hendro
melingkarkan kedua lengan
Menik di lehernya, Menik cepat
mengetatkan rangkulan
mengikuti ajakan Pak Hendro
yang segera menggendong
untuk memindahkannya dari
posisi semula ke tempat dimana
dia akan segera masuk ke
babak sanggama, karena
dirasanya ada gerakan Pak
Hendro untuk bangkit berdiri.
Memang benar, tapi sebelum
sampai ketempat yang
dimaksud, Menik seperti sudah
akan mendapatkan apa yang
diingininya lebih cepat dari
perkiraannya. Tubuhnya terasa
melayang seiring dengan
gerakan Pak Hendro berdiri
dengan mengangkatnya pada
kedua pahanya, tapi ketika
telah tegak dan gaya berat
tubuhnya menekan lagi ke
bawah, "HahhgO" mengejang dia
karena dirasanya kepala
batang keperkasaan Pak
Hendro mendesak sampai
terjepit di mulut lubang
kemaluannya.
Dan makin memberat dia ke
bawah makin menyodok batang
itu masuk.
Tapi, "HhooghO" kali ini
menggerung tenggorokannya
karena yang berikutnya terasa
ketat dan perih.
Tidak tahan berlanjut, dia pun
mengetatkan lagi rangkulannya
seolah-olah ingin memanjati
tubuh
Pak Hendro naik ke atas lagi.
Celakanya Pak Hendro seperti
tidak mengerti apa yang dialami
Menik, merasa batang
kejantanannya sudah mulai
terjepit masuk, dia mengira
justru Menik yang sudah
mengajak lebih dulu untuk
langsung masuk di babak
sanggama. Dalam posisi seperti
itu dia malah berusaha untuk
memasukkan batangnya lebih
jauh lagi. Kedua kakinya ditekuk
merendah sebentar agar Menik
terduduk menggantung di
pahanya sehingga kedua perut
agak merenggang. Karena
dalam posisi itu dia bisa melepas
sebelah sanggahan tangannya
untuk kemudian membubuhi
ludah di sisa batangnya yang
belum masuk, baru setelah itu
dia berlanjut untuk
membenamkan batang
keperkasaannya.
Sekarang batang ini sudah
masuk sebagian, Pak Hendro
menegakkan tubuhnya lagi dan
sambil berusaha menekan lebih
jauh dengan pintar dia
mengalihkan perhatian Menik
lewat gerakan berjalan seolah-
olah mencari tempat sanggama
yang lebih enak. Memang,
semakin dibenamkan lebih
dalam, terasa olehnya Menik
mencengkeram sambil merintih
kesakitan tapi Pak Hendro
pura-pura tidak mendengar.
"Ssshhgh.. ssakkit YaahhO"
akhirnya tidak tahan juga
suara Menik terdengar
mengutarakan perihnya.
Menik memang sudah hapal
dengan bentuk dan ukuran alat
viltal ayah angkatnya yang
sering dipermainkannya ini, tapi
untuk dimasukkan ke liang
senggamanya baru kali inilah dia
merasakannya.
"Iya, iya, memang agak perih
kalok dibawa jalan-jalan begini.
Sebentar lagi, Yayah mau cari
tempat yang enak buat kita."
buru-buru Pak Hendro
menghibur tapi lega dia karena
dirasanya seluruh panjang
batang kejantanannya sudah
terendam habis.
"Mau dimana Yah..?" tanya
Menik agak heran sambil
menarik kepalanya.
Sekarang bisa terlihat raut
wajahnya yang sudah pucat
pasi lantaran menahan sakit.
"Kita cari tempat yang lebih
enak maennya."
Dengan memondong Menik,
sementara batang
kejantanannya tetap terendam
di liang senggamanya Menik,
Pak Hendro menuju ke ruang
tengah. Di situ di depan TV
terpasang sebuah permadani
berukuran 2?3 meter, kesitulah
rupanya Menik dibawa.
Mengatur posisi Menik
menelentang dengan tetap
menjaga kemaluan tidak
terlepas, begitu selesai Pak
Hendro mulai mengajak Menik
masuk pada babak sanggama
untuk meresap nikmatnya
pertemuan kedua kemaluan ini.
Sanggama ala Pak Hendro yang
unik, sebab bukan saja
pemilihan tempatnya nyentrik
tapi juga caranya terasa asing
bagi Menik. Beda sekali dengan
bekas pacarnya yang dalam
sanggama mereka goyang
pantat dibawa bekerja aktif
memompa penis ke luar masuk
vaginanya, tapi dengan Pak
Hendro justru tidak bergaya
tradisional seperti itu.
Bermain masih dalam keadaan
saling menempel berhadapan
dengan batang kemaluan tetap
terendam dalam, tanpa ada
gerakan menggesek keluar
masuk, Menik dibawa berguling-
guling di seluas permadani itu
seperti seorang anak kecil
sedang diajak bergelut canda
oleh ayahnya. Tetapi lebih cocok
disebut seperti sepasang penari
balet yang sedang beradegan
lantai dalam gaya erotis. Sebab
sementara bergulingan, kadang
Menik di atas kadang pula di
bawah, Pak Hendro mengiringi
dengan kerja mulutnya serta
tangan yang tidak terputus
melanda sekujur tubuhnya dari
mulai atas kepala hingga ke
ujung kakinya.
Di situ kadang dikecup mesra,
dijilati atau digigiti gemas, juga
kadang diusap, dipijat, diremas
di bagian manapun dari tubuh
Menik dapat dicapai mulut atau
tangannya. Menik tidak
ubahnya diperlakukan seperti
boneka permainannya. Boneka
cantik berhias yang semakin
bergemerincing suara bandulnya
semakin membuat hatinya
senang dan asik
menggelutinya.Tapi asyik bukan
hanya buat Pak Hendro, Menik
yang semula masih merasa perih
dan masih pasif mulai
mendapatkan rasa asyik yang
sama, malah lebih lagi. Gaya
baru yang diterimanya ini
terasa begitu mesra
menghilangkan perih yang
diderita. Dan ujung batang yang
tadinya terasa begitu ketat
serta menyodok begitu jauh di
dalam perutnya sekarang
justru dirasakan enak luar
biasa mengorek-ngorek
tuntutan berahinya jadi cepat
terluapkan, melayang-layang
dibuai kenikmatan yang datang
melanda susul menyusul.
"Hsshngg addduuuh YyahhO
sshngh dduhh.. hmm
aaahhghrh..!" begitu dalam
akibatnya sampai-sampai tidak
tertahankan lagi, masih
ditengah asyiknya digeluti Pak
Hendro, Menik sudah
mengerang membuka
orgasmenya satu kali sebelum
berikutnya menyusul lagi secara
bersamaan dengan Pak Hendro.
"ni terasa luar biasa, sebab
kalau biasanya dia merasa
seperti dipaksakan keluarnya
oleh gesekan-gesekan cepat
penis bersama pacar lawan
mainnya, yang ini lebih
melegakan menyalurkannya
lewat geliat-geliat erotis
tubuhnya yang dilipat-lipat oleh
Pak Hendro.
"Aaahnng.. ssshh-dduuh YahhO
Ak-kku klu-ar laggi sshhO
hngmmm shgO" disitu baru
selesai yang satu sudah
menyusul lagi rangsangan
gairah untuk menikmati yang
berikutnya.
Memang akhir dari permainan
sama-sama meletihkan, tapi
kalau saja Pak Hendro masih
bisa bertahan lebih lama lagi
rasa-rasanya Menik akan
sambung menyambung orgasme
yang bisa dicapainya. Betul-
betul suatu permainan yang
unik mengesankan, karena
dengan hanya menanam batang
dalam-dalam saja sudah
membuat Menik terpuaskan
secara luar biasa.
Begitulah, permainan serasa
mimpi indah yang dialami Menik
dalam hubungan pertama ini
sudah langsung membuat Menik
ketagihan kepada Pak Hendro.
"Gimana, puas nggak maen gini
sama Yayah..?" tanya Pak
Hendro menguji apa yang
barusan dialami Menik.
"Itu sih bukan puas lagi, tapi
mabok namanya.. Gimana nggak,
sekali tancep tapi Aku sampe
tiga kali ngeluarinnyaO Yayah
pinter aja ngerjain AkuO" jawab
Menik mengakui apa yang
didapatnya sekaligus
menyatakan pujian kagumnya
kepada kehebatan Pak Hendro,
"Tapinya lemes banget
Aku Pak.." lanjutnya sambil
menyusupkan kepalanya manja-
manja sayang di dada Pak
Hendro.
Sejak itu Menik memang tidak
pernah sungkan-sungkan
meminta kalau sedang ingin
digauli ayah angkatnya. Seperti
misalnya tengah malam itu Pak
Hendro terbangun agak kaget
karena dia merasakan
seseorang naik berbaring di
sebelahnya. Segera dia
mengenali bahwa Menik yang
barusan naik berbaring
memunggungi di sebelahnya. Pak
Hendro tersenyum mengerti
bahwa
Menik yang sudah seminggu
tidak digauli karena haid,
sekarang rupanya sudah selesai
dan tentu sudah kepingin lagi
disetubuhinya. Tanpa bertanya
dia pun mengembangkan
selimutnya menutupi Menik dan
berbalik merapati memeluk si
gadis dari belakang.
Betul juga, ketika sebelah
tangannya disusupi sekaligus
menyingkap gaun tidurnya
untuk meremasi susunya,
terasa olehnya bahwa Menik
makin menempelkan pantatnya
yang tidak mengenakan celana
dalam itu ke jendulan batang
kemaluannya. Pak Hendro makin
menggoda, dia memindahkan
tangannya merabai jendulan
kemaluan Menik dari arah
belakang pantatnya. Sebentar
diusap-usapnya liang senggama
yang terjepit itu, Menik pura-
pura diam saja. Begitu juga
waktu Pak Hendro mulai
mencolokkan satu jarinya ke
dalam jepitan itu, masih belum
ada reaksi Menik. Tapi waktu
jari itu mulai digesek sambil
mengorek-ngorek ada
beberapa lama terasa Menik
mulai tidak tahan dan mulai
menggelinjang sambil merintih.
"Sssh udah Yaah ja-ngann pake
ta-ngannO, nggak en-nakkO"
"Pake apa dong enaknya..?"
bisik Pak Hendro menggoda.
"Macupinn kontol Yayahh ajaaO"
jawab Menik dengan logat
manja kekanak-kanakan.
Pak Hendro segera berhenti
dan Menik memang tidak perlu
meminta dua kali karena jelas
ayah angkatnya sudah tahu
keinginannya. Terbukti Pak
Hendro sudah memasangkan
guling di depannya yang
langsung dipeluk kedua kaki
Menik sehingga posisi vaginanya
lebih menungging, ini
dimaksudkan agar lebih mudah
dimasuki pada posisi itu.
Dan sebentar kemudian
dirasakannya Pak Hendro yang
sudah melorotkan celananya
membebaskan kemaluannya
mulai menempelkan batangnya
di depan liang kewanitaannya
Menik. Baru saja bertemu kedua
kemaluan telanjang itu, Menik
sudah langsung menjulurkan
tangannya untuk melakukan
sendiri menggosok-gosokkan
kepala kejantanan Pak Hendro
di mulut lubang senggamanya.
Dari caranya yang tidak
sabaran, Pak Hendro semakin
yakin bahwa Menik betulbetul
sedang kepingin sekali. Dia
membiarkan dulu menunggu
sampai batangnya mengencang
baru kemudian dia mengambil
alih lagi untuk memasukkan
batangnya itu.
Dibasahi dulu dengan ludahnya
seputar kepala batangnya,
setelah itu mulai disesapkan
terjepit di mulut lubang
kewanitaan Menik. Begitu
terasa mulai masuk, segera
disambung dengan disogok
pelan-pelan sambil menekan
semakin lama semakin dalam.
Sampai di batas yang bisa
dicapai, barulah dia menunda
dan kembali merapat mendekap
Menik. Menyusupkan lagi
tangannya meremasi kedua
susu sambil diiringi mengecupi
leher si gadis yang langsung
berbalik menoleh dengan mimik
wajah terlihat senang.
"Ahss enak Yaahh..!" komentar
pertama Menik.
"Udah kepengen sekali ya
Nduk..?" tanya Pak Hendro
tersenyum manis.
"He-ehh udah ampir seminggu
nggak gini sama Yayah, Nik
nggak bisa tidur Yah..!"
"Seneng ya memeknya
dimasukin punya Yayah kayak
gini..?"
"Ceneng Yah , enyak diogok-
ogok ontol Eede Yayah.."
jawabnya kembali dengan logat
manja kekanak-kanakannya.
"Ya udah, sekarang bobo deh
sambil Yayah ogok-ogok supaya
tambah pules bobonya "
Menik membalikkan lagi
kepalanya membelakangi Pak
Hendro, seolah-olah mengikuti
anjuran ayah angkatnya yang
akan membuatnya tidur enak
dengan menyogok-nyogokkan
batang kejantanan di liang
senggamanya, tapi ketika
terasa batang itu mulai
dimainkan keluar masuk pelan,
dia ternyata terbawa
memainkan juga pinggulnya
mengocok pelan seirama
gerakan Pak Hendro. "rama
permainan ini tidak meningkat
hangat seperti biasanya,
karena masing-masing seperti
ingin bermain berlambat-lambat
dengan membatasi gerakan-
gerakan mereka, tapi nikmat
yang dirasa tidak kalah
enaknya dibanding biasanya.
Malah permainan kalem ini
terasa lebih mengasyikkan
dengan mengkonsentrasikan
pada gelut kemaluan yang lebih
banyak ditekan dan diputar
dalam-dalam diikuti penyaluran
gemas-gemas nafsu pada
remasan-remasan yang
mencengkeram ketat. Begitu
juga seperti ingin mencegah
suaranya terlepas kendali,
Menik menutupi wajahnya
dengan bantal dan
menggigitnya erat-erat. Pak
Hendro memainkan terus
batang keperkasaannya
membuatnya bisa menyusul
Menik tepat pada waktunya.
Karena ketika terasa Menik
mulai berorgasme, Pak Hendro
pun tiba bersamaan di saat
ejakulasinya.
Permainan selesai dan
bersambung acara tidur bagi
Menik, tapi Pak Hendro masih
ingin merapihkan diri dulu.
Dibantu Menik sendiri yang
mengangkangkan kedua
kakinya lebar-lebar, Pak Hendro
segera menyeka bersih bekas-
bekas cairan di lubang kemaluan
Menik. "ni memang satu
kebiasaan si manja yang kalau
selesai sanggama dan
tertumpah oleh cairan mani dia
selalu malas untuk mencuci,
sehingga harus Pak Hendro
yang membantunya. Begitu
ketika dirasa sudah bersih,
barulah Pak Hendro menyusul
tidur memeluki Menik.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net