ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Jude, Guru Privat Ku

Memiliki rupa yang cantik tidak
selamanya menguntungkan.
Memang banyak lelaki yang
tertarik, atau mungkin hanya
sekedar melirik. Ada kalanya
wajah menentukan dalam
mendapatkan posisi di suatu
pekerjaan. Atau bahkan wajah
dapat dikomersiilkan pula.
Tapi aku tidak pernah
mengharapkan wajah yang
cantik seperti yang kumiliki
saat ini. Aku juga tidak pernah
menghendaki tinggi badan 163
centimeter dengan berat 52
kilogram. Tidak juga kulit putih
merona dengan dada ukuran
36B. Tidak! Sungguh, semua itu
justru membawa bencana
bagiku.
Bagaimana tidak bencana.
Karena postur tubuh dan
wajah yang bisa dinilai delapan,
aku beberapa kali mengalami
percobaan pemerkosaan. Paling
awal ketika aku masih duduk di
bangku esempe kelas tiga. Aku
hampir saja diperkosa oleh
salah seorang murid laki-laki di
toilet. Murid laki-laki yang
ternyata seorang alkoholik itu
kemudian dikeluarkan secara
tidak hormat dari sekolah. Tapi
akupun akhirnya pindah
sekolah karena masih trauma.
Di sekolah yang baru pun aku
tak bisa tenang karena salah
seorang satpamnya sering
menjahilin aku. Kadang
menggoda-goda, bahkan
pernah sampai menyingkap
rokku ke atas dari belakang.
Sampai pada puncaknya, aku
digiring ke gudang sekolah
dengan alasan dipanggil oleh
salah seorang guru. Untung
saja waktu itu seorang
temanku tahu gelagat tak
beres yang tampak dari si
Satpam brengsek itu. Ia dan
beberapa teman lain segera
memanggil guru-guru ketika
aku sudah mulai terpojok. Aku
selamat dan satpam itu
meringkuk sebulan di sel
pengap.
Dua kali menjadi korban
percobaan pemerkosaan, orang
tuaku segera mengadakan
upacara ruwatan. Walaupun
papa mamaku bukan orang
Jawa tulen (Tionghoa), tapi
mereka percaya bahwa
upacara ruwatan bisa menolak
bahaya.
Selama dua tahun aku baik-
baik saja. Tak ada lagi kejadian
percobaan pemerkosaan atas
diriku. Hanya kalau colak-colek
sih memang masih sering
terjadi, tapi selama masih
sopan tak apalah. Tapi ketika
aku duduk di bangku kelas tiga
esemu. Kejadian itu terulang
lagi. Teman sekelasku
mengajakku berdugem ria ke
diskotik. Aku pikir tak apalah
sekali-kali, biar nggak kuper.
Ini kan Jakarta, pikirku saat
itu. Aku memang tak ikut
minum-minum yang berbau
alkohol, tapi aku tak tahu
kalau jus jeruk yang aku
pesan telah dimasuki obat
tidur oleh temanku itu. Waktu
dia menyeretku ke mobilnya
aku masih sedikit ingat. Waktu
dia memaksa menciumku aku
juga masih ingat. Lalu dengan
segala kekuatan yang tersisa
aku berusaha berontak dan
menjerit-jerit minta tolong. Aku
kembali beruntung karena
suara teriakanku terdengar
oleh security diskotik yang
kemudian datang menolongku.
Sejak itu aku merasa tak
betah tinggal di Jakarta.
Akhirnya aku segera
dipindahkan ke Yogyakarta,
tinggal bersama keluarga
tanteku sambil terus
melanjutkan sekolah. Awalnya
ketenangan mulai
mendatangiku. Hidupku berjalan
secara wajar lurus teratur.
Tanpa ada gangguan yang
berarti, apalagi gangguan
kejiwaan tentang trauma
perkosaan. Aku sibuk sekolah
dan juga ikutan les privat
bahasa Inggris.
Tapi memasuki bulan kelima
peristiwa itu benar-benar
terjadi. Aku benar-benar
diperkosa. Dan yang lebih
kelewat batas. Bukannya lelaki
yang memperkosaku, tapi
wanita. Yah, aku diperkosa
lesbian!! Dan lebih menyakitkan,
yang melakukannya adalah
guru privatku sendiri. Namanya
Jude Kofl. Umurnya 25 tahun,
tujuh tahun diatasku. Ia orang
Wales yang sudah tujuh tahun
menetap di Indonesia. Jadi
Jude, begitu aku memanggilnya,
cukup fasih berbahasa
Indonesia. Jude tinggal tak
sampai satu kilometer dari
tempatku tinggal. Aku cukup
berjalan kaki jika ingin ke
rumah kontrakannya.
Kejadian itu bermula pada saat
aku datang untuk les privat
ke tempat Jude. Kadangkala
aku memang datang ke tempat
Jude kalau aku bosan belajar
di rumahku sendiri, itupun kami
lakukan dengan janjian dulu.
Sebelum kejadian itu aku tidak
pernah berpikiran macam-
macam ataupun curiga kepada
Jude. Sama sekali tidak!
Memang pernah aku
menangkap basah Jude yang
memandangi dadaku lekat-
lekat, pernah juga dia
menepuk pantatku. Tapi aku
kira itu hanya sekedar iseng
saja.
Siang itu aku pergi ke tempat
Jude. Ditengah jalan tiba-tiba
hujan menyerang bumi. Aku
yang tak bawa payung berlari-
lari menembus hujan. Deras
sekali hujan itu sampai-sampai
aku benar-benar basah kuyup.
Sampai di rumah Jude dia
sudah menyongsong
kedatanganku. Heran aku
karena Jude masih
mengenakan daster tipis tak
bermotif alias polos. Sehingga
apa yang tersimpan di balik
daster itu terlihat cukup
membayang. Lebih heran lagi
karena Jude menyongsongku
sampai ikut berhujan-hujan.
"Aduh Mel, kehujanan yah?
Sampai basah begini.."
sambutnya dengan dialek
Britishnya.
"Jude, kenapa kamu juga ikut-
ikutan hujan-hujanan sih, jadi
sama-sama basah kan."
"Nggak apa-apa nanti saya
temani you sama-sama
mengeringkan badan."
Kami masuk lewat pintu garasi.
Jude mengunci pintu garasi,
aku tak menaruh kecurigaan
sama sekali. Bahkan ketika aku
diajaknya ke kamar mandinya,
aku juga tak punya rasa
curiga. Kamar mandi itu cukup
luas dengan perabotan yang
mahal, walau tak semahal milik
tanteku. Di depanku nampak
cermin lebar dan besar
sehingga tubuh setiap orang
yang bercermin kelihatan utuh.
"Ini handuknya, buka saja
pakaian you. Aku ambilkan baju
kering, nanti you masuk angin."
Jude keluar untuk mengambil
baju kering. Aku segera
melepas semua pakaianku,
kecuali CD dan BH lalu
memasukkannya ke tempat
pakaian kotor di sudut
ruangan.
"Ini pakaiannya,"
Aku terperanjat. Jude
menyerahkan baju kering itu
tapi tubuh Jude sama sekali
tak memakai selembar kain
pun. Aku tak berani menutup
muka karena takut Jude
tersinggung. Tapi aku juga tak
berani menatap payudara Jude
yang besar banget. Kira-kira
sebesar semangka dan nampak
ranum banget, tanda ingin
segera dipetik. Berani taruhan,
milik Jude nggak kalah sama
milik si superstar Pamela
Anderson.
"Lho kenapa tidak you lepas
semuanya?" tanya Jude tanpa
peduli akan rasa heranku.
"Jude, kenapa kamu nggak
pakai baju kayak gitu sih?"
Jude hanya tersenyum nakal
sambil sekali-sekali memandang
ke arah dadaku yang
terpantul di cermin. Kemudian
Jude melangkah ke arahku.
Aku jadi was-was, tapi aku
takut. Aku kembali teringat
pada peristiwa percobaan
pemerkosaanku.
Jude berdiri tegak di
belakangku dengan senyum
mengembang di bibir tipisnya.
Jemarinya yang lentik mulai
meraba-raba mengerayangi
pundakku.
"Jude! Apa-apaan sih, geli
tahu!"
Aku menepis tangannya yang
mulai menjalar ke depan. Tapi
secepat kilat Jude
menempelkan pistol di leherku.
Aku kaget banget, tak
percaya Jude akan melakukan
itu kepadaku.
"Jude, jangan main-main!" aku
mulai terisak ketakutan.
"It's gun, Mel and I tak sedang
main-main. Aku ingin you nurut
saja sama aku punya mau."
Ujar Jade mendesis-desis di
telinga Jade.
"Maumu apa Jude?"
"Aku mau sama ini.. ini juga
ha..ha.."
"Auh.."
Seketika aku menjerit ketika
Jude menyambar payudaraku
kemudian meremas kemaluanku
dengan kanan kirinya. Tahulah
aku kalau sebenarnya Jude itu
sakit, pikirannya nggak waras
khususnya jiwa sex-nya. Buah
dadaku masih terasa sakit
karena disambar jemari Jude.
Aku harus berusaha
menenangkan Jude.
"Jude ingat dong, aku ini
Melinda. Please, lepaskan aku.."
"Oh.. baby, aku bergairah sekali
sama you.. oh.. ikut saja mau
aku, yah.." Jude mendesah-
desah sambil menggosok-
gosokkan kewanitaannya di
pantatku. Sedangkan buah
dadanya sudah sejak tadi
menempel hangat di
punggungku. Matanya menyipit
menahan gelegak birahinya.
"Jude, jangan dong, jangan
aku.."
Muka Jude merah padam,
matanya seketika terbelalak
marah. Nampaknya ia mulai
tersinggung atas penolakanku.
Ujung pistol itu makin melekat
di dekat urat-urat leherku.
"You can choose, play with me
or.. you dead!"
Aah.. Dadaku serasa sesak. Aku
tak bisa bernafas, apalagi
berfikir tenang. Tak kusangka
ternyata Jude orang yang
berbahaya.
"Okey, okey Jude, do what do
you want. Tapi tolong, jangan
sakiti aku please.." rintihku
membuat Jude tertawa penuh
kemenangan.
Wajah wanita yang sebenarnya
mirip dengan Victoria Beckham
itu semakin nampak cantik
ketika kulit pipinya merah
merona. Jude meletakkan
pistolnya di atas meja.
Kemudian dia mulai
menggerayangiku.
Jude mulai mencumbui
pundakku. Merinding tubuhku
ketika merasakan nafasnya
menyembur hangat di sekitar
leherku, apalagi tangannya
menjalar mengusap-usap
perutku. Udara dingin karena
CD dan BHku yang basah
membuatku semakin merinding.
Jemari Jade yang semula
merambat di sekitar perut kini
naik dan semakin naik. Dia
singkapkan begitu saja BHku
hingga kedua bukit kembarku
itu lolos begitu saja dari kain
tipis itu. Setiap sentuhan Jade
tanpa sadar aku resapi, jiwaku
goyah ketika jari-jari haus itu
mengusap-usap dengan lembut.
Aku tak tahu kalau saat itu
Jade tersenyum menang ketika
melihatku menikmati setiap
sentuhannya dengan mata
tertutup.
"Ah.. ehg.. gimana baby sweety,
asyik?" kata Jude sambil
meremas-remas kedua buah
dadaku.
"Engh.." hanya itu yang bisa
aku jawab. Deburan birahiku
mulai terpancing.
"Engh.." aku mendongak-dongak
ketika kedua puting susuku
diplintir oleh Jude "Juude..ohh.."
Aku tak tahan lagi kakiku yang
sejak tadi lemas kini tak bisa
menyangga tubuhku. Akupun
terjatuh ke lantai kamar mandi
yang dingin. Jude langsung saja
menubrukku setelah
sebelumnya melucuti BH dan
CDku. Kini kami sama-sama
telah telanjang bagai bayi yang
baru lahir.
"You cantik banget Mel, ehgh.."
Jude melumat bibirku dengan
binal.
"Balaslah Mel, hisaplah bibirku."
Aku balas menghisapnya, balas
menggigit-gigit kecil bibir Jude.
Terasa enak dan berbau wangi.
Jude menuntun tanganku agar
menyentuh buah dadanya yang
verry verry montok. Dengan
sedikit gemetar aku memegang
buah dadanya lalu meremas-
remasnya.
"Ah.. ugh.. Mel, oh.." Jude
mendesis merasakan
kenikmatan remasan tanganku.
Begitupun aku, meletup-letup
gairahku ketika Jude kembali
meremas dan memelintir kedua
bukit kembarku.
"Teruslah Mel, terus .."
Lalu Jude melepaskan
ciumannya dari bibirku.
"Agh.. Oh.. Juude.."
Aku terpekik ketika ternyata
Jude mengalihkan cumbuannya
pada buah dadaku secara
bergantian. Buah dadaku
rasanya mau meledak.
"Ehg.. No!!" teriakku ketika
jemari Jude menelusuri daerah
kewanitaanku yang berbulu
lebat.
"Come on Girl, enjoy this game.
Ini masih pemanasan honey.."
Pemanasan dia bilang? Lendir
vaginaku sudah mengucur
deras dia bilang masih
pemanasan. Rasanya sudah
capek, tapi aku tak berani
menolak. Aku hanya bisa
pasrah menjadi pemuas nafsu
sakit Jude. Walau aku akui
kalau game ini melambungkan
jiwaku ke awang-awang.
Jude merebahkan diri sambil
merenggangkan kedua
pahanya. Bukit kemaluannya
nampak jelas di pangkal paha.
Plontos licin. Lalu Jude
memintaku untuk mencumbui
vaginanya. Mulanya aku jijik,
tapi karena Jude mendorong
kepalaku masuk ke
selakangannya akupun segera
menciumi kewanitaan Jude.
Aroma wangi menyebar di
sekitar goa itu. Lama kelamaan
aku menciuminya penuh nafsu,
bahkan makin lama aku makin
berani menjilatinya. Juga
mempermainkan klitnya yang
mungil dan mengemaskan.
"Ahh.. uegh.." teriak Jude
sedikit mengejan.
Lalu beberapa kali goa itu
menyemburkan lendir berbau
harum.
"Mel, hisap Mel.. please.."
rengek Jude.
Sroop.. tandas sudah aku hisap
lendir asin itu.
Suur.. kini ganti vaginaku yang
kembali menyemburkan lendir
kawin.
"Jude aku keluar.." ujarku
kepada Jude.
"Oya?" Jude segera
mendorongku merebah di
lantai. Lalu kepalanya segela
menyusup ke sela-sela
selakanganku.
Gadis bule itu menjilati lendir-
lendir yang berserakan di
berbagai belantara yang
tumbuh di goa milikku. Aku
bergelinjangan menahan segala
keindahan yang ada. Jude
pandai sekali memainkan
lidahnya. Menyusuri dinding-
dinding vaginaku yang masih
perawan.
"Aaah.." kugigit bibirku kuat
kuat ketika Jude menghisap
klit-ku, lendir kawinkupun
kembali menyembur dan
dengan penuh nafsu Jude
menghisapinya kembali.
"Mmm.. delicious taste."
Gumamnya.
Jude segera memasukkan
batang dildo yang aku tak
tahu dari mana asalnya ke
dalam lubang kawinku.
"Ahh..!! Jude sakit.."
"Tahan sweety.. nanti juga
enak.."
Jude terus saja memaksakan
dildo itu masuk ke vaginaku.
Walaupun perih sekali akhirnya
dildo itu terbenam juga ke
dalam vaginaku. Jude
menggoyang-goyangkan
batang dildo itu seirama.
Antara perih dan nikmat yang
aku rasakan. Jude semakin
keras mengocok-ngocok
batang dildo itu. Tiba-tiba
tubuhku mengejang, nafasku
bagai hilang. Dan sekali lagi
lendir vaginaku keluar tapi kali
ini disertai dengan darah.
Setelah itu tubuhku pun
melemas.
Air mataku meleleh, aku yakin
perawanku telah hilang. Aku
sudah tak pedulikan lagi
sekelilingku. Sayup-sayup masih
kudengar suara erangan Jude
yang masih memuaskan dirinya
sendiri. Aku sudah lelah, lelah
lahir batin. Hingga akhirnya
yang kutemui hanya ruang
gelap.
Esoknya aku terbangun diatas
rajang besi yang asing bagiku.
Disampingku selembar surat
tergeletak dan beberapa
lembar seratus ribuan.
Ternyata Jude
meninggalkannya sebelum pergi.
Dia tulis dalam suratnya
permintaan maafnya atas
kejadian kemarin sore. Dan dia
tulis juga bahwa dia takkan
pernah kembali untuk
menggangguku lagi. Aku pergi
dari rumah kontrakan
terkutuk itu seraya bertekad
akan memendam petaka itu
sendiri.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net