Koleksi Gambar Bokep Import @ ramon84.org
ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Tenggelam Dalam Pesona Warni

Beberapa kali aku menjumpai
lelaki atau perempuan yang
memiliki daya tarik dan pesona
seksual yang sangat luar biasa.
Mereka ini dengan mudah
membuat lawan jenisnya atau
'sejenis'-nya bagi 'pecinta
sejenis' bertekuk lutut. Bagiku
perempuan macam presenter
TV Tessa Kaunang atau lelaki
macam bintang iklan dan
sinetron Reynaldi termasuk
diantara mereka yang memiliki
pesona seksual yang kumaksud.
Sangat nikmat rasanya
'ditaklukkan' oleh lelaki ataupun
perempuan macam itu untuk
kemudian melayani dan menjadi
budaknya. Akan rela aku
menciumi sepatu dan kaos
kakinya. Akan kucuci celana
dalamnya dengan ludahku
hingga larutan sisa kencing
atau keringatnya larut dan
bisa kutelan kembali. Aku akan
rela menceboki lubang-lubang
pembuangannya sebagai tugas
setiap pagiku. Aku akan
memandikannya dengan jilatan-
jilatan lidahku hingga tak
tersisa noda barang sedikitpun
pada semua celah-celah
tubuhnya.
Pada orang macam ini apapun
yang keluar dari dia rasanya
nikmat untuk kita lahap. Aku
akan serta merta telan apabila
dia membuang ludah ke
mulutku. Aku akan menjilati
lubang tainya hingga tak ada
yang tersisa. Aku akan minum
kencingnya. Aku akan sodorkan
mukaku kemudian membuka
mulutku untuk menampung
kencingnya yang kuning pekat.
Aku bisa mencuci mukaku pula
dengan cairannya itu.
Beberapa waktu yang lalu
Randi, seorang lelaki yang
memiliki pesona seksual macam
itu telah mengisahkan
pengalamannya pada anda
melalui tulsan-tulisanku ini. Kini
giliran kisahku sendiri yang
kualami saat ketemu sesama
perempuan yang memiliki
pesona seksual sebagaimana
Randi tersebut di atas.
Namanya hanyalah sederhana,
Warni.
Dia hanyalah pembantu rumah
tangga. Dia adalah pembantu
rumah tangga Bu Mitro
tetanggaku. Dialah perempuan
yang sangat lugu atau blo'on
dan tak begitu cantik. Tetapi
Warni ternyata mampu
membuat aku kelenger dan
menggelepar oleh pesona
seksualnya. Posturnya
jangkung semampai. Tingginya
168 cm, berat kira-kira sedikit
di atas 50 kg. Walaupun
hidungnya agak pesek dan
kupikir betisnya juga terlalu
gede untuk ukuran dia namun
kulitnya macam bawang. Putih
dan bersih.
Mungkin karena lugunya atau
blo'onnya dan kulitnya yang
putih bersih inilah yang
membuat aku sangat kasmaran
padanya. Sungguh, aku pengin
banget berkesempatan
memanjakan sesama
perempuan macam Warni ini.
Pada suatu pagi Bu Mitro
bersama Warni bertandang ke
rumah. Dia berpamitan untuk
pulang ke Jombang karena ada
urusan keluarga. Mungkin akan
makan waktu selama 5 hari.
Untuk itu dia titip-titip rumah
sambil nitipkan pembantunya
Warni kepadaku.
"Jeng Marini, tolong titip-titip
rumah. Sama ini Warni biar
'nemenin' jeng Marini selama
saya pulang mudik. Jeng bisa
suruh dia membersihkan rumah
dan lain-lainnya".
Wwooww.. Sungguh tak pernah
kuduga akan muncul
kesempatan macam begini.
Walaupun mendapat durian
runtuh aku nggak
menunjukkan kegirangan yang
terlalu, khususnya kepada
Warni. Aku ingin dia bisa
bergerak leluasa tanpa banyak
aku suruh macam-macam,
biarlah dia melakukan sesuatu
sebagaimana maunya hingga
tak ada rasa takut atau malu
padaku. Sementara itu aku
bisa sepuasku memandangi
tingkah laku Warni yang di
mataku serba mempesona itu.
Tuh, lihat, jalannya. Sungguh
aduhai. Paduan antara perut
dan pinggulnya begitu
harmonis. Saat melangkah
untuk jalan nampak seindah
perut dan pinggul harimau
lapar saat mengendapAendap
calon mangsanya. Perubahan
otot kanan kemudian kiri saat
melangkah, irama langkahnya
dan lenggang lengannya tak
terkatakan sensualnya. Nggak
cukup kata-kata untuk
menyiratkan pesona itu.
Aku membayangkan kedua
pahanya yang saling gesek dan
dari sana menimbulkan keringat
dengan aroma. Betapa nikmat
bisa tenggelam di antara
kedua pahanya itu. Libidoku
langsung melonjak-lonjak
menyaksikan sesama
perempuan yang begitu
mempesona itu. Tanpa sadar
jari-jariku merabai pentil
tetekku dan melintir lembut.
Khayalan birahiku langsung
terbang membawa hidungku
menyelusup ke paha-paha
Warni. Ampuunn.. Sedapnya..
Sejak siang dia kuajak makan
bersama satu meja, bahkan
beberapa kali aku mencomot
makanan dari piring Warni dan
dia juga mau mencomot dari
piringku. Bahkan dia menerima
cuilan gigitanku dan
memakannya demikian pula aku
minta cuilan bekas gigitannya
untuk kumakan. Semua itu
merupakan caraku untuk
membuat Warni merasa akrab
dan dekat dengan aku. Siasat
ini ternyata manjur. Pada sore
harinya dia sudah berani
ngomong santai. Bahkan dia
bisa bilang.
"Mbak Marini, saya pinjam
blusnya dong. Soalnya bajuku
di dalam kamar yang terkunci
oleh ibu," katanya.
Aacchh.. Tiba-tiba aku melihat
adanya peluang yang begitu
lebar. Dengan serta merta
kujawab,
"Boleh, boleh, sangat boleh.
Pilih saja yang kamu suka.
Nanti Mbak bantu kamu
bagaimana memakainya agar
kamu kelihatan sangat cantik,
sayangg.." rasanya nggak akan
sia-sia aku memangilnya
'sayang' untuk kelas pembantu
macam Warni ini.
Uucchh.. Aku nggak sangka
reaksi Warni pada ucapanku
barusan.
"Bener Mbak? Bener Mbak
Marini mau bantu aku??
Uucchh.. Seneng banget dong,
soalnya Mbak khan cantik
banget," begitu girangnya dia
berbalik dari tumpukan bajuku
dan langsung menubruk dan
memeluk aku.
Begitulah dia merasa bisa
bermanja-manja padaku. Aku
memang tak lagi memandang
Warni sebagai pembantu. Aku
ingin dia benar-benar tanpa
jarak bersamaku.
Dengan spontan dia menciumi
aku, pipiku dan tanganku
untuk menujukkan kegembiraan
dan terima kasih kepada
'Mbak'-nya. Namun aku yang
menerima tubrukan dan ciuman
darinya bukannya seperti
menerima kegirangan adik.
Libidoku langsung greenng..
Birahiku dengan lembut dan
pasti menyongsong pesona
Warniku ini. Apalagi saat bau
keringatnya menyergap
hidungku, entah ketiaknya
atau dadanya, aku langsung
melayang dalam hasrat seksual
bersama Warni ini.
"Aku bilang Mbak paling cantik
deh di sekitar sini. Bahkan
mungkin di seputar daerah
sini," katanya memuji
kecantikanku.
Aku sangat gembira. Berarti
dia memperhatikan aku pula
selama ini.
"Ah, siapa yang ngomong
begituu..??" kataku pengin
tahu.
"Banyak teman-teman
pembantu di sekitar sini yang
ngomong begitu. Kalau ngobrol
kecantikkan pasti Mbak Marini
yang selalu jadi contoh. Kata
mereka Mbak seperti bintang
sinetron. Bener, nih Mbak,"
Warni berusaha meyakinkan
aku.
"Ya sudah sana, teruskan mau
pakai baju yang mana," kataku
mendorong kegembiraan
hatinya.
Dengan lugunya dia memilih-
milih bajuku untuk dipakainya.
Dan aku berdiri mendekat. Aku
sudah ketagihan akan bau
badannya. Aku ingin cepat
membantu mengenakan
busananya. Aku sudah tak
sabar untuk lekas menyentuhi
bagian-bagian tubuh erotisnya.
Begitu mendekat secercah bau
keringat ketiaknya langsung
merangsek ke hidungku. Bau
itu sangat alami. Warni belum
mengenal bau wewangian
pabrik. Ini adalah bau asli dari
Warni yang anak desa
Sukabumi itu. Aku tergetar.
Sepertinya mimpi-mimpi birahiku
semakin mendekat kepada
kenyataan. Aku menjadi sangat
sensitif. Sentuhan kecil dari
apapun milik Warni langsung
menyerang hasrat seksualku.
Aku merinding dan gemetar.
Sini, Warnikuu.. Biarlah Mbak
bantuu.. Aku rindu bau
keringatmu Warnii..
Dia menunjukkan padaku baju
yang disukainya. Woo.. Dia
rupanya pengin memakai baju
'u can see' yang sering aku
pakai. Dan untuk roknya dia
memilih model kulot yang
berkancing di larik kirinya.
Dengan membuka kancing-
kancing itu Warni bisa langsung
telanjang. Entah dari mana dia
melihat model macam itu. Aku
sudah tak sabar membantu
memakaikannya.
Pertama kusuruh
menanggalkan baju dan roknya
yang sedang dia pakai hingga
dia berbugil kecuali celana
dalam putih dan BH-nya.
Wwuiihh.. Aku benar-benar
kasmaran kalau begini. Di
depanku serasa aku sedang
menjumpai bidadari. Semua
bagian tubuh Warni
menunjukkan keindahan
sempurna serta seks appeal-
nyayang sangat kuat. Lihat..
Pahanya begitu getas dan
langsing bagai belalang.
Bahunya bidang. Sambungan
antara bahu dan dada ditandai
dengan celah ketiaknya yang
lebar. Alangkah sedapnya
untuk tenggelam ke sana. Buah
dadanya sangat ranum montok
mendesaki BH-nya. Tali BH itu..
Erat menimbulkan alur legok
pada bahu dan punggungnya.
Dan, bahkan peragawatipun
rasanya tak memiliki leher
seindah leher Warniku ini.
Perutnya yang kencang
membentuk pinggul seksi.
Disinilah letak saat Warni jalan
bagai harimau lapar. Pinggul itu
sangat luwes dan uuhh.. Seksi
bangeett..
Kembali aku mendekat. Aku
ingin menghirup bau tubuh
alami anak desa ini. Aku
berbisik sedikit berdesah,
"Kamu sangat cantik dan seksi,
Warr.."
Dia begitu gembira dengan
pujianku. Dia merangkul aku
dan mencium pipiku. Tak apa.
Yang aku dapatkan jelas, bau
tubuhnya langsung menerpa
hidungku. Aku mencoba
memperpanjang
ketelanjangannya. Kuraih
lengannya dan kuamati jari-jari
tangannya. Jari-jariku
mengelusi jari-jarinya. Aku juga
meremasinya.
"Jarimu kok indah banget sih,
Warr.." dan aku berkesempatan
mencium dan mengecup-kecup
jari itu.
Rupanya Warni merasakan
getaran di sana. Ditariknya
cepat tangannya. Aku nggak
kecewa. Aku pikir biar dia tahu
aku mendekatinya dengan
hasrat birahiku.
Aku minta dia berbalik
memunggungi aku. Kini kulihat
rambut halus dikuduknya.
Rambut yang sangat indah di
perbatasan leher dan
kepalanya itu demikian lembut
dan memberikan sentuhan
indah tak terhinga. Tumbuh di
atas leher yang sangat jenjang
rambut itu menjadi pesona
seksual yang begitu
mempesona aku.
Aku minta dia mengangkat
lengannya. Kini aku lihat kontur
tubuh yang langsing ini.
Pangkal lengannya melebar
melahirkan lembah ketiak yang
demikian indah pula. Aku tak
tahan untuk diam. Tangan
kanan kiriku menyentuh. Dari
iga hingga ketiaknya tangan-
tanganku mengelusi tubuh
Warni. Kembali dia
menggelinjang. Namun kali ini
dia tak mengelak. Kemudian
aku mencium kuduknya.
"Aacch.. Mbakk.. Geli banget
seehh.."
"Habis aku geregetan banget
melihat lehermu yang indah..."
aku tersenyum.
"Kapan memakai bajunya
Mbak?" Warni mulai nggak
sabar.
"Sabar dong.. Mbak khan lagi
mencari dimana letak keayuan
tubuhmu. Nanti akan
mendapatkan baju macam apa
yang tepat buat kamu. Coba
sini menghadap aku lagi," aku
berpura-pura mikir dan
mengukur-ukur dadanya
dengan tanganku.
"Coba pakai pilihan kamu tadi,"
untuk menyenangkan hatinya
aku mengalah.
Warni menyusupkan blusnya
melalui kepalanya. Dan 'u can
see' memang sangat indah
untuk Warni.
"Wooww.. Kamu jadi bintang
sinetron yaa.. Cantik banget
nih.. Coba kamu lihat di depan
cermin. Tuh di kamar"
Saat dia melangkah ke cermin
aku kembali melihati bokongnya
yang dibungkus celana dalam
putihnya. Khayalku langsung
terbang membawa bibirku
untuk menciumi bokongnya itu.
Kini aku pakaikan rok
bawahnya. Sebelumnya
kugunakan kesempatan untuk
merabai pinggul, bokong, paha
dan betisnya. Aku berpura
mengukur panjang dengan
langkah-langkah jariku. Aku
senang menikmati aroma alami
tubuhnya. Aku bilang sebaiknya
Warni melakukan manicure dulu.
Aku akan memotong kuku-
kuku kakinya dan mencuci dari
debu yang menempelnya.
Warni heran, kok aku mau sih
memotong kuku dan mencuci
kakinya. Aku jawab bahwa aku
adalah senang dengan
keindahan. Dan selalu berusaha
menjaga agar keindahan itu
tidak luntur karena tak
terpelihara. Wajahnya yang
lugu semakin membuat aku
geregetan untuk cepat
melumat bibirnya. Dia
mengagumi keteranganku.
Aku suruh Warni mengambil
baskom dengan air thermos
yang hangat. Dia duduk di
bangku dan aku jongkok.
Kakinya kucelupkan ke dalam
baskom air hangat itu dan
mulai mencucinya. Kusikat
kuku-kukunya dan kubersihkan
dakinya. Sesudah bersih
kuambil handuk kecil untuk
mengeringkannya. Semuanya
itu aku lakukan dengan penuh
kelembutan. Warni jadi sangat
penurut mengikuti
permintaanku.
Kuajak Warni ke kamar dan
kuminta untuk rebah ke
ranjang. Aku juga rebah namun
dalam posisi sungsang, kakiku
ke arah kepalanya dan kakinya
di arah kepalaku. Aku raih
kakinya untuk aku urut
dengan cairan wangi untuk
menyehatkan jari-jari kaki.
Seakan memang demikianlah
seharusnya aku menarik kaki
Warni agar menindih dadaku
dengan telapak kakinya
menghadap ke wajahku.
Nampaknya Warni begitu
menikmati perlakuanku hingga
terkantuk-kantuk.
Terbersit bau kaki Warni. Bau
sandal jepit. Namun keindahan
yang nampak menepis
keraguanku untuk
mendekatkan hidungku ke
telapak kakinya itu. Aku
perhatikan jari-jari kakinya
bukan jari anak desa yang
harus menggendong air dari
'belik' dengan 'lodong' ke
rumah.
Jari-jarinya itu nampak seperti
jari-jari peragawati. Aku tak
tahan hanya memandanginya.
Pelan-pelan kudekatkan
hidungku, bibirku dan lidahku.
Aku nekat. Mulai mengulum dan
melumati jari-jari kakinya itu.
Aku menunggu reaksi Warni.
Kaki itu terkaget namun lantas
diam. Yang kudengar
berikutnya adalah desah..
"Mbak.. Kok beginii.. Sih
mbaakk.."
Geliatnya membuat aku sedikit
menahan kakinya agar tak
lepas dari kulumanku. Lidah dan
bibirku merasakan kesat licin
pori-pori jari kakinya. Aku
melumatnya hingga kurasakan
keringat tipisnya larut dalam
ludahku. Aku menikmati dengan
menelannya.
"Saya merinding mbaakk.."
tanganku juga mulai mengelus-
elusi betisnya.
"Aachh.. Enak banget siihh.."
aku lega.
Mulai aku menggigit. Telapak
kakinya kujilati dan juga aku
menggigitnya. Dia benar-benar
menggelinjang.
"Mbaakk.. Ampuunn.. Geli
bangett.."
Kini mulai ada perlawanan.
Namun bukan untuk
menghindar. Itu perlawanan
dalam geliat nikmat hasrat
syahwat yang mulai menerpa
sanubari Warni. Aku hanya
semakin erat memegangi
betisnya. Lidahku melata dan
kugigit tumit Warni. Uucchh..
Tumit ini bak ujung telur ayam
kampung. Begitu indah namun
nampak begitu rentan. Dengan
halus aku menjamahnya.
Kulepaskan gigitan lembut di
atasnya dan kembali keringat
tipis tumitnya larut dalam
ludahku yang langsung kusedot
menelannya.
Sekali lagi Warni berontak
menggeliat. Namun bukannya
melawan. Geliatnya ternyata
untuk mengubah posisi. Dia kini
tengkurap. Dan yang
kusaksikan adalah sebuah
kejutan sensual. Lereng,
lembah dan gunung muncul dari
tubuh Warni yang setengah
telanjang. Dari arah telapak
kakinya yang sedang dalam
pagutanku aku menyaksikan
betis yang bak padi bunting
kemudian menjauh nampak
lipatan lututnya yang
mengandung kerutan. Disana
biasanya tersimpan aroma
keringatnya. Lidah dan bibirku
mulai melata naik.
Saat aku mulai menyentuh
kemudian melepaskan jilatan
serta sedotan kecil bibirku
pada betis mulus itu,
"Adduhh.. Mbak Marini.. Enak
bangeett.. Teruss mbaakk..
Enak bangett mbakk.."
Walaupun aku sudah menduga
sebelumnya, namun suara
desah dan racau Warni ini
tetap merupakan kejutan
bagiku. Aku merasakan bahwa
kini sepenuhnya kegelisahan
syahwatku telah pudar. Hasrat
akan cinta sesama perempuan
mendapatkan saluran dengan
desah serta rintih Warni ini.
Kini aku mulai meliar tanpa
ragu. Aku sedot kuat-kuat
betis itu hingga meninggalkan
cupang. Warni menjerit,
"Mbaakk.. diapain akuu..
Mbaakk..." jeritan yang sangat
indah merangsang syahwat
telingaku.
Tanganku mulai meliar pula.
Rabaan-rabaan kulepaskan
pada pahanya serta
gundukkan bokongnya. Aku
terus melata, ciuman dan
kenyotan bibirku naik
merambah pelataran pahanya
yang dduuhh.. Sangat
mulusnyaa.. Rupanya semua ini
merupakan sensasi bagi Warni.
Dia menggelinjang hebat.
Tubuhnya menggeliat-geliat
menahan derita nikmat
syahwat. Tangannya bergerak
kebelakang langsung meraih
rambutku,
"Mbakk.. Terusin Mbaakk..
Teruss mbakk.. Enak mbaakk.."
ditarik-tariknya rambutku. Dia
sepertinya ingin agar aku
menciumi bokongnya. Ahh..
Warnii.. Jangan khawatir.. Aku
akan menuju ke sana..
Tanpa lagi ragu aku menggiring
wajahku menuju bukit kembar
bokongnya yang terbungkus
celana dalam putih ini. Aku
memang ingin menikmati aroma
bokong berikut celana
dalamnya. Aku belum ingin
melepaskan bungkusnya itu.
Aku langsung 'nyungsep'
menenggelamkan wajahku ke
bokong indah itu. Aromanya
langsung menyergap hidungku.
Aku menarik nafas dalam-dalam
untuk sebanyak mungkin
menyedoti baunya yang sangat
khas.
Ternyata naluria alami Warni
berjalan sebagaimana
seharusnya. Gejolak syahwat
yang melanda berkat serangan
ciumanku menuntun dirinya
untuk bergerak nungging.
Dengan kepala beserta
dadanya yang merayap di
ranjang dia nagkat pantatnya
tinggi-tinggi. Ini artinya dia
memberikan kesempatan
padaku untuk sepuasnya
menciumi maupun menjilati
pantatnya. Dan tak mungkin
kulewatkan.
Lidahku mencari tepian celana
dalam itu kemudian
menggigitnya. Dengan mulutku
aku perosotkan celana itu
hingga pantat Warni ter-
ekspose putih telanjang.
Melihat apa yang memang pasti
kulihat aku langsung seperti
kerasukkan. Aku menyaksikan
sebuah paduan harmonis dalam
bentuk nyata. Sebuah
gundukkan licin tanpa cacat
mengarah ke bawah. Nonok
Warni menunjukkan cembung
bibirnya berikut kelentitnya
yang bak sayap kupu-kupu
kembar menunggu kumbang
menyentuhnya. Lidahku
mengeluarkan liur.
Lebih naik lagi kulihat sebuah
titik pusat yang diseputari
keriputan lembut yang
membentuk titik pusat itu. Aku
pastikan itulah lubang dubur
Warni. Ooww.. Kenapa lubang
itu demikian mempesonaku??
Ahh.. Aku merasakan ada yang
mengalir becek dari vaginaku.
Cairan birahiku tak mampu
kubendung. Apa yang
kusaksikan mendesaki cairan ini
untuk merembes keluar. Aku
memang telah sangat
terangsang. Aku ingin
selekasnya melepaskan jilatn-
jilatanku. Aku ingin menikmati
indahnya lubang dubur Warni di
lidahku. Aku mulai melepaskan
jilatanku.
Aku mulai dari bawah. Dengan
mendesakkan mulutku ke
vagina di selangkangannya aku
menjilati bibir vaginanya itu.
Aku juga telah merasakan
adanya cairan yang lengket
asin. Aku yakin Warni telah
terbakar birahi. Aku semakin
liar mendesaki kemaluannya.
Aku menyedoti cairan
lengketnya.
Kemudian ciumanku menaik aku
merambati bukit terjal
mengantar lidahku menuju
lubang duburnya. Warni
meracau dan merintih tak
tertahan,
"Mbaakk.. Belum pernah aku
nikmat seperti ini mbaakk..
Tolong Mbakk terusinn yaa..
Aku enak banget mbaakk
Marini. Terus jilati ya mbakk.."
ah entah apa lagi racaunya itu.
Duburnya tidak langsung
kujilat. Aku membaui dulu.
Hidungku mengusel-uselnya
dulu. Aku ingin bau sebenarnya
kutangkap sebelum
terkontaminasi dengan ludahku.
Aku merasakan bau yang
hangat. Bau khas dan hangat
dari lubang dubur.
Uselan hidungku pasti
memindah alihkan aroma
duburnya itu ke hidungku.
Sesudah itu baru dengan
penuh serta merta dan
dahsyatnya nafsu aku menjilati
lubang itu. Dduuhh.. Warnii..
Kenapa kamu cepat pinterr
siihh.. Warnii.. Aku sayang
kamuu.. Biar aku jilati lubang
taimu aku mau dan sayang
kamuu..
Tak kuduga, tiba-tiba Warni
seperti kemasukan setan. Dia
berteriak histeris dambil
bangkit langsung memeluk aku,
"Mbakk, mbakk, mbaakk..
Gimana inii.. Saya jadi seperti
inii.. Rasanya haus bangeett..
Tenggorokanku kering
bangeett.. Mbakk.. Saya
takuutt.." sambil nampah
wajahnya merah, bingung dan
ngap-ngapan.
Serta merta aku peluk dia. Aku
ciumi pipinya, lehernya,
dagunya kemudian bibirnya.
Uuhh.. Ternyata dia langsung
merangsek aku. Dia 'terkam'
aku dan mencakar punggungku.
Seperti serigala betina dia
pagut bibirku dan melumatnya.
Dia nampak sangat 'kehausan',
dia ingin minum sebanyak
mungkin ludahku, dia benar-
benar tak terkendali.
Keringatnya mengucur deras
dari seluruh bagian tubuhnya.
Aku langsung mengerti. Semua
hal ini adalah 'first time' bagi
Warni. Dia mengalami
'kekagetan syahwat'. Dia
merasakan sangat nikmat
namun sekaligus takut, 'ada
apa ini', dia asing dengan
nikmat yang melandanya. Dan
ciuman-ciumanku menurunkan
'tensi'nya. Dia nampak reda dan
pelan-pelan menjadi tenang.
Saat telah kembali menguasai
dirinya dia dengan 'dalam'
membalas ciuman dibibirnya,
"Maafin saya ya Mbak..
Sungguh aku tadinya nggak
ngerti lho.. Tetapi aduuhh..
Mbak Marini pinter sekali.. Aku
merasakan enaakk bangett..
Aku pengin terus begini
mbaakk..."
Ahh.. Aku jadi iba. Warni
terlampau lugu. Namun aku
juga nggak boleh setengah
jalan. Aku melepasi baju dan
rokku. Kini aku setengah
telanjang, tinggal ber-BH dan
celana dalam saja. Aku
langsung menurunkan ciumanku
ke dadanya, ke ketiaknya, ke
tulang iganya. Dia terus
bergelinjangan, namun tak mau
berhenti,
"Teruss Mbakk.. Teruss.." dan
aku menyambutnya.
Kini aku 'ngusel-usel' perutnya.
Kujilati pusernya. Aku jilati
pinggulnya. Tangan-tanganku
mulai mencakar lembut paha-
pahanya. Juga jari-jariku mulai
menyentuhi bibir vaginanya.
Syahwat birahi Warni menanjak
tajam tanpa 'shock'. Dia tetap
menjadi menguasai diri. Sesekali
dengus desah dan rintihnya
mengiba-iba. Aku yakin dia
minta aku puaskan. Yaa.. Aku
akan ke sana.
Lumatan bibir dan jilatan
lidahku meluncur turun lagi.
Aku menemukan rambut-
rambut halus di seputar
kemaluan Warni. Sangat nikmat
menciumi gundukkan kemaluan
sementara dagu atau pipi
menyentuhi rambut itu.
Kemaluan Warni sungguh
mempesona. Sebuah bukit kecil
merah ranum, ditengahnya ada
belahan lembut dan lereng
kecilnya. Dan lebih ke bawah
lagi aku menemukan gelambir
klitoris yang bak sayap kupu-
kupu.
Merah bening mewarnai
sepasang klitoris itu. Dan yang
langsung menyergap aku
adalah aroma pedesaannya.
Kemaluan Warni sungguh wangi
seperti akar pandan. Bibirkku
langsung melumat tepiannya.
Dan seketika pula rambutku
terjamah tangan-tangan Warni
yang meremasinya. Dia
menahan gelegak syahwatnya.
Serasa dia hendak mencabik
rambutku dari kulit kepalaku.
Rasa pedih menjadi penyedap
birahiku dalam menjilat dan
melumat-lumat vagina Warni.
Sungguh dialah anak perawan
desa. Dan ketika klitorisnya
aku emut dan kenyot tak ayal
pula dia berteriak nyaring,
"Aampuunn.. Mbak Marinii..
Jangann.. Hah.. Hahh.. Hahh..
Aammppuunn.." dia benar-benar
gelagapan.
Oleh karenanya aku perlu diam
sesaat. Aku kembali mengelusi
pahanya pelan agar dia tenang
lagi.
"Mbaakk.. Enak bangett.. Tetapi
saya nggak kuat rasanyaa.."
Namun sambil mengucapkan
'nggak kuat rasanya' Warni
merebahkan diri kembali
dengan membiarkan memeknya
berada di depan bibirku. Aku
maknai bahwa dia ingin aku
meneruskan apa yang telah
aku mulai. Kini tanpa ragu aku
langsung mencium kemudian
melumati vaginanya. Desah dan
rintihnya bertubi namun
kuacuhkan. Lidahku sudah
menyeruak jauh ke lubang
vaginanya. Aku rasa cairan
birahi Warni telah mengalir
deras sejak awal tadi. Aku
sepertinya menyedot kelapa
muda. Cairan birahinya
kuteguk-teguk dan kurasai
asin kentalnya. Aku tak bosan
melumati memek dengan wangi
akar pandan ini.
Warni bergelinjangan. Dia
mengangkat-angkat pantatnya.
Rasanya dia berharap aku
menusukkan lidahku lebih dalam
lagi. Inilah bentuk kegatalan
yang paling puncak. Yang
kulakukan kemudian adalah
menyedotnya kuat-kuat.
Gelambir klitorisnya ku kenyot-
kenyot dan menggigitnya kecil.
Kini aku gelisah, syahwatku
demikian mendesaki wilayah
vaginaku. Serasa pengin
kencing. Keringatkupun mulai
turun mengucur. Tubuhku
memanas terbakar gelora
birahiku sendiori. Aku
merasakan kegatalan tak
terhingga pada dinding
vaginaku. Aku ingin menggaruk.
Dengan apa?
Sementara Warni tengah
mendaki puncak syahwatnya.
Pantatnya naik turun dengan
semakin tak terkendali. Gatal
vaginanya untuk menjemputi
lumatan bibir dan jilatan
lidahku. Aku rasa beberapa
detik ke depan dia akan
histeris menyambut
orgasmenya. Aku cepat
bergeser menindih kedua
tungkai kakinya. Aku pepetkan
selangkanganku tepat ke salah
satu lututnya. Aku menggesek-
gesekkan vaginaku ke lutut
Warni untuk menyalurkan
kegatalan vaginaku. Warni abai.
Dia hanya berurusan dengan
orgasmenya yang semakin
mendekat. Dan..
"Hoocchh.. Hhoocchh.. Hhaacchh..
Hhoocchh.. Mbak Marinii..
Ampuunn.. Mbakk.. Mbaakk.."
Dia peluk aku dengan
tangannya yang juga
mencakar. Barut-barut
langsung menandai punggungku.
Rasa pedih langsung kurasakan.
Namun rasa pedih itu
berbarengan pula dengan
nikmat yang melanda aku..
Ahh.. Bisa jugaa akhirnyaa.. Aku
dan Warni meraih orgasme
secara bersama. Namun aku
tak langsung berhenti. Aku
masih menggeseh-gesekkan
kemaluanku pada lutut Warni.
Sementara puncratan cairan
birahi Warni terus menderas
keluar dari memeknya. Aku
menampung dalam penuh
mulutku. Aku meminumnya. Aku
menelan rasa asinnya. Sungguh
cairan perawan ini sewangi
akar pandan dan mengingatkan
pada legit air kelapa muda. Dd..
Duhh.. Duhh.. Warnikuu..
Demikianlah aku menikmati
perawan Warni. Malam itu dia
menjadi kekasihku sepenuhnya.
Kami menjadi sepasang kekasih
yang saling menikmati madu.
Rasanya tak kenal waktu.
Menjelang subuh baru kami
terlena.
Pelampiasan syahwat sesama
perempuan antara aku dan
Warni berlangsung hingga Bu
Mitro balik. Selama 5 hari tak
ada waktu untuk yang lain.
Kami saling memanjakan,
memberi dan menerima dengan
segala kepuasan syawati. Aku
sangat menyayanginya dan
sebaliknya Warni menyayangi
aku.
Memang yang terbaik kemudian
adalah mengakhirinya. Warni
balik mesti bekerja untuk Bu
Mitro dan aku kembali melayani
Mas Aditya suamiku.
Tak kusangkal, pada waktu-
waktu tertentu apabila ada
kesempatan aku dan Warni
kembali berasyik masyuk.
Bogor, Oktober 2004
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net