ramon84.net
CERITA MAKCIAT
Fantasi Gila

INTRO: Aku seorang pria 34 tahun
penganut SADOMASOCHIS, yang
selalu mengangankan
pengalaman diikat, disiksa,
diperolokan, dipermainkan,
Cross-Dressing, dan
sebagainya. Serta berharap
pada suatu ketika kelak dapat
mewujudkannya dalam
kenyataan. Bagi pembaca yang
ingin berkomentar/membantuku
mewujudkannya dalam dunia
nyata dapat menghubungiku
melalui kontak email. Fantasiku
antara lain sebagaimana yang
akan kuceritakan berikut ini,
maka selamat menikmati!
"Nah, sekarang permainan kita
mulai. Lepaskan seluruh
pakaianmu!" perintah wanita
cantik bergaun kulit warna
hitam tersebut. Dia tampak
begitu perkasa. Jantungku
berdebar membayangkan
kenikmatan yang segera akan
kurasakan. Kulepaskan baju
dan celanaku. Batang
kemaluanku mulai menegang.
"Semuanya!" hardiknya ketika
melihatku masih menyisakan
celana dalam yang kukenakan.
Debaran jantungku kian
kencang. Kini tampillah aku apa
adanya, bagaikan bayi dewasa,
bugil sama-sekali, sementara
itu si "kecil" sudah benar-
benar tegang, dan dia tertawa
melihatnya. "Ha, ha, ha.. sudah
enggak sabar, ya? Aku
tertunduk malu.
Sesuai kontrak dan skenario
yang telah disepakati, aku
akan melayani segala
kebutuhannya sepanjang malam
ini
hingga pagi nanti. Aku akan
menjalankan segala
perintahnya tanpa perdebatan.
Dia memiliki diriku seutuhnya.
Dia berhak melakukan apapun
terhadap diriku, dan aku
kehilangan hak sama sekali
terhadap diriku. Aku tidak
akan melakukan apapun
berkaitan dengan tubuhku
tanpa perintahnya.
Pengendalian terhadap diriku
sepenuhnya berada di
tangannya. Diriku tidak lebih
sekedar benda-benda milik
pribadinya yang dapat dia
perlakukan sesukanya.
"Baguuss..! Sekarang kamu
menjadi budak saya, benar?"
tegasnya.
Aku mengangguk.
"Benar
tidak?" hardiknya
memastikan.
"I,
i, iya.." jawabku terbata-
bata.
Walaupun
keadaan ini memang
kudambakan, namun tetap saja
ketegangan mencekam hatiku,
menduga-duga segala
kemungkinan yang akan
menimpaku; sungguh
mendebarkan.
"Iya apa?" bentaknya.
"I..
Iya Nyonya!" sahutku
segera.
"Kamu siapa?"
"Sa-saya budakmu, Nyonya."
"Sayyaa..?" tanyanya sinis.
"Ham, Hamba,
Nyonya!" sahutku
dengan perasaan menyesal.
"Bagus..!"
Senyum kemenangan
membayang di wajahnya.
"Apa
yang akan kamu
kerjakan?"
"Apa
saja, asal dapat
menyenangkan Nyonya."
"Hmm.., bagaimana?" Senyumnya
menggoda.
"Terserah
Nyonya. Perintahkan
apa saja, pasti akan hamba
kerjakan."
"Ha, ha, ha, ha, ha.. Baiklah.."
Berhenti
sejenak, lalu
lanjutnya, "Kita mulai dengan
perlengkapanmu dulu. Ambil peti
itu!"
perintahnya sambil
menunjuk ke sebuah peti yang
terdapat di sudut ruangan.
Aku segera melangkah dan
mengangkatnya ke hadapan
wanita itu. Dia menyuruh aku
membuka dan mengeluarkan
seluruh isinya. Dari dalam kotak
itu
aku mengeluarkan
beberapa gulung tali-temali,
rantai, borgol, kekang leher,
penjepit jemuran, lakban,
cambuk, dan sebagainya. Degup
jantungku serasa menghentak-
hentak membayangkan
kenikmatan yang segera akan
dihadiahkannya.
Disuruhnya aku telungkup. Lalu
dilipatnya kaki kananku.
Dengan seutas tali diikatnya
pergelangan kakiku menyatu
ke pangkal paha; begitu juga
dengan kaki kiriku. Ikatan ini
begitu ketat, sehingga tidak
memberikan ruang gerak
sedikitpun antara pergelangan
dan paha, benar-benar
menyatu rapat. Kemudian dia
meyuruhku duduk, lalu
merapatkan jari-jari tanganku
untuk kemudian dibelit dengan
lakban, sehingga telapak
tanganku tak dapat
dimekarkan. Diambilnya kekang
leher yang terbuat dari kulit
dan dibelitkan ke leherku.
Masih belum puas, dipungutnya
2 jepitan jemuran yang
terangkai menjadi satu oleh
seutas rantai.
"Aduh!" jeritku ketika jepitan
pertama menjepit dada kiriku,
persis di bagian pentilnya yang
sangat kecil. Kengerian
bercampur nikmat tergambar
di wajahku saat dia mulai
mengarahkan penjepit kedua
ke dada kananku. "Aduuhh..
akkhh.. hh..!" erangku, sakit
tapi nikmat. Dia menyeringai
puas melihat penderitaanku.
Beberapa saat
dipermainkannya rantai
penghubung kedua jepitan
tersebut; ditarik-dilepaskan;
yang tentu saja tambah
menyakitkan dadaku.
Kukatupkan erat kedua
rahangku menahankan rasa
perih yang kian menusuk,
mengimbanginya dengan
semakin memusatkan pikiran
pada sensasi kenikmatan yang
menyertai. Seringainya makin
lebar, kedua matanya tampak
berbinar-binar. Sesekali
disorongkannya wajahnya dan
menjulurkan lidah menggesek
dadaku di sekitar alat penjepit
itu.
"Ahh.. nikmatnya!" pikirku.
Tak lama kemudian rasa perih
mulai mereda, tampaknya
tubuhku telah mulai dapat
menyesuaikan diri dengan
kondisi ini. Kemudian dengan
sebelah tangan digenggamnya
batang kemaluanku yang telah
tegang sejak tadi dan perlahan
dikocoknya.
Ujungnya sudah
mulai basah. Diusap, lalu dia
mengarahkan tangannya ke
wajahku. Aku segera
menyambutnya dengan
membuka mulut dalam posisi
siap untuk mengemutnya.
Namun dia hanya
mengoleskannya saja ke
bibirku. Bibirku terasa lengket.
Diusapnya lagi ujung
kemaluanku, dan kembali
membawanya ke mulutku. Kali
ini tanpa buang-buang waktu
segera saja kuterkam
telunjuknya dan mengemutinya
dengan penuh nafsu; menikmati
cairanku sendiri.
"Ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha..!
Aduuh, enggak sabar, ya?
Enaknya, produksi sendiri,
lagi?" Aku mengangguk
berulang-ulang. Tawa
cemoohannya menderai. Kembali
dia mengambil cairan itu dan
ketika aku kembali menerkam,
dia menarik tangannya.
"Jangan!" bentaknya melarang.
Aku segera menghentikan
gerakan dan menatapnya
dengan agak kecewa. "Tidak
boleh diemut, jilat seperti
makan es krim!" tegasnya. Aku
menuruti, dan dia kembali
tertawa-tawa.
Setelah itu dia melangkah ke
arah ranjang, dan duduk di
pinggirnya. "Bawa kemari
cambuk itu!" sambil menunjuk
rantai yang tergeletak di
samping peti di dekatku. Aku
diam, tak mengerti. "Ambil
dengan mulutmu, lalu bawa
kemari!" Kurendahkan wajahku
dan mengarahkan mulut
memungut cambuk kulit yang
dia maksudkan. Lalu aku
merangkak mendekati ranjang.
Dia diam saja. Kusorongkan
mukaku mendekati telapak
tangan kanannya. Dia
tersenyum dan membuka
telapak tangannya. Kulepaskan
jepitan bibirku, sehingga
cambuk tersebut bergulir ke
telapak tangannya.
"Pintar sekali, rupanya kamu
cepat mengerti. Melihat caramu
kemari tadi, aku teringat pada
sesuatu, kamu tahu, kan?" Aku
agak ragu dengan maksud
ucapannya.
"Itu
loh.. yang jalannya seperti
kamu tadi ituu.. Kalau enggak
salah seekor binatang, apa
yaa..?" Jantungku kembali
berdebar.
Aku
paham benar, dia sedang
mengolok-olokku.
"Hei,
apa namanya, jawab!"
bentaknya.
"Aaa..
ann.. anjing, Nyonya."
jawabku terbata-bata sambil
menundukkan kepala.
"Ohh
iyaa.. benar juga, anjing
yaa?" tegasnya.
Senyumnya
terasa
menyakitkan.
"Jadi
yang begitu itu namanya
anjing, ya?"
"Benar, nyonya."
"Kalau begitu kamu siapa?"
Jantungku kian berdebar.
Begitu hinakah diriku? Perih
sekali hati ini. Aku hanya
menunduk tak mampu
menjawabnya. Tiba-tiba TAR!
Lecutan cambuk mendera
badanku,
"Jawab!" TAR! TAR!
"Am..
ampun, Nyonya!" aku
mengangkat tangan berusaha
mencegahnya, tapi dia malah
semakin kalap, TAR!
"Kamu siapa, jawab!" TAR!
"Aaa..
anjing, Nyonya! Anjiing!"
jawabku.
"Apa!"
"Anjing, Nyonya?"
"Siapa?"
Bentakannya kian
tinggi.
"Hamba, Nyonya."
TAR!
"Jawab
yang lengkap! Siapa
yang anjing?"
"Hamba,
Nyonyaa.. hambaa.."
jawabku memelas.
"Hamba yang anjing."
"Coba
ulangi!" nadanya
mengancam.
"Hamba anjing."
"Lagi!"
makin tinggi nada
suaranya.
"Hamba
anjing, hamba anjing,
hamba anjing, hamba anjing,
hamba.." jawabku berulang-
ulang tanpa berani berhenti
sebab tangannya sudah
terlihat hendak kembali
mengayunkan cambuk itu.
"Baguuss, itu baru pintar
namanya! Tapi anjing kok bisa
ngomong, ya? Kayaknya anjing
enggak bisa ngomong, deh,
benar enggak!" Aku
kebingungan.
"Anjing bisa ngomong,
enggak?"
ulangnya.
"Eng..
enggak, Nyonya!"
sahutku.
"Lho, kok ngomong lagi?"
Aku
makin bingung, ditanya
tapi disalahkan ketika
menjawabnya.
"Anjing bisa ngomong enggak?"
Aku
menggeleng. TAR!
Cambuknya turut bicara.
"Heh, kamu anjing bisu, ya?"
"Enggak, Nyonya, enggaak..!"
"Kamu ini bodoh sekali sih?"
TAR! TAR!
Aku menggeliat-geliat
menahan sakit.
"Kalau
kamu anjing, ya pakai
bahasa anjing, dong?"
"Oh begitu maksudnya," pikirku.
Dengan
ragu-ragu aku
mencoba menyahutinya,
"Guk.. guk.. guuk..!"
"Ha, ha, ha, ha.. pintar!"
pujinya.
"Mulai
sekarang kamu
menggonggong satu kali untuk
iya dan dua kali untuk tidak,
mengerti?"
"Menger.."
jawabanku
terpotong melihat gerakan
tangannya yang kembali akan
mengayunkan cambuk.
"Eh,
maaf, eh.. guk! guk!"
sahutku gelagapan.
"Bagus!
Kamu harus menuruti
segala perintah dan menjawab
seluruh pertanyaanku,
mengerti?"
"Guk!"
"Nah, sekarang kembali ke
sana, dan ambilkan rantai itu!"
Aku kembali merangkak ke
arah peti, memungut seutas
rantai dengan mulut dan
kembali ke ranjang. "Kamu
memang anjing pintar, pantas
untuk dipelihara!" katanya
sambil menerima rantai yang
kusorongkan padanya dengan
mulutku. Pada salah satu ujung
rantai tersebut sudah
terpasang kaitan, yang
kemudian dia kaitkan pada ring
yang terdapat di kekang
leherku. "Makanya kamu harus
dipasangi rantai supaya tidak
ngabur, benar?"
"Guk!"
"Kamu senang, budak?"
"Guk!"
"Bagus..!" katanya sambil
mengelus-elus kepalaku.
Tiba-tiba dia tangannya
menekan ranjang hingga
pantatnya sedikit terangkat
dan lalu memerintahkanku
melepaskan roknya dengan
mulut. Aku menurut. Perlu
perjuangan yang melelahkan
untuk melakukannya. Selesai
dengan rok, tiba giliran celana
dalamnya. Dengan susah payah
akhirnya aku berhasil juga
melepaskannya. "Kemarikan!"
Dia meminta celana dalamnya.
Dengan mulut kupungut celana
dalamnya dari lantai dan
memberikannya pada Nyonyaku.
Dia menerimanya sambil
tersenyum dan lalu
memasangkannya ke kepalaku
bagaikan topeng. Bau pengap
bercampur aroma kewanitaan
segera menerobos
penciumanku. Si kecil kian
mengeras. Hasratku kian
bergelora dirangsang oleh
aroma celana dalamnya ini.
Ditariknya rantai di leherku,
sehingga kepalaku mendekati
selengkangannya yang telah
dia rentangkan lebar. Aku
mengerti, dan mulai menjilati
liang kemaluannya.
Dicondongkannya badannya ke
belakang. Tak lama kemudian
dia mulai menggelinjang
kenikmatan. Sesekali terdengar
desahannya, "Ahh.. aah.. aahh..
teruuss.. teruus.. aahh.. hh,
teruuss.. ahh.." Dirundukkannya
badannya, dan menarik rantai
sehingga kepalaku mendongak
ke atas. Sekarang ganti puting
susunya yang kuhisap-hisap.
Sesekali kuelus-elus puting itu
dengan lidahku. Desahannya
makin menjadi-jadi. Akhirnya
dia tak tahan lagi. Direbahkan
dan diperosotkannya badannya
ke lantai dan menyuruhku
segera menancapkan batang
kemaluanku pada liangnya.
"Hah, hah, hah, hah, hah, hah.."
Napasnya tersenggal-senggal.
Tubuhnya bergetar keras,
makin keras, napasnya semakin
cepat, dan, "Ahh.. hhk..!" dia
melenguh panjang setelah
mencapai orgasme. Dia
terbaring kelelahan beberapa
saat, sementara aku tetap
saja dalam posisi merangkak
gaya anjing. Tak lama kemudian
dia bangkit melepaskan celana
dalamnya dari wajahku,
mengusapkan pada
kemaluannya, kemudian
menggulungnya menjadi bola
dan dimasukkan ke dalam
mulutku. Rasa dingin dan aneh
menyentuh lidahku. Dia
beranjak ke lemari pakaian
mengambil celana dalam
pengganti dan memakainya.
Lalu dipakainya kembali rok
kulit ketat yang dikenakannya
semula, kemudian melangkah ke
arah peti dan mengambil
lakban. Setelah itu dia kembali
menghampiriku dan
membelitkan lakban itu
disekeliling kepala untuk
mencegahku mengeluarkan
celana dalamnya. Diambilnya
seutas tali dan diikatkan pada
batang kemaluanku. Tali itu
melilit mulai dari pangkal
batang terus hingga bagian
kepalanya. Lalu rantai yang
semula terhubung pada kekang
leherku dilepaskan dan
dipindahkan mengait tali pada
bagian ujung kemaluanku. Ujung
rantai yang sebelah dibelitkan
pada pergelangan kaki kirinya.
"Saatnya untuk jalan-jalan!"
katanya sambil mulai beranjak.
Batanganku tertarik mengikuti
ayunan langkahnya. Kini,
kemanapun dia melangkah aku
terpaksa merangkak
mengikutinya. Sesekali langkah
kaki kanannya agak dilebarkan
sehingga menyentakkan batang
kemaluanku, menimbulkan rasa
ngilu, tapi aku menikmati
semua itu. Semakin tak
berdayanya diriku, semakin
berbinar kenikmatan yang
kurasakan. Aku harus gesit
menuruti langkahnya, sebab
jika tidak maka kemaluanku
rasanya akan copot, belum lagi
deraan cambuk yang
dilecutkannya ke punggungku
setiap kali aku agak tertinggal.
Tiba di dekat peti diambilnya
segulung tali dan dimasukkan
ke dalam saku roknya. Setelah
berjalan-jalan mengelilingi
ruangan beberapa kali, dia
membuka pintu kamar menuju
ke dapur. Diambilnya sebuah
gelas dan sebotol air es dari
kulkas, dan toples makanan
kecil, lalu meninggalkan dapur
menuju ke ruang tengah. Aku
terus merangkak mengikuti
setiap langkahnya.
Tiba di ruang tengah dia
mengisi gelasnya, dan minum
beberapa teguk, lalu gelas dan
botol itu diletakkan di atas
meja dekat kursi malas.
Setelah menyalakan TV, dia
duduk di kursi malas itu,
mengayun-ayunkan diri,
sementara aku bersimpuh di
lantai di hadapannya dengan
kedua tangan diluruskan
sebagaimana seharusnya;
beginilah aku, beginilah
biasanya seekor anjing duduk
menunggui tuannya. Aku telah
diperintahkan untuk
mengarahkan pandangan hanya
menatap ujung jari kakinya.
Dan aku menaatinya dengan
penuh kepatuhan.
Sesaat kemudian dia
menyentakkan kaki kanannya
ke belakangnya, sehingga
kemaluanku tersentak. Aku
mengangkat muka untuk
mengetahui maksud
sentakannya, namun lecutan
cambuknya membuatku
teringat dan kembali
menundukkan muka. Ditariknya
kakinya ke belakang, sehingga
aku bangkit dari duduk dan
merangkak maju mendekati
kakinya. Dia membungkuk
melepaskan lakban yang
membelit wajahku dan
mengeluarkan sumpalan celana
dalamnya dari mulutku. Setelah
itu dilonjorkannya kaki kirinya
ke arah wajahku. Aku paham,
dan mulai menjilati ujung-ujung
jari kakiya. Setelah semua jari
selesai kujilati, didongakkannya
pergelangan kakinya, dan aku
melanjutkan menjilati telapak
kakinya. Dia menyenderkan
tubuhnya berayun-ayun di
kursi malas sambil menonton
TV, minum, mengunyah
cemilannya sambil menikmati
pencucian kaki yang sedang
kukerjakan. Semua ini begitu
menggairahkan bagiku. Dengan
penuh kesungguhan kujilati
setiap jengkal kakinya, terus
ke punggung kaki hingga mata
kaki. Selesai dengan kaki kiri,
dia berganti menyodorkan kaki
kanannya. Kuberikan pelayanan
yang serupa. Setiap kali lidahku
terasa mengering, kudecak-
decakkan mulut untuk
mengeluarkan air liur, lalu
kembali menjilati kakinya.
"Sudah bersih?" tanyanya
beberapa saat kemudian.
"Guk!" jawabku mengiyakan.
"Pintaar.. kamu haus, ya?" Aku
tak menjawab.
"Kamu haus, kan?" nadanya
mulai mengancam.
"Guk!" jawabku sambil
bertanya-tanya dalam hati,
"Apa lagi, sekarang?"
Dia mengambil botol air dari
atas meja, dan menuangkan ke
punggung telapak kakinya dan
berkata, "Minum!" Aku menjilati
aliran air dingin di kakinya. Dia
tersenyum senang dan kembali
menuangkan air, agak banyak
hingga mengalir ke lantai dan
aku memburu aliran air itu
menjilati lantai.
"Ha, ha, ha, ha.. cocok sekali!
Kamu memang benar-benar
anjing, koq!" ejeknya.
"Guk!"
"Enak, kan?"
"Guk!"
"Bagus, gonggong terus sambil
jilat!" ujarnya sambil
menuangkan kembali botol air
itu ke lantai.
"Guk.. Guk.. Guk.. Guk! Guk!"
sahutku sambil terus menjilati
lantai.
Diambilnya cemilan dan
diremasnya hingga hancur
kemudian diburaikan ke lantai.
Aku pun meraih serpihan-
serpihan itu dengan lidahku
dan memasukkannya ke mulut.
Dia terus tertawa-tawa
kesenangan dan aku kian
menikmati penghambaanku.
Akhirnya setelah air di dalam
botol terbuang habis,
begitupun cemilannya, dia
bangkit menuju pintu belakang.
Aku terus merangkak
mengikutinya. Dibukanya pintu,
dinginnya angin malam segera
menyapu tubuhku yang
telanjang. Kemudian dia
menyalakan lampu, dan
tampaklah sebuah taman
terbuka yang rimbun dibatasi
dengan tembok tinggi. Dia
menunjuk ke tengah taman.
Aku mengarahkan pandangan
ke tempat yang ditunjuknya.
Ternyata di sana terdapat
sebuah kandang besi
berukuran 50 cm X 40 cm dan
tinggi sekitar 50 cm. Jantungku
berdegup keras, "Oh jangan,
jangan di luar, jangan di
kandang itu.." ratapku dalam
hati sambil menduga-duga. Dia
melangkahkan kaki menuju
kandang, dan bagaikan
mengerti pikiran yang terlintas
di benakku, dia berkata,
"Benar sekali! Sebagai imbalan
atas sikap baikmu malam ini,
Nyonyamu menghadiahkan
sebuah rumah baru untukmu!
Ha, ha, ha.."
"Ayo, nikmati rumah barumu
ini," lanjutnya sambil terus
mendekati kandang.
"Coba lihat, ukurannya pas
'kan? Kamu pasti senang,
benar kan?"
"Guk!" sahutku tidak yakin.
"Setiap anjing punya kandang,
kan?"
"Guk! ..Guk, Guk!"
Entah bagaimana perasaanku
saat ini. Rasa terhina tentu
saja ada, namun terselip suatu
bentuk kegairahan yang
mendebarkan. Aku langsung
membayangkan betapa
setidaknya untuk malam ini aku
harus meringkuk di dalamnya
hingga pagi, kuatkah, aku?
Membandingkan ukuran
kandang itu dengan tubuhnya,
sudah pasti aku tidak akan
dapat meluruskan tubuh.
Kuatkah aku menahan rasa
pegal yang sudah kurasakan
sejak tadi hingga esok pagi
nanti? Tapi, oh betapa aku
belum pernah mengalaminya.
Sepertinya asyik juga. Kutatap
kemaluanku yang tetap
tegang, bahkan kian keras.
Jika saja tidak ada tali yang
mengekangnya, mungkin sudah
sejak tadi aku menyemprotkan
sperma. Mendapatkan betapa
tegangnya batang itu, aku
menjadi tambah yakin bahwa
ini akan terasa nikmat. Ohh..
betapa aku sangat ingin
merasakan menghabiskan
malam di dalam kandang di luar
rumah, sebagaimana
seharusnya seekor anjing
sesuai dengan peranku malam
ini.
Sesampainya di depan kandang,
dilepaskannya jepitan jemuran
yang telah sejak tadi menjepit
pentil dadaku. Betapa sakitnya
terasa ketika darah mulai
mengaliri daerah yang terjepit
tadi. Kemudian dia merogoh
saku dan mengeluarkan
gulungan tali yang
dikantonginya sejak tadi.
Dibuatnya simpul mati pada
pergelangan tangan kananku,
lalu melipat sikuku ke arah
atas sehingga aku bagaikan
sedang berusaha meraih
pundak. Kemudian tali tadi
dibelitkan pula pada pangkal
lengan sehingga tanganku
tertahan dalam posisi demikian.
Lalu ujung tali tersebut dia
alirkan melalui ring yang
terdapat di bagian belakang
kekang leherku menuju ke
bahu kiri dan melakukan ikatan
yang sama dengan lengan
kananku tadi. Kini aku
merangkak dengan agak
menungging, karena bagian
tangan yang menyentuh tanah
adalah siku, tidak telapak
tangan seperti semula.
Setelah semua beres, sambil
tertawa dibukanya pintu
kandang, "Ha, ha, ha.. Ayo
masuk, jangan malu-malu-malu!"
perintahnya sambil menendang
pinggulku. Aku terdorong
memasuki kandang. Dengan
agak ragu kuteruskan
merangkak hingga seluruh
tubuhku berada di dalam
kandang. Dijulurkannya
tangannya ke dalam kandang
memungut rantai yang
terhubung ke kemaluanku, lalu
melemparkannya ke arah dalam
melalui bawah perutku. Setelah
itu dia menutup pintu kandang,
dan mengunci gemboknya.
Ternyata ukuran kandang itu
pas benar, sehingga aku tidak
dapat menggerakkan badan
untuk maju, mundur, atau
merenggangkan badan. Lalu dia
berputar ke ujung kandang di
bagian depanku. Dirogohkannya
tangan memungut ujung rantai
yang dilemparkannya tadi dan
membelitkannya pada jeruji
kandang di hadapanku.
Ditariknya rantai tersebut
hingga terentang agak tegang,
dan kemudian mengaitkan
gembok menguncinya.
"Selamat menikmati rumah
baru, ha, ha, ha! Tidur yang
nyenyak, ya? Kamu harus
memulihkan tenaga untuk
permainan besok, ha, ha, ha!"
katanya sambil melangkah
pergi meninggalkan kandang,
kembali ke dalam rumah.
Terdengar langkahnya kian
menjauh dan diakhiri dengan
derit pintu belakang yang
ditutupnya.
Tinggallah kini aku sendirian di
keheningan malam. Meringkuk
telanjang bulat di dalam
kandang anjing di luar rumah,
di halaman belakang. Dinginnya
embun malam menusuk kulit
hingga ke tulang. Aku
merenung membayangkan apa
yang akan terjadi besok. Tapi
renunganku kerap terganggu
oleh dengingan nyamuk
ditelinga, maupun rasa perih
akibat gigitannya. Aku
berusaha menghindar dengan
menggerak-gerakkan badan,
namun hal ini membuat
kemaluanku tersentak-sentak,
sementara tanganku tak
mampu bergerak. Akhirnya aku
pasrah saja terhadap setiap
serangan nyamuk-nyamuk
keparat itu. Rasa pegal dan
kesemutan menjalari setiap
seluk tubuhku. Aku terus
membayangkan peran-peran
apa lagi yang akan kumainkan
di hari-hari berikutnya?
Siksaan apa? Hinaan apa? "Ah..
nikmatnya..!" lamunku. Fantasiku
mengembara makin jauh,
hingga akhirnya tanpa sadar
aku pun terlelap dalam
ketakberdayaan yang nikmat
ini.
« index cerita
« ramon84.net
(c) 2012 ramon84.net
Curup - Bengkulu
ramon84.net