ramon84.net
CERITA MAKCIAT
TANTE LIS DAN IBU SUSI

Tante Lis berusia 45 tahun
dengan ukuran payudara 38
dan tubuh yang ideal. Dia
bekerja sebagai ibu rumah
tangga dan tinggal di
Yogyakarta. Sedangkan Ibu
Susi berusia 40 tahun dengan
ukuran payudara 38 dan tubuh
yang ideal. Dia bekerja sebagai
dosen di Malang dan juga
tinggal di sana. Suami mereka
berdua adalah kakak beradik
dan sibuk bekerja di luar
negeri.
Mereka berdua menjadi lesbian
ketika suatu sore Tante Lis
ditelepon oleh seseorang yang
mengaku sebagai relasi
suaminya di Inggris, namanya
Jennifer. Dia orang Amerika. Dia
mengatakan kalau ada sesuatu
yang ingin dibicarakan tentang
suaminya. Tante Lis disuruhnya
datang ke hotel tempatnya
menginap sore itu juga. Di
Hotel Garuda. Kebetulan Ibu
Susi sedang liburan di tempat
Tante Lis. Sehingga diajak pula
Ibu Susi. Setelah melapor ke
resepsionis hotel, mereka
berdua langsung menuju ke
kamar Jennifer. Mereka
disambut Jennifer sendiri.
"Selamat sore," sapa Jennifer
ramah dalam bahasa Indonesia
meskipun agak kaku.
"Selamat sore," jawab Tante
Lis.
"Bisa ketemu dengan Jennifer,"
sambung Tante Lis.
"Saya sendiri. Ibu siapa?"
"Saya Nyonya Hermawan,"
jawab Tante Lis menyebutkan
nama suaminya.
"Ooo.. Maaf Bu. Saya tidak
tahu."
Jennifer lalu menjabat tangan
Tante Lis.
"Dan ini kerabat saya," kata
Tante Lis.
"Susi," kata Ibu Susi sambil
menjabat tangan Jennifer.
"Mari, silakan masuk! Maaf
kursinya saya pakai untuk
menaruh tas. Saya hanya
semalam di sini. Kita duduk di
tempat tidur saja."
Mereka bertiga masuk dan lalu
duduk di tepian tempat tidur.
"Kenapa hanya semalam?"
tanya Ibu Susi.
"Saya kebetulan hanya mampir
untuk membicarakan masalah
Pak Hermawan. Besok saya
sudah berangkat ke Australia."
"Bagaimana dengan suami
saya?" tanya Tante Lis.
"Dia terlibat suatu masalah."
Kemudian Jennifer
menceritakan masalah yang
dihadapi suami Tante Lis.
Sampai akhirnya mereka
bertiga terdiam beberapa saat.
Tiba-tiba..
"Saya mohon kepada anda
untuk menolong suami saya,"
kata Tante Lis kepada
Jennifer.
"Saya sebetulnya tidak bisa
menolong Pak Hermawan. Bisa,
asal.."
Jennifer tidak melanjutkan
kata-katanya. Tetapi
tangannya melepaskan kancing
baju yang dipakai Tante Lis
yang duduk di sampingnya.
Tante Lis diam saja. Dibelainya
bagian atas payudara kirinya
yang masih ditutupi BH.
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."
Kedua tangan Jennifer lalu
bergerak ke belakang, melepas
tali BH yang dipakai Tante Lis.
Salah satu tangannya maju ke
depan dan meremas payudara
kanan Tante Lis.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
Ibu Susi yang sedang duduk di
samping Tante Lis dan sedang
membaca majalah terkejut
mendengar suara yang keluar
dari mulut Tante Lis. Dilihatnya
kedua tangan Jennifer sedang
meremas kedua payudara
Tante Lis sedangkan kedua
tangan Tante Lis melepas baju
yang dipakai Jennifer.
Sekarang bibir mereka berdua
sudah saling menempel dan
kedua lidah mereka saling
mengulumdengan hangat. Ibu
Susi yang melihat itu tidak
kuat menahan nafsu.
Diremasnya kedua payudaranya
sendiri yang masih ditutupi
pakaiannya.
Baju Tante Lis sekarang sudah
terlepas dari tempatnya dan
kedua tangannya melepas kaos
dalam yang dipakai Jennifer
sambil tetap berciuman. Bibir
Tante Lis terlepas dari bibir
Jennifer demi dilihatnya kedua
payudara Jennifer yang
ukurannya dua kali lebih besar
dari miliknya meskipun
tubuhnya biasa saja. Jennifer
yang merasakan hal itu lalu
merebahkan diri sambil menarik
tubuh Tante Lis. Sehingga
mulut Tante Lis jatuh tepat di
atas payudara kiri Jennifer.
Dijilatinya payudara kiri
Jennifer tersebut sambil
tangan kirinya memilin-milin
puting payudara kanan
Jennifer. "Aaahh.. aahh.. aahh.."
Ibu Susi melihat hal tersebut.
Nafsunya semakin panas
sehingga sekarang tangannya
menarik tangan kiri Tante Lis
dari payudara kanan Jennifer
dan mulutnya ikut beraksi.
Dijilatinya payudara kanan
Jennifer sambil tangannya
meremas payudara kanan
Jennifer. Kedua tangan
Jennifer akan meremas kedua
payudara Tante Lis. Tetapi
tangan kirinya dipegang
tangan Tante Lis. Sedangkan
tangan kanannya dipegang
tangan Ibu Susi. Tante Lis dan
Ibu Susi sibuk mempermainkan
kedua payudara Jennifer
sampai akhirnya Ibu Susi
kelelahan dan terlentang di
samping kanan Jennifer.
Jennifer yang merasa tidak
bisa apa-apa ketika kedua
payudaranya dipermainkan
kedua tamunya kemudian
mengangkat kepala Tante Lis
yang masih sibuk. Tante Lis
tahu diri dan kemudian dia ikut
terlentang di samping kiri
Jennifer. Tidak lama, setelah
Jennifer bangkit dari tempat
tidur, Tante Lis menghampiri
Ibu Susi. Tante Lis dengan
cekatan melepas pakaian
bagian atas Ibu Susi yang
masih berpakaian lengkap.
Sekarang mereka berdua
sudah setengah telanjang dan
Tante Lis lalu menindih Ibu Susi.
Kedua payudara mereka saling
menempel. "Ouohh.." Mulut
mereka berdua sama-sama
mengeluarkan suara yang
disambut dengan kedua bibir
mereka yang saling berciuman
dan perang antar lidah.
Jennifer sendiri setelah bangkit
dari tempat tidur lalu melepas
celana jeans yang dipakainya.
Sekarang dia sudah telanjang
bulat karena dia tidak memakai
celana dalam. Dia mengambil
dua buah dildo berukuran 20
cm dari dalam tasnya. Dia
berbalik dan melihat ke tempat
tidur. Tante Lis dan Ibu Susi
sedang dalam puncak
kenikmatan. Mereka berdua
sudah telanjang bulat. Mereka
berpelukan dan bergulingan di
atas tempat tidur. Jennifer
melemparkan salah satu dildo
ke tempat tidur.Sedangkan
yang satunya sedang menari-
nari di kedua payudaranya
sendiri. Dildo tersebut kemudian
naik dan masuk ke dalam
mulutnya. Dikeluar-masukkan
dildo tersebut. Setelah puas,
dildo tersebut turun ke bawah.
Dimasukkannya dildo tersebut
ke dalam lubang kemaluannya
sepanjang 15 cm. Diputar-
putar dan digesek-gesekkan
dildo tersebut dalam lubang
kemaluannya sambil dia menari-
nari. "Aaahh.. aahh.. aahh.."
Jennifer terkejut dengan suara
tersebut dan dilihatnya Tante
Lis dan Ibu Susi sama-sama
terlentang sehabis lelah
bercumbu. Dilihatnya tangan Ibu
Susi memberi isyarat untuk
menghampirinya. Jennifer naik
ke tempat tidur dan
tangannya menggesek-
gesekkan dildo yang
dilemparnya tadi ke kedua
payudara Ibu Susi bergantian.
Sedangkan dildo yang satunya
masih menggantung di
kemaluannya sehingga mirip
kemaluan laki-laki meskipun
sudah keluar dengan panjang
15 cm. Kemudian dildo tersebut
dengan pelan-pelan dimasukkan
ke dalam lubang kemaluan Ibu
Susi. Dikeluar-masukkan
seolah-olah Jennifer adalah
seorang laki-laki yang sedang
menyetubuhi seorang wanita.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
Sedangkan dildo yang menari-
nari di kedua payudara Ibu
Susi sekarang sudah
menjelajahi kemaluan Tante Lis.
Setelah beberapa menit
Jennifer mengeluarkan dildo
dari dalam liang kemaluannya.
Sekarang tangan kanannya
mengeluar-masukkan dildo ke
dalam lubang kemaluan Tante
Lis dantangan kirinya
mengeluar-masukkan dildo ke
dalam kemaluan Ibu Susi. Kedua
tangan Tante Lis dan Ibu Susi
juga tidak tinggal diam. Kedua
payudara Jennifer yang
menantang dijadikan permainan
kedua tangan mereka. Diremas,
dipilin dan disentil putingnya.
"Aaahh.. aahh.. aahh.." Mereka
bertiga akhirnya kelelahan.
Setelah keluar untuk makan
malam, mereka melanjutkan
permainan mereka sampai pagi.
Pagi harinya Tante Lis dan Ibu
Susi mengantarkan Jennifer ke
Bandara. Jennifer meninggalkan
masing-masing dildo untuk
Tante Lis dan Ibu Susi.
Keesokan harinya Ibu Susi juga
kembali ke Malang karena
masa liburannya sudah habis.
KISAH MARTHA
Martha berusia 23 tahun
dengan ukuran payudara 36
dan tubuh yang ideal. Dia masih
berstatus mahasiswi di sebuah
PTS di Yogyakarta. Dia tinggal
di rumah kontrakan di
Yogyakarta bagian selatan.
Martha menjadi lesbian karena
Tante Lis. Martha dan Tante
Lis sama-sama menjadi anggota
sebuah pusat kebugaran
terkemuka di Yogyakarta.
Suatu sore, Martha dan Tante
Lis berada di tempat ganti
pakaian pusat kebugaran
tersebut. Hanya mereka
berdua karena kebetulan hujan
turun dengan derasnya dan
membuat banyak anggota
pusat kebugaran tersebut
enggan datang. Martha melihat
Tante Lis yang berdiri
beberapa meter dari
tempatnya berdiri. Entah
mengapa pandangan matanya
kali ini beda dari biasanya.
Dilihatnya kedua payudara
Tante Lis yang seolah-olah
ingin keluar dari penutupnya
karena ketatnya baju senam
yang dipakai Tante Lis. Tante
Lis rupanya mengetahuinya.
"Ada apa Mbak?"
"Ah.. Tidak apa-apa Tante."
"Tidak apa-apa kok melihat
kedua payudara saya."
Martha kaget kalau ternyata
Tante Lis mengetahuinya
pandangan matanya. Akhirnya
keluarlah beberapa kata dari
mulutnya.
"Kedua payudara Tante besar
dan indah."
"Punyamu juga besar dan
indah."
Tante Lis lalu mengambil
sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah bedak talk. Dia
kemudian membalikkan
tubuhnya dan membelakangi
Martha.
"Mbak, bisa Tante minta
tolong?"
"Bisa, Tante mau apa?"
Martha menghampiri Tante Lis
yang sedang menurunkan
pakaian senamnya sehingga
sekarang punggungnya
terbuka.
"Tolong taburkan bedak talk ini
ke punggungku dan gosokkan
sekalian."
Martha menerima bedak talk
kemudian menaburkannya ke
punggung Tante Lis. Dia lalu
menggosoknya dengan biasa
saja.
"Aaahh.."
"Kenapa Tante?"
"Tidak apa-apa. Kamu mau
tidak menggosok bagian
depan?"
"Mau Tante. Tetapi jangan di
sini. Nanti ketahuan orang lain."
"Cuek saja."
Martha ingin menolak. Tetapi
terlambat. Tante Lis sudah
membalikkan tubuhnya. Kedua
payudaranya yang menantang
membuat Martha langsung
menaburi bedak talk ke kedua
payudara Tante Lis. Digosoknya
kedua payudara Tante Lis
dengan kedua tangannya.
Diremasnya kedua payudara
Tante Lis.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
"Mbak mau?" tawar Tante Lis.
Tanpa menunggu persetujuan
Martha, Tante Lis sudah
menurunkan pakaian senam
yang dipakaiMartha. Dilihatnya
kedua payudara Martha yang
hanya terdiam sambil
menyerahkan bedak talk.
Tante Lis menerima bedak talk
tersebut dan didorongnya
Martha ke tembok. Martha
disandarkan ke tembok dan
mulut Tante Lis sudah menjilati
payudara kiri Martha.
Sedangkan tangan kirinya
mengusapkan bedak talk ke
payudara kanan Martha.
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."
Hanya itu yang keluar dari
mulut Martha. Tangannya
meraih tangan kiri Tante Lis
dan melepaskan bedak talk
yang dipegangnya. Dibimbingnya
tangan kiri Tante Lis untuk
membelai payudara kanan
Martha. Tante Lis tidak hanya
membelai tetapi juga memilin-
milin puting payudara kanan
Martha."Aaahh.. aahh.. aahh.."
Mendengar suara itu Tante Lis
semakin bergairah untuk
mencumbui Martha.
Dilepaskannya pakaian senam
yang dipakai Martha yang
masih menutupi bagian bawah
tubuhnya sambil tetap
memainkan kedua payudara
Martha. Mulutnya turun ke
bawah. Mulutnya tepat pada
kemaluan Martha. Lidahnya
dikeluarkan. Disentuhkannya
ujung lidahnya ke kemaluan
Martha berulang-ulang.
Sekarang Tante Lis sudah
menjilati kemaluan Martha
sambil jari telunjuk tangan
kanannya membuka lubang
kemaluan Martha dan tangan
kirinya masih menikmati
permainan kedua payudara
Martha. Lidahnya dimasukkan
ke dalam celah lubang
kemaluan Martha. Lidah Tante
Lis sudah merasa puasbermain-
main di kemaluan Martha.
Sekarang jari-jarinya dikeluar-
masukkan ke dalam liang
kemaluannya. Dikocoknya
pelan-pelan. Mulut Tante Lis
rupanya belum puas dan ikut
membantu jari-jari Tante Lis
dalam mempermainkan
kemaluan Martha. Berkali-kali
Martha mendesah. "Aaahh..
aahh.. aahh.." Tante Lis
menghentikan permainannya
sebentar. Dia melepaskan apa
yang masih menutupi tubuhnya.
Kemudian dengan bantuan jari-
jari pada kedua tangannya
Tante Lis menempelkan
kemaluannya ke kemaluan
Martha.
"Aaahh.. aahh.. aahh.." Suara
yang keluar dari mulutnya dan
mulut Martha disambut dengan
menempelnya kedua payudara
Tante Lis pada kedua
payudara Martha. "Ouohh.."
Lagi-lagi suara yang keluar
dari mulut mereka berdua
disambut dengan menempelnya
kedua bibir mereka. Mereka
berciuman dengan saling
berebutan untuk menjilati lidah.
Tante Lis menggerak-gerakkan
tubuhnya. Kedua payudaranya
dan kedua payudara Martha
saling bergesekan. Begitu juga
dengan kedua kemaluan
mereka. Setelah beberapa saat
Tante Lis menghentikan
permainan itu. Dia melepaskan
tubuhnya pada tubuh Martha.
Dia berbalik dan membungkuk
mengambil pakaiannya.
Ketikadia berdiri, dari belakang
Martha memeluknya.
"Kamu belum puas?"
"Belum Tante."
"Benar?"
"Benar Tante."
Kemudian Tante Lis
membalikkan tubuhnya dan
bersamaan dengan itu Martha
ganti mendorongnya ke
tembok. Dilihatnya lagi kedua
payudara Tante Lis. Kemudian
digesek-gesekkan puting kedua
payudaranya ke kedua puting
payudara Tante Lis. Keduanya
sama-sama mengeluarkan
suara. "Ouohh.."
Bibir Tante Lis ingin mencium
bibir Martha. Tetapi sengaja
Martha menghindar. Martha
lalu ganti ingin memperlakukan
Tante Lis seperti apa yang
telah diperlakukan padanya.
Mulut Martha lalu turun ke
bawah menjilati payudara
kanan Tante Lis. Sedangkan
tangan kanannya membelai
payudara kiri Tante Lis dan
juga memilin-milin puting
payudara kiri Tante Lis.
Mulutnya turun ke bawah
sambil tetap mempermainkan
kedua payudara Tante Lis.
Mulutnya tepat pada kemaluan
TanteLis. Lidahnya dikeluarkan.
Disentuhkannya ujung lidahnya
ke kemaluan Tante Lis
berulang-ulang. Sekarang
Martha sudah menjilati
kemaluan Tante Lis sambil jari
telunjuk tangan kirinya
membuka kemaluan Tante Lis
dan tangan kanannya masih
menikmati permainan kedua
payudara Tante Lis.
Lidahnya dimasukkan ke dalam
celah kemaluan Tante Lis. Lidah
Martha sudah merasa puas
bermain-main di liang kemaluan
Tante Lis. Sekarang jari-jarinya
dikeluar-masukkan ke dalam
lubang kemaluannya.
Dikocoknya pelan-pelan. Mulut
Martha rupanya belum puas
dan ikut membantu jari-jari
Martha dalam mempermainkan
lubang kemaluan Tante Lis.
Berkali-kali Tante Lismendesah.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
Akhirnya mereka berdua
berpelukan erat sambil
berciuman. Kedua payudara
mereka saling menempel. Kedua
kemaluan mereka juga saling
menempel. Mereka berdua
saling membelai punggung
dengan halus. Tante Lis
menambahi dengan jari telunjuk
tangan kanannya yang masuk
mengocok lubang pantat
Martha. Martha mengikutinya
dengan juga memasukkan jari
telunjuk tangan kanannya
yang masuk mengocok lubang
pantat Tante Lis. Bibir mereka
melepaskan ciuman dan
keluarlah suara.. "Aaahh.. aahh..
aahh.."
Demikianlah keduanya mencapai
puncak orgasme setelah
memainkan lobang pantat
masing-masing.
WIDYA DAN SUSAN
Widya berusia 22 tahun dengan
ukuran payudara 36 dan tubuh
yang ideal. Dia masih berstatus
mahasiswi di sebuah PTS di
Yogyakarta. Sedangkan Susan
berusia 26 tahun dengan
ukuran payudara 36 dan tubuh
yang ideal. Dia bekerja sebagai
karyawan sebuah kantor
swasta di Yogyakarta. Mereka
berdua tinggal di asrama putri
tempat Ibu Anna di Yogyakarta
bagian utara.
Mereka berdua menjadi lesbian
ketika suatu pagi berebutan
kamar mandi. Ada 2 kamar
mandi di asrama yang
berpenghuni cuma 4 orang.
Satu kamar mandi sedang
dipakai orang. Sedangkan yang
satu masih kosong. Secara
serempak mereka berdua
sudah berada di depan kamar
mandi.
"Aku tergesa-gesa," kata
Widya.
"Aku juga tergesa-gesa," kata
Susan.
Mereka terdiam beberapa saat
sampai kedua mulut mereka
serempak mengeluarkan suara.
"Sama-sama saja."
Mereka berdua langsung masuk
ke kamar mandi dan Susan
mengunci pintu kamar mandi
tersebut.
"Tapi bagaimana caranya.
Gayung cuma satu, sabun cuma
satu, pasta gigi cuma satu,"
kata Susan.
"Iya. Dan juga aku malu kalau
telanjang," kata Widya.
"Kalau itu tidak masalah. Kita
saling membelakangi."
"Begini saja. Kamu dulu yang
mandi. Aku gosok gigi dulu."
Kemudian Susan melepaskan
seluruh pakaiannya dan
menaruhnya di gantungan di
belakang pintu kamar mandi.
Dan di belakangnya Widya
berdiri menunggu di pinggir bak
mandi. Lalu mereka berputar
haluan. Ganti Widya yang
melepaskan seluruh pakaiannya
dan menaruhnya di gantungan
di belakang pintu kamar mandi.
Kemudian dia menggosok
giginya. Di belakangnya Susan
sedang mengguyur tubuhnya
dengan air. Setelah cukup,
mereka berputar haluan
kembali. Susan dengan
membawa sabun berdiri
menghadap pintu. Sedangkan di
belakangnya giliran Widya yang
mengguyur tubuhnya dengan
air. Kemudian..
"San, sabunnya sudah?"
"Sudah. Ini," kata Susan sambil
membalikkan tubuhnya yang
penuh busa sabun.
Bersamaan dengan itu Widya
juga membalikkan tubuhnya.
Mereka kaget dan serentak
menutupi tubuh seadanya.
Tangan kanan mereka
menutupi kedua payudara dan
tangan kiri mereka menutupi
kemaluan. "Aku sudah lihat
punyamu Wid. Buka saja.
Kenapa ditutup?" Widya tidak
membuka tangan kanannya
yang menutupi kedua
payudaranya. Dibukanya
tangan kirinya dan dibukanya
tangan kanan Susan yang
menutupi kedua payudaranya.
Susan diam saja ketika Widya
membelai payudara kirinya
yang penuh busa sabun dan
meremasnya. Dipilinnya puting
payudara Susan. Yang keluar
dari mulutnya hanya sebuah
suara. "Aaahh.. aahh.. aahh.."
Setelah Widya puas Susan
berkata, "Punyamu aku sabuni
ya?" Widya hanya mengangguk
dan membuka tangan
kanannya yang masih menutupi
kedua payudaranya.
Susan kemudian mengusapkan
sabun yang sejak tadi
dipegangnya ke payudara
kanan Widya dengan tangan
kirinya. Tangan kanannya
mengambil busa sabun dari
payudara kirinya sendiri dan
diusapkan ke payudara kiri
Widya. Tidak lupa kedua puting
Widya juga dipilin-pilin. Susan
tidak hanya menyabuni kedua
payudara Widya. Seluruh tubuh
Widya disabuninya dengan
usapan yangmenggairahkan
sambil kedua payudaranya
sendiri sesekali disentuhkan ke
tubuh Widya. "Ehmm.. ehmm..
ehmm.." Ganti Widya yang
mengeluarkan suara dari
mulutnya. Tubuh mereka
berdua sudah penuh dengan
busa sabun. Susan dari
belakang memeluk Widya dan
kedua tangannya bergerak ke
seluruh tubuh Widya. Widya
yang dipeluk tidak ingin
kenikmatan itu hanya milik
Susan. Kedua tangannya juga
bergerak ke seluruh tubuh
Susan. Dia berkata sambil
mendesah, "San.. tadi
sebetulnya kamu tidak usah
membalik tubuhmu. Cukup aku
saja. Jadi kita tidak begini
akhirnya."
"Maksudku juga begitu. Aku
membalikkan tubuhku dengan
harapan kamu tetap
menghadap bak kamar mandi."
Kemudian sambil tetap dipeluk
Susan, Widya membalikkan
tubuhnya sehingga kedua
payudara mereka saling
menempel. "Ouohh.." Mereka
berdua saling menggesekkan
kedua payudara mereka
sampai akhirnya mereka
berdua sadar dengan apa yang
terjadi dan serempak berkata,
"Kita kan tergesa-gesa."
Mereka melepaskan pelukan
dan karena Susan yang
mendapatkan gayung lebih dulu
dia yang membilas tubuhnya.
Widya tidak sabar dan
merapatkan tubuhnya ke
tubuh Susan. Mereka berdua
kembali terlena dengan
keadaan tubuh yang baru
terkena satu guyuran air.
Mereka berdua saling
membersihkan sisa busa sabun
pada tubuh mereka berdua.
Desahan-desahan kenikmatan
keluar dari mulut mereka
berdua. "Ehmm.. ehmm.. ehmm.."
Beberapa menit mereka saling
membersihkan busa sabun
sambil sesekali tubuh mereka
diguyur air. Setelah selesai
mereka mengeringkan tubuh
mereka dengan handuk.
Mereka keluar bersama-sama
dan Widya berkata kepada
Susan, "San, nanti malam lagi
ya?" Susan hanya mengangguk.
Dan tanpa menunggu malam
ketika sore hari Widya selesai
mandi, Widya waktu itu berani
hanya melilitkan handuk ke
tubuhnya karena keadaan
asrama sedang sepi. Dia kaget
melihat Susan sudah berada di
dalam kamarnya masih dengan
memakai pakaian kerjanya. Dia
hanya sebentar kaget
kemudian tersenyum. "Wid, aku
sebetulnya mau menyusul kamu
mandi. Tetapi kamu mungkin
tidak dengar. Jadi aku tunggu
di sini." Widya menghampiri
Susan yang duduk di tepi
tempat tidur dan duduk di
sampingnya. Dibelainya paha
Susan yang tidak tertutupi rok
mini yang dipakainya.Kemudian,
"Sebentar ya San. Aku pakai
pakaian dulu." Widya kemudian
berdiri menghampiri lemari dan
di depan lemari dia melepaskan
handuknya. Dia mencari-cari
pakaian dari dalam lemari.
"Kamu menantang aku ya?
Tidak usah pura-pura cari
pakaian."
"Rupanya kamu tahu."
Widya kemudian membalikan
tubuhnya dan dilihatnya Susan
sedang melepaskan BH-nya dan
kemeja yang dipakainya hanya
dilepaskan kancingnya. Setelah
BH Susan terlepas, dengan
cepat kedua tangan Widya
melepaskan kemeja yang
dipakai Susan sambil bibirnya
mendarat di bibir Susan.
Mereka berciuman dan saling
menjilat lidah. Kedua payudara
mereka saling menempel. Kedua
puting payudara mereka saling
digesekkan. Kemudian Widya
menghentikan ciumannya dan
dia duduk bersimpuh di depan
Susan. Dibelainya paha Susan
dengan kedua tangannya.
Sedangkan Susan menikmati
remasan kedua tangannya
pada kedua payudaranya.
Kedua tangan Widya lalu naik
ke atas dan masuk ke dalam
rok mini yang dipakai Susan.
Dia berusaha melepaskan
celana dalam yang dipakai
Susan. Berhasil.
Pada waktu yang sama Susan
yang mengetahui Widya sedang
berusaha melepaskan celana
dalamnya lalu menghentikan
remasan pada kedua
payudaranya. Kedua tangannya
melepaskan rok mini yang
dipakainya. Sekarang Susan
sudah telanjang bulat. Widya
kemudian membimbing Susan ke
tempat tidur. Dan mereka pun
bercumbu dengan nikmatnya
hingga fajar menyingsing. Dan
tanpa mereka sadari ada
sepasang mata yang sedang
mengamati percumbuan
mereka..
ANITA DAN ANGGA
Anita berusia 17 tahun dengan
ukuran payudara 34 dan tubuh
yang ideal. Dia masih berstatus
siswa sebuah SMU di
Yogyakarta. Sedangkan Angga
berusia 23 tahun dengan
ukuran payudara 36 dan tubuh
yang ideal. Dia masih berstatus
mahasiswi di sebuah PTS di
Yogyakarta. Mereka berdua
tinggal di asrama putri tempat
Ibu Anna di Yogyakarta bagian
utara.
Mereka berdua menjadi lesbian
ketika suatu sore Angga yang
baru pulang dari rumah
temannya mendengar suara-
suara aneh dari kamar Widya.
Angga penasaran dan melihat
pintu kamar Widya sedikit
terbuka. Dilihatnya Widya yang
sedang menjilati kemaluan
Susan dan tangan Susan yang
meremas payudara kanannya
sendiri. Tubuh mereka berdua
telanjang dan banjir keringat.
Tanpa sadar tangan Angga
bergerak ke atas dan
meremas kedua payudaranya
sendiri yang masih ditutupi
pakaiannya. Dia lalu tersadar
dengan apa yang telah
dilihatnya. Kemudian dia
beranjak dari samping pintu
kamar Widya dan masuk ke
kamarnya. Dia kemudian
melepas pakaiannya. Dia
teringat kejadian di kamar
Widya. Entah mengapa
kemudian Angga yang tinggal
memakai pakaian dalam
kemudian menghempaskan
tubuhnya ke tempat tidur.
Dilepasnya BH yang masih
dipakainya. Kemudian dia
meremas kedua payudaranya.
"Aaahh.. aahh.. aahh.." Angga
terus meremas kedua
payudaranya dan sesekali
memilin putingnya sambil
membayangkan Widya dan
Susan masuk ke kamarnya. Dia
berdiri dan Widya dari depan
tanpa bertanya lagi melepas
celana dalam yang dipakai
Angga dan lalu menjilati
kemaluannya. Sedangkan Susan
dari belakang melepas BH yang
dipakai Angga dan kemudian
dari belakang meremas kedua
payudaranya. "Aaahh.. aahh..
aahh.."
Tangan Angga menghentikan
remasan pada kedua
payudaranya dan turun ke
bawah. Tangannya dimasukkan
ke dalam celana dalamnya.
Sekarang jari-jarinya dikeluar-
masukkan ke dalam lubang
kemaluannya. Dikocoknya
pelan-pelan. "Aaahh.. aahh..
aahh.."
Setelah beberapa lama
bermasturbasi, Angga akhirnya
tertidur dalam keadaan tinggal
memakai celana dalam.
Keesokan harinya Angga
terbangun setelah mendengar
pintu kamarnya diketok. Dia
membuka matanya dan
memperhatikan jam dinding di
kamarnya. Waktu menunjukkan
pukul 10:00. Angga terkejut
karena dia bangun kesiangan
dan dia akhirnya lega ketika
mengetahui bahwa hari ini dia
libur kuliah. Terdengar pintu
kamarnya diketuk lagi. Dia lalu
bangun dan mengambil daster
kaos dari dalam lemari dan
dipakainya. Dibukanya pintu
kamarnya dan dilihatnya Anita
yang masih menggenakan
seragam sekolahnya.
"Mari masuk Nit!"
Kemudian Anita masuk.
"Kamu kesiangan juga Nit?"
tanya Angga.
"Aku pulang pagi Mbak," jawab
Anita sambil duduk di karpet
yang ada di kamar Angga.
Dia mengambil sebuah majalah
tetapi tidak dibacanya.
Dia bertanya kepada Angga,
"Mbak. Tadi malam lihat tidak?"
"Lihat apa?"
"Di kamar Mbak Widya."
Angga terkejut mendengar
perkataan Anita. Kebetulan,
pikir Angga.
"Kamu mau melakukannya?"
Tanpa menunggu persetujuan
Anita, tangannya sudah
memegang tangan kanan Anita
dan diremaskannya ke
payudara kirinya. Tangan kiri
Anita dengan sendirinya
membelai paha Angga dan
bibirnya dengan pelan
mendarat di bibir Angga.
Keduanya berciuman dan saling
perang antar lidah. Tangan
Angga melepas kancing baju
seragam yang dipakai Anita.
Anita menghentikan ciuman dan
belaiannya pada paha Angga.
Dia melepas baju seragamnya.
Kemudian mengangkat daster
kaos yang dipakai Angga
sampai terlihat kedua
payudaranya. Dibelainya
payudara kanan Angga. Angga
pun melepasdaster kaosnya
sehingga Anita dengan leluasa
menghisap payudara kiri Angga
sambil tetap membelai
payudara kanannya.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."
Tangan Anita menghentikan
belaiannya pada payudara
kanan Angga. Dan kini
dihisapnya payudara kanan
Angga sambil dia melepas kaos
dalam dan BH yang masih
dipakainya. Dia lalu
menelentangkan Angga dan
menindihnya sehingga kedua
payudara mereka saling
menempel. Kedua puting
payudara mereka saling
digesekkan. "Ouohh.."
Setelah beberapa lama saling
menggesekkan kedua
payudara. Anita kemudian
menggeser tubuhnya ke
samping Angga sambil tetap
tengkurap. Dilepasnya rok
seragam yang masih dipakainya
dan tidak ketinggalan celana
dalamnya. Angga juga melepas
celana dalamnya dan duduk
sambil membelai punggung
Anita. Dia kemudian
menggesek-gesekkan kedua
payudaranya ke punggung
Anita. Anita lalu ikut duduk dan
mereka berdua saling membelai
kedua payudara. "Ehmm.. ehmm..
ehmm.."
Anita menceritakan bahwa
semalam dia yang baru pulang
dari berbelanja keperluan
sekolahnya. Dia melewati kamar
Widya dan tanpa sengaja
melihat Widya dan Susan
berpelukan erat sambil
berciuman. Kedua payudara
mereka saling menempel. Kedua
kemaluan mereka juga saling
menempel. Mereka berdua
saling membelai punggung
dengan halus. Mereka berdua
saling mengocok lubang pantat
dengan jari telunjuk tangan
kanan. Angga terangsang
dengan cerita Anita dan kini
mereka berdua sudah saling
menjatuhkan. Anita kalah dan
kemaluannya langsung digarap
oleh Angga. Dia menungging
dan dikangkangnya kaki Anita.
Mulutnya tepat pada kemaluan
Anita. Lidahnya dikeluarkan.
Disentuhkannya ujung lidahnya
ke kemaluan Anita berulang-
ulang.
Sekarang Angga sudah menjilati
liang kemaluan Anita sambil jari
telunjuk tangan kirinya
membuka lubang kemaluan
Anita. Lidahnya dimasukkan ke
dalam celah lubang kemaluan
Anita. Lidah Martha sudah
merasa puas bermain-main di
kemaluan Anita. Sekarang jari-
jarinya dikeluar-masukkan ke
dalam lubang kemaluannya.
Dikocoknya pelan-pelan. Mulut
Angga rupanya belum puas dan
ikut membantu jari-jari Angga
dalam mempermainkan lubang
kemaluan Anita. Berkali-kali
Anita mendesah. "Aaahh.. aahh..
aahh.."
Kini puting payudara kiri Angga
digesek-gesekkan ke kemaluan
Anita. Kedua tangannya juga
meremas kedua payudara Anita
bekerja sama dengan kedua
tangan Anita. "Aaahh.. aahh..
aahh.." Akhirnya Angga
menghentikan permainannya.
Dia berdiri dan Anita juga ikut
berdiri. Angga membungkukkan
badannya dan berpegangan
pada kursi. Kakinya
dikangkangkan. Anita tahu
maksudnya. Dia merebahkan
tubuhnya tepat di bawah
tubuh Angga. Kedua tangannya
kemudian meremas kedua
payudara Angga. Kemudian
kedua tangannya menuju
lubang kemaluan Angga. Jari
telunjuk tangan kirinya
membuka lubang kemaluan
Angga. Kemudian jari-jarinya
dikeluar-masukkan ke dalam
lubang kemaluannya.
Dikocoknya pelan-pelan. Jari-
jarinya juga dikeluar-masukkan
ke dalam lubang pantat Angga.
"Aaahh.. aahh.. aahh.." Pelan-
pelan tubuh Angga turun ke
bawah dan lubang kemaluannya
tepat di lubang kemaluan Anita.
Dia menindihi Anita. Tetapi
mereka berdua tidak
melakukan apa-apa. Kemudian
Angga berdiri dan duduk di
kursi. Anita juga ikut berdiri.
"Sini Nit.!"
Anita kemudian menghampiri
Angga. Angga membimbing Anita
untuk duduk di pangkuannya
dengan posisi terbalik. Mereka
berdua berpelukan erat sambil
berciuman. Kedua payudara
mereka saling menempel. Kedua
kemaluan mereka juga saling
menempel. Setelah beberapa
lama Anita bangkit dari
pangkuan Angga. Dia
merebahkan tubuhnya ke
tempat tidur. Angga ingin
menghampirinya. Tetapi mereka
berdua serentak membenahi
pakaiannya ketika mendengar
suara mobil masuk ke dalam
asrama.
KISAH IBU ANA
Ibu Ana berusia 37 tahun
dengan ukuran payudara 42
dan tubuh yang ideal. Dia
seorang ibu rumah tangga
yang mengelola asrama putri
yang didiami oleh Widya, Susan,
Anita dan Angga. Ibu Ana
menjadi lesbian karena Anita.
Ketika suatu siang dia ke
asramanya dan diterima oleh
Anita yangbaru saja bercumbu
dengan Angga. Dia memakai
daster kaos milik Angga.
"Mari Bu!" kata Anita
mempersilakan Ibu Ana duduk.
"Bagaimana kabar anak-anak
sini," sambil dia duduk di sofa
panjang.
Anita kemudian menceritakan
keadaan teman-teman satu
asramanya. Tiba-tiba Angga
muncul.
"Maaf Bu, saya mau pergi,"
kata Angga.
"Silahkan," jawab Ibu Ana.
Ketika itu Anita tanpa sengaja
melihat kedua payudara Ibu
Ana yang masih ditutupi
pakaiannya.
"Ada apa Nit?" tanya Ibu Ana.
"Tidak apa-apa Bu," jawab
Anita.
"Ibu darimana?" sambung Anita.
"Berbelanja."
Ibu Ana lalu mengeluarkan
beberapa barang dari tas
plastik dan diletakkan di meja.
Barang-barang itu memang
disediakan Ibu Ana setiap
bulannya untuk memenuhi
kebutuhan anak-anak di
asramanya. Kebetulan Ibu Ana
memperoleh menjadi anggota
dari sebuah agen produk
kecantikan. Anita tertarik pada
sebuah barang yang setelah
dikeluarkan dari tas plastik
tidak diletakkan di meja tetapi
dimasukkan ke tas kecilnya.
"Itu apa Bu?"
"Ini buat Ibu."
Diserahkannya sebuah botol
kecil ke Anita. Sebuah cream
untuk membantu memperbesar
dan memperindah payudara.
"Jadi ini ya? Yang membuat
payudara ibu jadi besar itu.
Saya mau Bu."
"Itu buat kamu saja. Nanti Ibu
beli lagi."
"Caranya bagaimana Bu?"
"Tinggal diusap saja di
payudaramu."
"Beri contoh Bu."
"Malu saya kalau.." Ibu Ana
menghentikan perkataannya.
"Malu apa Bu?"
Ibu Ana hanya diam.
"Malu telanjang ya?"
Ibu Ana hanya menggangguk.
"Kenapa malu Bu. Ibu harus
bangga mempunyai payudara
besar. Atau begini saja Bu.
Kalau Ibu malu, aku juga lepas
pakaian. Jadi kita sama-sama
malu."
Ibu Ana ingin mencegah Anita
melepas pakaiannya. Terlambat.
Anita sudah melepas daster
kaos yang dipakainya.
"Ibu curang. Kenapa tidak lepas
pakaian? Aku yang lepas ya
Bu?"
Anita menghampiri Ibu Ana
yang setengah menghindar
untuk dilepas pakaiannya.
Tetapi akhirnya Anita berhasil
melepas kaos ketat termasuk
BH yang dipakai Ibu Ana.
Dibelainya kedua payudara Ibu
Ana. Ibu Ana sendiri juga
membelai kedua payudara
Anita.
"Payudaramu juga indah."
"Tetapi tidak besar Bu.
Bagaimana cara menggunakan
cream ini Bu?"
Ibu Ana menghentikan
keasyikannya membelai kedua
payudara Anita. Dia mengambil
botol cream tersebut.
Dibukanya dan diambil sedikit.
Diusapkannya cream tersebut
ke payudara kirinya. Diratakan
dan diremas-remas. Anita
mengikutinya. Tetapi tidak ke
payudaranya. Diambilnya sedikit
cream dan diusapkan ke
payudara kanan Ibu Ana. Anita
melakukannya dengan
gairahnya yang memanas. Ibu
Ana ingin menghindar. Tetapi
dia merasakan bahwa
remasannya lebih nikmat dari
remasan suaminya sendiri. Dia
mendiamkan Anita meremas
kedua payudaranya. Dia
bahkan menikmatinya dan ikut
meremas kedua payudara Anita
tanpa memakai cream. "Aaahh..
aahh.. aahh.."
Keduanya berpandangan dan
tersenyum. Anita kemudian
memegang kepala Ibu Ana dan
diletakkan di payudara kirinya.
Entah mengapa, seolah-olah
sudah pernah melakukan. Bibir
Ibu Ana menghisap payudara
kiri Anita. Tangannya membelai
dan meremas payudara kanan
Anita. Kemudian Ibu Ana merasa
puas dan kemudian
merebahkan tubuhnya ke sofa
panjang tersebut sambil
kakinya masih di bawah. Anita
mengangkat kaki Ibu Ana ke
atas kemudian dia menduduki
paha Ibu Ana bagian atas.
Diremasnya kedua payudara
Ibu Ana sambil memilin-milin
puting payudara kanan Ibu
Ana. Tangan Ibu Ana tidak
tinggal diam. Dia ingin juga
meremas kedua payudara
Anita. Tetapi Anita pintar
menghindar sehingga Ibu Ana
setengah jengkel hanya bisa
membelai punggung Anita.
Tidak lama setelah itu Ibu Ana
mendorong punggung Anita
sehingga tubuh Anita menindih
tubuh Ibu Ana. Kedua payudara
mereka saling menempel.
Kemudian mereka saling
menggesek-gesekkan puting
kedua payudara. Keduanya
sama-sama mengeluarkan
suara.
"Ouohh.."
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."
Anita duduk lagi dan
membersihkan cream yang
menempel di kedua
payudaranya gara-gara
didorong Ibu Ana. Ibu Ana
membantu membersihkan tetapi
tidak sekedar membersihkan.
Diremasnya payudara kanan
Anita dan sekaligus memilin
puting payudaranya. Anita
selesai membersihkan cream di
kedua payudaranya dan lalu
membersihkan kedua payudara
Ibu Ana. Setelah selesai, Anita
memegang kedua tangan Ibu
Ana yang asyik mempermainkan
kedua payudaranya.
Diletakkannya kedua tangan
Ibu Ana ke pundaknya dan
mendorong sendiri tubuhnya
menindih Ibu Ana kembali.
Kembali kedua payudara
mereka saling menempel.
Keduanya kembali sama-sama
mengeluarkan suara."Ouohh.."
Kemudian Anita duduk lagi dan
mengambil sebuah botol yang
ada di meja. Botol tersebut
mirip sebuah penis.
Disentuhkannya botol tersebut
ke bibir Ibu Ana. Ibu Ana yang
telah mencapai puncak
kenikmatan berusaha mencoba
untuk menghisap botol
tersebut. Tetapi Anita sengaja
hanya menyentuhkannya. Dia
menarik botol tersebut dengan
lembut turun ke bawah melalui
leher danakhirnya sampai
diantara kedua payudara Ibu
Ana. Botol tersebut digesek-
gesekkan turun-naik dan Ibu
Ana mengimbangi dengan
memegang kedua payudaranya.
Dijepitnya botol tersebut
dengan kedua payudaranya
sedangkan Anita masih terus
menggesek-gesekkannya
secara turun-naik. Tangan
kanannya membelai kedua
payudara Ibu Ana bergantian.
Anita menghentikan
gesekannya dan botol tersebut
kini pindah ke payudara
kanannya. Disentuhkannya
botol tersebut mengelilingi
payudara kanannya dilanjutkan
dengan aksi botol tersebut
mengelilingi payudara kirinya.
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."
Ibu Ana hanya melihat, dan
setelah Anita selesai dengan
permainannya, dia memegang
tangan Anita yang memegang
botol tersebut. Didorongnya
botol tersebut ke mulutnya.
Anita lalu mengeluar-masukkan
botol tersebut sambil salah
satu tangannya dibimbing oleh
kedua tangan Ibu Ana untuk
meremas kedua payudaranya.
Setelah beberapa lama, Anita
lalu mengeluarkan botol
tersebut dan botol tersebut
yang basah diusapkan ke
payudara kirinya. Kemudian
botol tersebut diletakkan ke
meja kembali. Ibu Ana yang
melihat payudara kiri Anita
basah lalu membersihkan
dengan belaian tangannya
yang lembut. Kembali mereka
terlena dengan belaian-belaian
yang menggairahkan
dilanjutkan dengan saling
meremas.
Setelah puas saling meremas
kedua payudara, Anita lalu
menyentuhkan kedua puting
payudaranya ke kedua puting
payudara Ibu Ana. Pelan-pelan
dia turun menindihi Ibu Ana
sehingga kedua payudara
mereka saling menempel.
"Ouohh.."
Tidak puas begitu saja,
keduanya kemudian
melanjutkan permainan binal
tersebut hingga titik
kenikmatan penghabisan.
Sungguh Nikmat hidup ini.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net