ramon84.net
CERITA MAKCIAT
ML Dengan Ce Jepang

Kisah ini terjadi beberapa bulan
silam, saat kapal tempatku
bekerja merapat di pelabuhan
Yokohama, Jepang. Hari itu salju
turun dengan derasnya, maklum
saat itu pertengahan bulan
desember. Setelah kapal kami
selesai merapat didermaga
dengan sempurnanya, Nakhoda
saya, yang orang Jepang,
mengajak saya jalan-jalan
kerumahnya. Rumah Nakhoda
saya itu tidak jauh dari areal
pelabuhan Yokohama, kami
cukup naik taksi sekitar 10
menit saja. Sesampai di
rumahnya, saya diperkenalkan
dengan istri dan anak-anaknya.
Harus diakui bahwa anak
perempuan sulung Nakhoda
saya, memiliki kecantikan raut
wajah yang betul-betul asli
Jepang, dengan kulit yang
kuning, mata sipit dan body
yang aduhai. Saya begitu
terkesima dengan
kecantikannya, dan sempat
berkhayal yang bukan-bukan.
Kami saling berjabat tangan dan
mengucapkan salam perkenalan.
"Hi, nice to meet you," kata
anak Nakhoda saya itu.
"You too," jawabku.
"What is your name?" tanya
gadis itu.
"IEm Robert, and you?,"
jawabku sambil menanyakan
namanya.
"My name, Ayumi, " jawabnya.
Selanjutnya kami duduk di
ruang tamu dan bercerita
ngalor-ngidul, bersama-sama
dengan ibu, ayahnya dan adik-
adiknya. Saat kami bercerita,
sesekali saya berusaha
mencuri-curi pandang kearah
Ayumi, terutama ke bagian
pahanya yang putih mulus. Hal
itu membuat penisku sering
ereksi sendiri. Namun sejauh itu
saya masih berusaha untuk
dapat mengendalikan diri.
Setelah kurang lebih satu jam
kami saling berbagi cerita,
Nakhodaku mengatakan bahwa
ia dan istrinya akan pergi ke
rumah saudaranya yang sedang
punya hajatan. Dan ia menyuruh
saya untuk menunggunya di
rumah saja, sampai dia kembali.
Sebelum mereka pergi Nakhoda
saya berbicara sebentar
kepada Ayumi. Memang mereka
berbicara dalam bahasa Jepang,
namun sedikit-sedikit saya bisa
mengerti artinya, yaitu ia
menyuruh Ayumi untuk tinggal
menemani saya dan menyiapkan
makan untuk saya.
"Robert-san, kamu tinggal saja
dan silahkan istirahat," kata
Nakhoda saya dalam bahasa
"ndonesia.
"Yes, Captain," jawabku.
"Robert-san, Jangan malu-malu
kalau mau makan, Ayumi akan
siapkan makanannya," katanya
lagi kepadaku dan Ayumi.
Setelah mereka pergi, saya
duduk-duduk saja di ruang
tamu sambil menonton televisi.
Suasana rumah itu begitu sepi,
karena nakhoda saya pergi
bersama istri dan adik-adik
Ayumi. Sedang asyik-asyiknya
nonton, tiba-tiba Ayumi datang,
kali ini dia sudah mengenakan
Kimono, kamipun bercerita
sambil nonton televisi. Dari
penuturannya, saya tahu kalau
Ayumi ini baru berusia 17 tahun
dan duduk di SMU kelas dua.
Pantas ia begitu kelihatan
remaja dan cantik. Kami duduk
tidak terlalu berjauhan, dan
karena itu saya dapat sesekali
mencuri pandang ke arah dua
bukit kembarnya yang cukup
kelihatan di balik kimono yang ia
pakai.
Kelihatannya udara yang dingin
membuatku sedikit menggigil,
kucoba memegang tangannya
dan ia tidak menolak.
"Ayumi-san, are you cold? "
tanyaku
"Yes, "Em very cold, " jawabnya
Saya memberanikan diri untuk
memeluknya, ternyata ia tidak
menolak bahkan semakin
merapatkan badannya
kedadaku. Tanganku gemetaran
saat bersentuhan dengan buah
dadanya yang mulai membesar
seiring usianya. Entah setan apa
yang merasukiku, perlahan-
lahan saya mengangkat
dagunya dan menciumnya. Ayumi
pasrah dan membalas ciumanku.
Kami berciuman cukup lama dan
saling memagut bibir dengan
gairah nafsu yang sama
membaranya.
"Robert-san, you are very
handsome", Ayumi berkata,
disela-sela kami berciuman.
"Same Ayumi-san, you are very
beautiful, " kataku membalas.
Tanpa terasa tanganku mulai
bergerak kearah payudaranya,
dan mulai membelai dan sesekali
meremasnya.
"Oh.. hsst, hsst, Robert-san,
please," Ayumi mendesah
dengan nikmatnya.
Pelan-pelan kubuka kimono
yang menutup tubuhnya,
ternyata dibalik kimononya ia
tidak memakai pakaian dalam
sehingga tubuhnya yang mulus
segera saja terpampang jelas di
mataku. Pentil susunya yang
kemerah-merahan bertengger
dengan indahnya diatas dua
bukit kembarnya yang
membusung indah. Betul-betul
bagaikan puncak gunung
Fujiyama, yang memang
kelihatan jelas dari jendela
rumahnya. Tanpa menunggu
lama, kubopong dia ke atas
sofa yang ada diruang tamu itu.
Kembali kulumat bibirnya yang
kecil memerah, sambil tanganku
membelai lembut bukit
kembarnya. Rupanya Ayumi juga
tidak mau ketinggalan, ia
membuka kancing-kancing
bajuku dan melepas ikat
pinggang celanaku. Tangannya
dimasukkan ke dalam celanaku
dan mulai meremas-remas
batang kemaluanku. Akibat
perbuatan Ayumi itu,
kemaluanku semakin tegang,
dan membuat mata saya juga
meram-melek kenikmatan.
Setelah kurasa cukup melumat
bibirnya, kini bibirku mulai
kuturunkan kearah pentil
susunya, dan mulai menjilatinya
pelan-pelan.
"Oh my god, Robert-san, please,
please touch me, suck it," Ayumi
terus meracau tak keruan.
"DonEt worry, honey. " will to
do," kataku sambil terus
menjilati pentil susunya.
Sementara itu tanganku terus
bermain-main diselangkangnya
dan mengusap serta membelai
lembut goa yang ada disela-sela
momo-nya (BHs. Jepang = Paha).
Jari jemariku terkadang lembut
memasuki liang vaginanya dan
terasa ada cairan hangat disitu.
Menyadari hal ini saya segera
berjongkok didepan sofa dan
pahanya Ayumi kurentangkan
lebar-lebar. Segera saja kujilati
vaginanya dengan penuh nafsu.
"Auh.. hmm.. hst.. Robert-san o
kudasai," Ayumi kembali
meracau dalam bahasa Jepang.
Saya berusaha membuat
suasana serileks mungkin,
dengan terlebih dahulu
mengecup liang vaginanya dan
menghirup aroma khas
perempuan yang begitu
mempesona. Mungkin inilah
aroma sejati sashimi dan sushi,
pikirku dalam hati. Lidahku
bermain liar di liang vaginanya
dan sesekali kuhisap lembut
klitorisnya yang bagaikan buah
cherry terselip di sela-sela
daun. Saking enaknya, tanpa
sadar Ayumi menjambak-jambak
rambutku.
"Oh.. uh.. mmh.." desah Ayumi
keenakan.
Sluph.. clep.. clup.. lidahku
berdecak berirama menghirup
semua cairan hangat yang
terus membanjiri liang
vaginanya Ayumi. Rupanya
Ayumi tak mau terus menerus
kupermainkan, dia segera
beranjak dan sekarang gantian
saya yang duduk bersandar di
sofa. Sekejap Ayumi
memperhatikan batang
kemaluanku kelihatan begitu
tegang menantang.
"Oh Robert-san, it is very nice
and very big, like is the
Yokohama Tower," katanya
terkagum-kagum sambil
memegang dan mengocok-
ngocok batang penisku.
Sementara itu batang penisku
semakin menegang dan
kepalanya semakin merah
kehitam-hitaman mengkilat.
"Yes, honey. But it is not
Yokohama Tower, it is Monas
Tower," balasku sambil tertawa
geli dalam hati.
Tidak puas hanya memandang
dan mengocok-ngocok batang
penisku, kini Ayumi mulai
menjilati dan mengulumnya.
Lidahnya bermain lincah di
pangkal dan kepala penisku,
yang membuatku menggelinyang
kegelian. Nafsuku semakin
membuncah, akibat batang
penisku yang terus-terusan
dikulum dan disedot.
"Umm.. esht.. oh honey.. oh god,"
kataku keenakkan.
"Clup.. clep.. srlup.. setiap
hisapan mulut Ayumi
menimbulkan bunyi yang tak lagi
berirama dan menghadirkan
sensasi gairah tersendiri
ditelingaku.
Sementara itu, jari-jariku terus
bermain diliang vaginanya.
Kumasuk keluarkan jari-jariku,
sambil sesekali melakukan
gerakan-gerakan membentuk
oval mengikuti lekuk bentuk
liang vaginanya. Cairan hangat
yang semakin banyak keluar
dari liang vagina, telah
membasahi semua telapak
tanganku.
"Oh, honey. Please ***** me,"
Ayumi yang sudah tidak dapat
menahan gejolak nafsunya
bangkit dari posisi jongkok dan
naik keatas pangkuanku.
Dipegangnya batang penisku
dan pelan-pelan
memasukkannya keliang
vaginanya.
"Oh honey, it is very big, but "
like it," Ayumi berkata sambil
berusaha menekan pantatnya
ke bawah untuk memasukkan
batang kemaluanku.
Bless.. plok.. semua batang
penisku telah masuk ke dalam
liang vaginanya Ayumi. Terasa
kehangatan menjalari setiap
pori-pori yang ada di batang
kemaluanku. Selanjutnya dia
mulai menggenjot-genjot,
menaik-turunkan pantatnya
yang putih mulus dan
melakukan gerakan-gerakan
berputar yang berirama.
"Ouhk.. uhs.. yes.. oh yes.." Ayumi
mengerang-ngerang
kenikmatan.
"Oh honey, yes.. oh yes.."
akupun tak kalah nikmatnya.
Beberapa saat sempat
kuperhatikan sisa-sisa batang
kemaluanku yang berada di luar
liang vaginanya Ayumi,
kelihatannya begitu perkasa
bagaikan pohon yang berusaha
menembus awan. Vaginanya
Ayumi kelihatan begitu indah,
berwarna kemerah-merahan.
Posisi Ayumi sekarang berganti,
ia mengambil posisi menungging
membelakangi saya. "nilah posisi
Doggy style, yang memang saya
gemari. Dalam posisi doggy style
itu, saya bebas memandang
vaginanya Ayumi yang begitu
menantang untuk segera
kususupi batang kemaluanku.
"Ups.. aukh.. yes honey, yes.."
Ayumi mendesah-desah tak
beraturan saat kumasuk-
keluarkan batang kemaluanku
di vaginanya.
"Oh.. usmh.. hah.. hah.." nafasku
menderu-deru menikmati
permainan ini.
Selang tiga menit kemudian
rupanya Ayumi yang sudah
semakin tak kuat menahan
gairahnya berbalik dan
mengambil posisi terlentang di
sofa.
"Please honey, please come in,
kudasai," Ayumi berkata dalam
bahasa "nggris dan Jepang
memintaku segera melakukan
permainan puncak.
"Okay honey, okay," kataku
sambil mengambil posisi dan
mengarahkan penisku tepat ke
lubang vaginanya.
"Uckh.. uhst.. yes honey," Ayumi
mendesah saat kumasukkan
penisku ke vaginanya.
Terasa sedikit sempit, namun
penisku lancar saja
memasukinya karena vaginanya
sudah begitu basah.
Selanjutnya, segera saja saya
mulai dengan permainan puncak
ini. Penisku kumasuk-keluarkan
dengan irama yang teratur.
Clep.. clup.. cres.. terdengar
bunyi yang begitu
menggairahkan saat penisku
mulai beraksi. Ayumi rupanya
tak mau ketinggalan, ia segera
saja mengimbanginya dengan
menggoyang dan memutar-
mutar pinggulnya.
"oh, honey. " love you, honey.
Uh.. shh..," Ayumi kembali
mendesah-desah kenikmatan.
"Yes honey, " love you too,"
jawabku tak kalah nikmatnya.
"Ump.. hssh.. ouhk.. oh yes,"
Ayumi mendesah-desah semakin
tak karuan.
"Ush.. ahh.. ohh..," sayapun
mendesah-desah merasakan
kenikmatan yang indah ini.
Kami menikmati permainan
puncak ini dengan segenap
perasaan, sambil sesekali
bercakap-cakap. Beberapa saat
kemudian rupanya Ayumi sudah
tidak lagi kuat menahan gairah
nafsunya, tangannya dengan
kuat mencengkram bahuku dan
pinggulnya digoyang-goyang
semakin cepat.
"Oh honey, "Em coming. "Em
coming, oh.. ah..," Ayumi
mendesah semakin tak keruan.
"Oh yes, honey. Yes. "Em coming
too," kataku yang juga sudah
tak kuat menahan desakan-
desakan nafsuku.
Gerakan maju mundur segera
saja kupercepat dan Ayumi-pun
semakin cepat menggoyang dan
memutar-mutar pinggulnya.
Beberapa saat kemudian
kamipun mencapai puncak
Fujiyama bersama-sama.
"Oh honey, oh.. uah.. umph..,"
desah panjang Ayumi saat
mencapai puncak kenikmatan.
"Uhmp.. uhss.. ouhk..," desahku
saat cairan lahar panas tumpah
keluar dari lubang penisku dan
membanjiri vaginanya Ayumi.
Ayumi memeluk erat tubuhku,
seakan-akan tidak ingin
melepas lagi. Jari-jari tangannya
mencengkram erat punggungku,
kedua kakinya melipat dan
menekan pantatku. Sementara
itu, saya sendiri memeluk
tubuhnya dengan erat dan
melumat habis bibirnya.
Kenikmatan terindah ditengah
derasnya salju bulan Desember
yang begitu berkesan. Sejak
saat itu, setiap kali kapal saya
bersandar di pelabuhan
Yokohama Jepang, saya dan
Ayumi selalu merengkuh
kenikmatan bersama,
terkadang di rumahnya atau di
hotel.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net